Jumat, 25 Januari 2008

Resensi Buku Good Busines KOMPAS Minggu, 20 Januari 2008

Resensi Buku KOMPAS Minggu, 20 Januari 2008
Spirit Adiluhung Kampiun Bisnis
Judul buku: Good Business: Bisnis Sebagai Jalan Kebahagiaan
Judul asli: Good Business: Leadership, Flow, and the Making of Meaning
Penulis: Mihaly Csikszentmihalyi
Penerjemah: Helmi Mustofa
Penerbit: Mizan- Bandung, 2007Tebal: ix + 375 halaman

Inilah aforisma Ludwig Wittgenstein, filsuf Jerman, "Jika yang engkaumiliki hanyalah palu maka segalanya akan tampak seperti paku." Jikaparadigma bisnis mengejar keuntungan melulu maka segala sesuatunyadijalankan demi memuaskan kerakusan para pemegang sahamnya semata. Bisnismemang telah meningkatkan kualitas hidup manusia. Institusi inimenciptakan kemajuan di bidang teknologi, pendidikan, komunikasi dankesehatan. Kendati demikian entitas pembawa kemakmuran dan kesejahteraanmaterial itu juga menimbulkan persoalan-persoalan serius.Wabah perselingkuhan kekuasaan dengan pemilik modal yang membalak hutansecara liar di seantero Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papuamerupakan paradoks bisnis yang harus ditebus demi membayar kemajuan.Pemanasan global penyebab curah hujan sangat tinggi, banjir bandang,puting beliung, bukit longsor, dan gelombang pasang air laut makinmenjadikan Indonesia negeri yang tak putus dirundung bencana alam.Bencana alam mempertontonkan betapa budaya kapitalis dan praktik bisnisyang beroperasi di dalamnya didera komplikasi akut. Bisnis yang mengejarkeuntungan demi keuntungan itu sendiri (the pursuit of profit for its ownsake ) dengan menempatkan konsumsi sebagai tujuan tertinggi tidakvisioner. Bisnis global adalah monster yang sedang mengganyang dirisendiri. Monster itu menghancurkan sumber daya alam, mengabaikan generasimendatang, menyebabkan kakalutan masal, melahirkan kepemimpinan egoistik,menyulut kerusuhan dan terorisme.Bisnis terlalu berkiblat pada para predator sosial semacam Genghis Khan,Attila Hun, dan Niccolo Machiavelli. Kebanyakan buku bisnis mendidik kaumprofesional menjalani hidup dengan mengikuti kompas moral yang tidakakurat. Nah, buku Good Business merupakan publikasi penelitian perihalpara pemimpin bisnis yang memadukan prestasi tinggi dengan perilakuterbimbing visi dan nilai (vision and values led). Para pemimpin pengabdi( servant leaders) yang ikut bertanggung jawab atas kelangsungan duniatempat mereka meraih keberhasilan. Proyek peneiltian ini dipimpin MihalyCsikzentmihaly, guru besar psikologi Universitas Chicago, AS, penemukonsep flow (perasaan mengalir dan bahagia).39 Kampiun bisnis yang dirujuk pada buku ini adalah para pemimpinvisioner. Mereka adalah para "kesatria" atau "master" yang menciptakanbudaya baru perusahaan dan mempraktikkannya di lingkungan korporasimereka. Sektor bisnis yang dijadikan sampel: piranti lunak dan keraskomputer, manufaktur, ritel, bioteknologi, hiburan, real estate, modalventura, konsultasi manajemen, industri minyak, aerospace, pertambangan,restoran wara laba, investasi finansial, pendidikan, desain produk, jasa,dan transportasi.Para pemimpin bisnis, menurut Mihaly Csikzentmihaly, merupakan segmenmasyarakat paling berpengaruh. Segmen tersebut tidak hanya mengendalikanarus segala sumber daya, dari makanan hingga minyak, pun memilikikekuasaan tidak proporsional tentang bagaimana dan oleh siapa negaradijalankan. Kepentingan-kepentingan bisnis mendorong AS mengintervensinegara-negara lain. Perlindungan atas perkebunan pisang di Amerika Latinpun ladang minyak di Kuwait.Para kampiun bisnis dan perusahaan yang mereka representasikan,sebagaimana dilaporkan Mihaly Csikzentmihaly, memiliki komitmen moral dankepedulian kuat. Mereka melengkapi diri dengan dedikasi jangka panjangpada tujuan-tujuan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, orang-orangyang hidup di tengah masyarakat, dan manusia pada umumnya.Yvon Chouinard, pendiri Patagonia pada dekade 60-an merintis pekerjaansebagai pandai besi keliling yang cinta mati pada pegunungan. Ia membuatperlengkapan mendaki gunung, seperti pasak dan gelang, lebih baikdibanding yang dihasilkan perajin lain. Bisnisnya berkembang pesat. Olahraga mendaki makin populer. Dinding batu yang menakjubkan pun dipenuhilubang dan bercak goresan perangkat keras. Chouinard tak mau meruntuhkangunung yang dicintainya. Ia ciptakan cara baru mendaki menggunakanroda-gigi ( gear) yang ditempatkan dan digeser di celah-celah perbukitanagar pegunungan tetap utuh.Chouinard akhirnya mengubah haluan Patagonia dari produsen piranti keraske bisnis garmen demi tidak merusak gunung. Di industri pakaian jadi punperlahan ia menyadari bahwa kapas yang menjadi tumpuan bahan dasarpabriknya menyerap 25 persen pestisida dunia. Diperlukan dua galon residupestisida untuk membuat satu kaus berbahan katun. Chouinard menghadapikrisis hati nurani saat mengunjungi perkebunan salah satu pemasok kapas.Ia tidak lantas menutup pabriknya. Patagonia, kendati meningkatkan beayaproduksi, beralih ke serat organik yang ramah lingkungan. Nike, Gap, danLevi Strauss pun mengikuti langkah Patagonia.Patagonia bermarkas di Ventura, distrik sepi di California. Di lorongmasuk terdapat barisan papan selancar disandarkan para karyawan didinding. Saat ombak besar datang semua karyawan boleh berselancar kapanpunmereka mau. Buku Yvon Chouinard, Let My People Go Surfing, melukiskankebijakan Patagonia yang mengombinasikan kerja dengan rekreasi.Pada permulaan abad ke-20, di kota kecil Columbus, Indianapolis, seorangbankir mendirikan pabrik mesin diesel. Selama dua puluh tahun investasipabrik itu belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Belakangan, kondisimulai meningkat, dan mesin diesel buatan Cummins menghela banyak truk yangmenjelajahi benua Amerika. Bisnis Cummins tidak pernah berjalan mulus.Hampir tiap tahun dihantam krisis baru---meningkatnya produk pesaing,krisis keuangan, embargo minyak, dan standar baru emisi gasbuangan---mengancam kelayakan perusahaan. Keluarga Cummins harus merogohkocek keluarga dalam-dalam, setiap kali pasar meninggalkannya dan membuatrentan diambil alih, guna melindungi otonomi keluarga."Alasan kami tetap menekuni bisnis ini, papar J. Irwin Miller salahseorang anggota generasi ketiga Cummins, karena kami punya kewajibanterhadap masyarakat. Kami bisa saja pindah ke tempat yang punya tenagakerja lebih murah. Namun, apalah artinya mengeruk keuntungan lebih banyakjika Anda harus menelantarkan ribuan orang yang Anda kenal dan menaruhkepercayaan pada Anda." Cummins punya hubungan mesra dengan wargaColumbus. Perakit mesin diesel ini bersedia mengeluarkan biaya konstruksisetiap warga membutuhkan gereja, perpustakaan, sekolah, pos pemadamkebakaran, dan penjara. Perusahaan keluarga ini tidak akan bertahan sampaiumur seratus tahun bila sekedar didorong semangat profit dan ekspansi.Korporasi yang dikaji dalam buku ini, Patagonia, McDonald, The Body Shop,Apple, Microsoft, Lockheed Martin, Cummins, AOL Time Warner, dan Financialinvestment, menjadi mercu suar yang menuntun kapitalisme melepaskanbelenggu keserakahan, kecurangan, dan penipuan. Mihaly Csikzentmihalymenemukan lima karakteristik kepemimpinan bisnis visioner. Pertama,optimisme tanpa batas berdasarkan keterpanggilan mewujudkan kehidupan yanglebih bernilai dan bermakna. Kedua, integritas dalam arti keteguhanmemegang prinsip sebagai dasar untuk percaya dan mempercayai. Ketiga,ambisius yang tekun dalam kesulitan dan tabah mengatasi tantangan.Keempat, rasa ingin tahu dan semangat belajar pantang menyerah. Kelima,empati (bela rasa) mendalam terhadap orang lain.Kusut masai penanganan bencana lumpur Lapindo Brantas yang menenggelamkanmasyarakat Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, karut marut ilegal logging diJambi, dan penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri merupakan presedenburuk bisnis. Bisnis tidak akan berhasil mempertahankan hegemoninya dalamkontrak sosial implisit dengan masyarakat jika terbukti pasar hanyamenjadi sarana bagi sedikit orang mendapatkan keuntungan dan tidak memberikontribusi bagi kebahagiaan banyak orang.Good Businessmerekomendasikan kapitalisme yang memelihara planet bumi, memperbaharuisumber daya alam, menyantuni generasi mendatang sebagai stake holder,berkelanjutan, menyuburkan kepemimpinan visioner, menumbuhkan dedikasi danharapan. Bisnis, satu-satunya institusi, yang memiliki supremasi palingbesar untuk mengubah skenario kapitalisme sebagaimana lazimnya (business-as-usual) menjadi kapitalisme yang mungkin terwujud(business-as-it-could-be). Buku ini mata air inspirasi yang tak bakalkering buat menyelamatkan bangsa Indonesia dari jurang kenestapaan akibatperilaku pemimpin bisnisnya yang sontoloyo dalam menghancurkan lingkungan.****
*J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese de Britto Yogyakarta.

Minggu, 13 Januari 2008

Resensi Buku Jakarta Post, 25 Agustus 2002

Resensi Buku di The Jakarta Post, 25 Agustus, 2002
Soccer and humanitarian aspects
Features - August 25, 2002
J. Sumardianta and Yusup Priyasudiarja, Contributor, Jakarta
Trilogy: 1) Bola di Balik Bulan (Ball Behind the Moon) , xv + 296 pp, 2) Airmata Bola (Tears of Ball), xv + 275 pp, 3) Bola-Bola Nasib (Balls of Fate), xv + 320 pp, Written by Sindhunata, Published by KOMPAS-Jakarta, May 2002
Conrad Kotak, an American anthropologist, notes that football allows all to express feelings, and can unite people from diverse backgrounds in a way that can not be achieved by any other political force. Globalization results in a wider gap between developed and poor countries. On the contrary, football succeeds in spreading professionalism. The World Cup 2002 in Korea and Japan showed that there is no longer any gap between the football skills of Asian or African teams and European teams which have long football traditions. The increasing number of Asian and African players playing in European countries as well as the coaches from Europe who train Asian and African teams plays an important role in spreading the professionalism.
Football is actually a reflection of the daily life of human beings. It is possibly one of the reasons why football has become the most popular sport in the world, touching every corner of human beings and affecting many aspects of life. Sindhunata, the writer of this trilogy, Catatan Sepak Bola, highlights humanitarian features in football.
Bola di Balik Bulan (Balls behind the Moon) covers inspiring and touching stories in football. Take a look at the following data. David Beckham has his daughter name, Brooklyn, printed on his shoe soles. In spite of his fame as a great player, his love of his family is deeper than that of football. Airmata Bola (Tears of Ball) illustrates the tragedy of human beings such as the failures of football players, coaches and teams. Le jour de glorie a passe (the glory days have passed) is probably the right expression to describe the failure of Bayern Munich in the Champions Cup final in 1999 in which Bayern Munich was defeated by Manchester United 2-1 in injury time (112 seconds) after leading 1-0. Bayern Munich's loss of concentration and carelessness in the last minutes led the team to a tragic and sorrowful defeat. Bola-bola Nasib (Balls of Fate) mainly focuses on the misfortunes of football players in which they often have to work beyond their capacity as human beings. They often play too many games in one competition. Besides, football can also mean both glory and misery as experienced by Maradona who was a great player but then plunged into the hell of drug abuses.
The magnificent performance of outstanding players such as Giussepe Meazza (Italy), Santiago Barnebeu (Spain) and Pele (Brazil) used to be associated with heroism values. At present Ronaldo, Christian Viery, Del Piero, Raul Gonzales, Nistellrooy, Michael Owen and Edgar Davids become glamour present-day superstars representing individuals in an individualistic society who are merely money-oriented. Football is already integrated with a capitalistic industry system. For such players football is just a short cut to get rich quickly. The egos of the star players then turns to be a universal problem faced by all football coaches.
In addition, football competitions do not always show fairness in sports. Football teams often seek success by any means (the goals justify the means) such as involving hooligans with their brutish behaviors in order to bother their opponents concentration. The players try hard to merely gain honor and it is essentially contrary to the whole essence and philosophy of sport. Sport is originally intended to boost the spirit of brotherhood.
How do players enhance their professionalism, manage their ego and solve their problems in life? Davor Suker, a very talented striker from Croatia, gave a valuable example. Amid pros and cons, he disagreed with the idea that women or wives should be allowed to join the teams to support their performances in a competition like the World Cup. He scored the most goals in the 1998 World Cup. He proved that his idea was right, indicating that those who could refrain from having sex during the competition could perform better. Beforehand Suker had been the target of criticism for having only scored a few goals for Real Madrid and his love life with Ana Garcia Obregon, a TV moderator, blamed as the main cause. Ana G. Obregon used up the energy of a striker whose job is to score goals, wrote the daily La Vanguardia cynically.
In any feature Sindhunata, the author of the classic novel Anak Bajang Menggiring Angin, always highlights humanitarian aspects. He notes that street children (strassenfussballer), the homeless, slums (favela) and the dwellers of slums (favelado) are the life backgrounds of Brazilian players. In a favelado there is no suicidal feeling. When Brazilians are hungry, in order to survive they try to scrap around for the remaining food on streets or in the markets. Even though Brazilian players have already gained success, they still have the spirit of favelado, a high fighting spirit. They never easily give up on the pitch.
In Brazilian football history, Garrincha was widely known as a player with the favelado mentality. Earning a living as a bird hunter, he lived in a poor favela (Airmata Bola, p. 236). Having played football attractively, he was regarded by many as a Brazilian hero in the Pele era. Garrincha, more respected than Pele, is considered a spark plug of Brazilians and a symbol of their joy, a lergria dopavo (Bola Di Balik Bulan, p.210).
Football also manages to minimize ideological conflicts. Unlike what people had been afraid of, the match between the US and Iran teams in de Coupe du Monde, France 1998 in which Iran won the match, ended up in a touching scene. At the end of the match, the players from both teams, hugged each other, shook hands and exchanged their costumes. Football does not prove Samuel Huntington's thesis on the clash of civilization.
Having been a member of Society of Jesus (SJ) and interested in humanitarian sciences, Sindhunata can produce pieces of writing with high-literary quality. Before being a priest, he was a journalist. Hence he has a sharp analysis which shows his rich knowledge of football. To support the data when writing, he did not only watch football matches himself in various competitions in Europe but also collected and read papers in English, Dutch and German. No wonder, this trilogy is reflective, contemplative and encyclopedic. One of the most interesting characteristics of his writing rests on the fact that football is seen not only from the aspects of sport but also from a humanitarian angle.
According to Sindhunata, a doctoral graduate of Hochschule fur Philosophie, Philosophische Fakultat SJ, Munich, Germany in 1992, football fans are actually fooled by a spectacular event such as the World Cup. Even though the event is entertaining, it actually does not change anything. Argentineans still live under both the poverty circle and political repression as the country is still controlled by the IMF. Indonesian people also remain poor and hopeless under the leadership of the political elite who only think of their vested interests. Football also fails to protect the people from violence as what happens in South America since the people there are already trapped in drug abuses. Football itself needs to be questioned for the reason that it is closely related to exploitation, commercialization and dehumanization.
Sindhunata features have a particular distinction. They provide meaningful, rich factual information that gives readers deep insights. His ideas flow smoothly and he can describe things systematically. This particularity distinguishes him from other football commentators who tend to merely discuss the techniques and tactics in football.

Sejenak Bijak KOMPAS, 30 September 2007

Nemuin khasanah jawa yang bagus banget dari Koran Kompas hari Minggu tanggal (30 September 2007)
"urip iki sejatine sastra gumelar ing jagat. Pinanggiha Gusti ing sembarang kalir, temokno Gusti ing tek kliwer laning obah mosike uripne"
Yang artinya:
"hidup ini sesungguhnya susastra yang terhampar di jagat raya Tuhan bisa ditemukan dlam segala. Temukan Tuhan dalam kehidupan keseharianmu yang berpeluh dan penuh bercak kesulitan"
Yang artinya:
"Life is a real literature which spreads in the whole universe, God can be found anywhere, find him in you/your life which is full of sweat & complicated" By: Y
by J. Sumardianta (Guru SMU) Kolese de Brito Yogyakarta.

Resensi Buku KORAN TEMPO, 28 April 2002

Resensi Buku di KORAN TEMPO, 28 April 2002
Mendidik Anak Bukan dengan Metode Penjinakan
Judul buku: Pedagogi Pengharapan-Menghayati Kembali Pedagogi Kaum Tertindas (Pedagogy of Hope-Reliving Pedagogy of the Oppressed)
Penulis: Paulo Freire
Penerjemah: A. Widyamartaya
Penerbit: Kanisius-Yogyakarta, 2002
Tebal: 328 halaman
Paulo Freire (1921-1997), dalam rangka memperingati 25 tahun terbitnya Pedagogy of the Oppressed, pada 1994, menerbitkan Pedagogy of Hope. Maksudnya untuk menghayati kembali Pedagogy of the Oppressed. Berbeda dengan buku pertamanya, Pedagogy of Hope berisi runutan pengalaman nyata dan hidup yang menjiwai buku pertama. Pengalaman-pengalaman mengesankan itu meliputi peristiwa-peristiwa awal yang memberi inspirasi sebelum Pedagogy of the Oppressed ditulis maupun pengalaman-pengalaman sesudah diterbitkan yang memberi daging pada buku itu. Pedagogy of the Oppressed mula-mula ditujukan buat memberdayakan kaum miskin buta huruf di Recife, kota pelabuhan di pantai Utara Brasil. Tak heran, Freire lebih populer di kalangan lembaga swadaya masyarakat ketimbang di sekolah formal. Freire lebih dikenal sebagai andragog (pendamping kaum dewasa) lewat popular education ketimbang pedagog (pendidik generasi muda). Pedagogi freirean identik dengan metode hadap masalah, bukan pendidikan konvensional gaya bank, perlawanan atas budaya bisu, menentang domestikasi (penjinakan), metode dialogal atau pengajaran non-indoktrinatif, penyadaran, dan pengharapan. Conscientizacao (konsientisasi) digunakan Freire untuk mendiskripsikan proses perkembangan individu yang berubah dari kesadaran magis dan naif menuju kesadaran kritis. Hakekat pendidikan, bagi pemikir dari Brasil dan pelopor paradigma pendidikan keadilan sosial dengan pendekatan pemberdayaan manusia itu memang penumbuhan kesadaran kritis ---bukan kesadaran magis dan kesadaran naif. Kesadaran magis tidak mampu menemukan kaitan antara kemiskinan dengan struktur sosial, ekonomi, dan budaya yang mengondisikan kaum miskin nestapa. Kesadaran ini fatalis karena menempatkan faktor di luar manusia sebagai sumber ketidakberdayaan. Kemiskinan diterima sebagai kodrat yang tidak bisa diubah. Kesadaran naif menyalahkan manusia sebagai sumber kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Berangkat dari kesadaran ini, muncul paradigma pendidikan kompetitif dengan pendekatan sumber daya manusia. Konsep link and match contoh sesat pikir pendidikan bermuara pada kesadaran ini. Kesadaran kritis melihat struktur politik, sosial, ekonomi, dan budaya sebagai akar penindasan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Pedagogi penyadaran Paulo Freire memfasilitasi masyarakat “buta huruf” (berkesadaran magis dan naif) agar bisa “membaca” (berkesadaran kritis) dan memahami bagaimana struktur sosial, politik, ekonomi, dan budaya mengorbankan dan menindas mereka. Tujuan akhir conscientizacao mengubah struktur masyarakat yang zalim menjadi adil dan lebih manusiawi. Pendidikan, menurut salah satu konsep aslinya adalah paideia (pedagogi). Artinya pembentukan generasi muda agar menjadi manusia berbudaya yang mampu mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan di Indonesia, istilah budayawan Bakdi Sumanto, baru sebatas pengajaran untuk menghasilkan para siswa-siswi ingkang bagus alus, ayu merak ati, pinter etung, nulis, nggambar, kalawan maca (para siswa-siswi yang tampan, cantik, pintar berhitung, menulis, menggambar, dan membaca). Terjadi pengerdilan makna pendidikan dan pemungkretan esensi pendidikan. Pendidikan tidak mendorong peserta didik dan pendidik berkomunikasi dengan realitas sosial yang terjadi di luar sekolah---padahal, bagi Paulo Freire, pendidikan adalah dialektika peserta didik, pendidik, dan realitas sosial. Freire menekankan pentingnya pendidikan dialogal agar mendayakan dan mengayakan ketimbang pendidikan bercorak otoriter yang menjinakkan. Pendidikan punya kecenderungan mengindoktrinasi, menghegemoni, dan mendominasi karena berpendekatan top-down, sistemnya militeristik (seragam, ideologis, disiplin mayat), dan menggunakan metode anjing. Para murid agar setia dan tunduk, sebagaimana relasi tuan dan anjing, dididik dengan ganjaran sekaligus hukuman. Guru agen yang mengawasi dan merendahkan martabat siswa. Sekolah menjadi lingkungan penuh sensor yang memupus bakat dan gairah siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu. Jelas ini bukan pendidikan melainkan “pembuayaan” yang memblokir manusia untuk menjadi manusia otentik. Kurikulum di jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah Indonesia mencantumkan topik-topik berbagai bidang studi secara rinci. Tugas pendidik sekedar mengangkat pokok bahasan demi pokok bahasan dan mengabarkan isi buku teks. Mutu hasil pembelajaran menjadi absurd karena yang dipakai sebagai ukuran hanyalah daya serap (kemampuan menghimpun pengetahuan) yang diungkap lewat proses evaluasi hasil belajar bersifat artifisial---ebtanas. Sistem pengajaran monologal yang menonjolkan otoritas dominan dalam konteks pedagogi Freirean jelas mentunadayakan siswa. Silang sengkarut pentunadayakan juga diakibatkan: lemahnya motivasi dan dedikasi guru untuk menjadi pendidik berjiwa otentik; semakin banyak guru yang kebetulan menjadi guru, sejak awal tidak komit menjadi guru; kematangan emosional, kemandirian berpikir, dan keteguhan sikap mereka rendah sehingga kepribadian mereka memancarkan ketidaksiapan jadi pendidik. Pendidikan di Indonesia agar mengobarkan pengharapan --mengadaptasi pemikiran Francis Wahono (2002)-- pendekatannya mesti bottom-up, sistemnya petani, dan menggunakan metode ayam. Kurikulum, sebagaimana petani memperlakukan tanaman sesuai konteks alam, disampaikan hanya melalui penggarapan dan penjiwaan pendidik berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata peserta didik. Pendidik, setali tiga uang induk ayam mestinya tidak memaksa anak-anaknya menjadi penurut melainkan memandirikan, mendewasakan, dan melindungi mereka dari mara bahaya. Bukan membiarkan pelajar tawuran dan terjerumus narkoba.
J. Sumardianta

Resensi di GATRA, Senin, 22 Juli 2002

Resensi Buku di GATRA, Senin, 22 Juli 2002
Menyiasati Pluralisme Nurcholish
PROF. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) merupakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasan tentang pluralisme menjadikan Cak Nur intelektual muslim garda depan. Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di ambang kemelelehan dan disintegrasi bangsa, entah akibat keragaman etnisitas, subkultur, identitas agama, dan disorientasi politik. Nur Khalik Ridwan, melalui buku Pluralisme Borjuis (Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur) ini, melakukan kajian kritis atas gagasan pluralisme Cak Nur. Peneliti jebolan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini menganggap pemikiran Cak Nur, kendati memiliki tingkat liberalisasi tinggi, serta didukung penguasaan khazanah Islam klasik dan modern, telah menjadi semacam rezim kebenaran atau hegemoni intelektual bercorak logosentris. Pribadinya cenderung dikultuskan, dan gagasannya "disakralkan". Nah, pluralisme Cak Nur inilah yang dikaji Khalik dengan perspektif lain. Cak Nur lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 1939. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan khalam Ibnu Taimiya. Berdasarkan hasil lacakan atas genealogi keluarga dan komunitas sosialnya, Khalik menyebut Cak Nur berasal dari lingkaran Islam borjuis. Tipologi Islam borjuis digunakan Khalik untuk mengidentifikasi kelas mengengah atas muslim perkotaan yang secara ekonomi mapan, ideologinya condong ke Masyumi-HMI, dan cenderung mengusung simbol-simbol Islam formal. Menurut Khalik, pluralisme Cak Nur, yang bertumpu pada gagasan Islam agama universal, tetap berputar di orbit komunal partikular karena masih melihat kebenaran agama lain dengan perspektif agama sendiri. Dalam konteks ahlulkitab, Cak Nur hanya terpaku pada agama formal dan mengesampingkan "paham-paham keagamaan" masyarakat adat yang terkesan primitif namun kaya kearifan. Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi (menghindarkan umat dari kecenderungan mengukhrawikan persoalan duniawi tanpa kecuali gagasan negara Islam) dan modernisasi (menganjurkan umat berpikir rasional dengan mendukung pembangunan) dinilai Khalik sebagai strategi buat mengelabui rezim otoritarian Orde Baru. Agar komunitas Islam borjuis tidak terus-menerus larut dalam trauma kepahitan politik dibubarkannya Masyumi. Ide Islam yes, partai Islam no, yang diintroduksi Cak Nur saat Soeharto mengebiri partai berbasis agama dan ideologi pada awal 1970-an, dinilai Khalik sebagai strategi neo-Masyumi untuk bersimbiosis dengan kepentingan rezim, agar mereka tidak lagi dituduh mengusung formalisme Islam ke arena politik. Dan agar Soeharto memandang pewaris Masyumi menyantuni Islam substantif. Tak mengheran bila mereka banyak yang jadi petinggi Golkar dan terserap ke birokrasi pemerintahan. Pluralisme Cak Nur, di mata Khalik, tidak memiliki sensitivitas pembebasan bagi kaum buruh, petani miskin di pedesaan, penghuni kampung kumuh, gelandangan, dan "sampah masyarakat" perkotaan lainnya yang rentan ketidakadilan sekaligus pengambinghitaman. Konsepsi Cak Nur tentang Islam sebagai agama keadilan, agama kemanusiaan, dan agama peradaban hanya bisa diakses kaum profesional dan eksekutif muda bergelimang duit, namun kerontang spiritual, melalui berbagai kursus filsafat keagamaan yang diselenggarakan Paramadina di hotel-hotel berbintang. Tak mengherankan pula bila Khalik menyebut kinerja Cak Nur sebagai pluralisme borjuis. Sayang, kerangka sosiologi pengetahuan John B. Thompson, dalam Studies in the Theory of Ideology (1985), kurang didayagunakan Khalik untuk mempertajam hasil analisis. Kendati disajikan dengan langgam subjektivitas yang meledak-ledak, buku ini tergolong karya teologi pembebasan tahap keempat. Refleksinya sudah menggunakan metode analisis nonmarxis, berangkat bukan dari dogmatisme agama, melainkan keprihatinan iman wong kesrakat, dan menyantuni heterogenitas agama dalam perjumpaannya dengan Islam.
[J. Sumardianta, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta]
[Buku, GATRA, Nomor 36 Beredar Senin 22 Juli 2002]

Resensi Buku William James, KOMPAS, 16 September 2005

Resensi Buku KOMPAS, 16 September 2005
Berjumpa Tuhan dalam Segala
Penulis: J. Sumardianta
Almarhum Tamin, legenda ludruk dari Malang, Jawa Timur, adalah pelawak yang hidupnya total didedikasikan untuk panggung kesenian. Ironisnya, Tamin tidak punya pakaian kecuali yang melekat di tubuhnya.
Petualangan Tamin dalam kemiskinan merupakan lawakan nyata yang sungguh surealis. Ia sering berendam lama di Kali Berantas menunggu kering satu-satunya jemuran yang baru dicuci. Di sungai ini pula hidung Tamin yang busuk tanggal diterjang air terjun. Pelawak dengan hidung growong ini walau menderita hidupnya bermartabat.Meski berkekurangan, tetapi Tamin dikenal seniman yang merdeka, tak terikat apa pun. Di panggung maupun dalam pergaulan lumrah, Tamin selalu membuat orang tertawa terpingkal-pingkal. Ia membuat orang yang letih lesu bisa menertawakan diri dan kondisi. Hidup sejenak menjadi nyaman karena seluruh beban hidup diringankan."Tertawa adalah persepsi terhadap situasi yang kontradiktif," kata filsuf Emmanuel Kant seperti dikutip Sindhunata, penulis buku ludruk Ilmu Ngglethek Prabu Minohek. Tawa orang miskin yang didera busung lapar dan krisis bahan bakar adalah kegembiraan dalam kesedihan. Tawa penguasa yang merengek terus minta kenaikan tunjangan adalah kebahagiaan penuh kemunafikan."Apabila kehidupan sehari-hari rasanya miskin, janganlah kau keluhkan, tetapi sesalilah dirimu karena kamu tidak cukup tabah untuk menggali kekayaannya,"demikian adagium Rilke, penyair Jerman.Sepintas absurditas kehidupan Tamin tidak mengandung dimensi rohani. Tetapi, bila direnungkan dalam-dalam, Tamin kaya-raya harta karun spiritual. Tamin, meminjam kerangka berpikir William James dalam buku Perjumpaan dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia, adalah gambaran pribadi yang merealisasikan nilai-nilai luhur sarat pengalaman spiritual. Kemampuan Tamin melucuti paradoks dan tragedi dengan mengubahnya jadi canda tawa itu disebut antropolog James Scott sebagai weapon of the weak (senjata kearifan kaum rudin).Protes Tamin bukan dengan diam atau revolusi yang hanya memangsa orang jelata sendiri, melainkan dengan mengironikan penderitaan. Ironi melegakan karena memberdayakan orang miskin untuk bisa menertawai kesengsaraan. Kaum kecingkrangan, menyitir Karl Rahner, teolog masyhur Jerman abad ke-20, berkat ironi bisa mencapai transendensi-pengalaman diberdayakan Sang Adikodrati melalui mistisisme konkret sehari-hari.Buku Perjumpaan dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia karya William James, bapak psikologi Amerika, bila diperas menggunakan teknik resensi focusing, saripatinya memang penghayatan spirit tasawuf dalam hidup sehari-hari. Dalam ajaran Ignatius Loyola, mistikus Spanyol abad ke-16 yang dikaji William James, mistisisme konkret berpangkal pada pengalaman nyata itu disebut "sastra gumelar ing jagat (Pinanggih Gusti ing sembarang kalir)". Maksudnya, manusia bisa menjumpai Tuhan dalam dan melalui peristiwa-peristiwa sehari-hari yang tampak bersahaja.Ungkapan syukur!Mengalami perjumpaan dengan Tuhan bukan hanya di saat orang berdoa dan beribadah. Juga saat mencangkul di sawah, menyabit rumput, menggembalakan ternak, mencari kayu bakar, bekerja di pabrik, dan berjualan di pasar.Tuhan juga bisa ditemukan terlebih dalam penderitaan, kesukaran, kelemahan, dan penyakit. In actionem contemplativus, segala tindak-tanduk manusia bila dihayati bisa menjadi ungkapan syukur pada Yang Mahakuasa.William James adalah anggota sebuah generasi yang membangun filsafat Amerika seangkatan dengan John Dewey dan George Santayana. Agama dan pengalaman religius merupakan dua kata kunci buku William James. Agama bagi William James (1842-1910) bukanlah dogma, lembaga, dan hierarki kepemimpinan yang terkesan formal dan kaku melainkan pengalaman kerohanian dalam praktik keberagamaan yang unik dan personal.Agama dalam paradigma James tidak lain segala perasaan, tindakan, dan pengalaman pribadi manusia dalam kesendiriannya, sejauh mereka memahami diri mereka saat berhadapan dengan apa pun yang mereka anggap sebagai yang Ilahiah. Sedangkan pengalaman religius meliputi pemikiran, penghayatan, keyakinan, dambaan, dan tindak-tanduk yang berkaitan dengan religiusitas.Pengalaman religius itu berakar pada kesadaran mistis. Dunia nyata Ini dalam pandangan William James bagian dari jagat spiritual yang lebih luhur tingkatannya dan memberi makna pada dunia nyata. Harmoni di antara keduanya merupakan tujuan hakiki manusia guna meraih kebahagiaan lahir batin.William James memang memberi legitimasi pada kehidupan sunyi kaum mistikus. Kendati kritis terhadap lembaga-lembaga yang potensial menghambat dorongan keberagamaan yang personal, James tidak bermaksud mengobarkan anarki spiritual. Ia tetaplah pemikir yang senantiasa merindukan keteraturan.James menganggap buku ini sebagai sebentuk nazar untuk menunaikan janji kepada Henry James, ayahnya, bahwa suatu hari ia ingin berurusan dengan agama secara sistematis. Maklum, William James dibesarkan dalam keluarga republikan, yang tidak mendidik anak-anaknya dengan agama yang benar ala kaum Presbyterian.Buku ini merupakan karya menonjol pada bidang psikologi agama yang ditakdirkan sebagai buku agama paling berpengaruh yang diterbitkan pada awal abad ke-20. Semula merupakan bahan-bahan kuliah William James saat diundang menjadi dosen tamu di Universitas Gifford Edinburg Skotlandia (1901-1902).Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1902, sampai tahun 1935 buku best seller ini telah naik cetak 35 kali. William James mengedepankan fenomena keagamaan dalam pandangan orang-orang yang mengalaminya sendiri. Itu sebabnya membantu upaya menampilkan banyak kesaksian tentang kekuatan iman pada kehidupan manusia.William James, sebagai peletak dasar psikologi pragmatis memandang agama dari buah-buah rohani yang dihasilkannya. Pada zaman kuantum sekarang ini, agama telah direduksi menjadi barang konsumsi oleh siapa saja yang sedang keranjingan berbelanja hal-hal spiritual. Sekularisme nyaris membuat manusia jadi pengemis. Berdoa hanya untuk minta jodoh, rezeki, pangkat, kelancaran bisnis, sembuh dari penyakit, dan bebas dari segala macam kesulitan.Buku ini mengajak orang kembali bersyukur dan bersembah sujud dalam kesatuan mistik dengan Sang Adikodrati. Bukan menyogok Tuhan agar mau tunduk pada segala hukum permintaan manusia
Resensi Buku KOMPAS, Jumat, 2 November 2001
Menepis Prasangka Buruk Homophobi
Hidup sebagai kaum homoseksual tidaklah mudah. Pun di negara maju. Mereka masih tetap dianggap sebagai wabah, terus dikejar-kejar dan dimusuhi. Padahal banyak di antara kaum homoseks merupakan figur cemerlang. Tetapi, sampai kini belum ada riset tentang ada tidaknya kaitan antara kecemerlangan otak dengan orientasi seksual yang terarah pada sesama jenis kelamin.Dari bacaan-bacaan yang ada, dapatlah kita sebut nama-nama besar yang termasuk dalam barisan kaum sehati (sebutan untuk kaum homo) antara lain Raja Iskandar Zulkarnaen dan Julius Caesar, filsuf Yunani klasik Plato dan Aristoteles, Boden Powell (bapak kepanduan internasional), Michelangelo dan Leonardo da Vinci (pelukis), John Maynard Keynes (ekonomi neo-klasik), Michael Foucalt (posmodermis), Elton John (penyanyi), Glanni Versace (perancang mode). Sedangkan sastrawan internasional yang tergolong hombreng antara lain Oscar Wilde, Virginia Wolf, Walt Wiltman, dan Nokolia Gogol.Herlinatiens (penulis)Konstruksi sosial yang menempatkan kaum homo sebagai epidemi telah lama mengendap di alam bawah sadar masyarakat. Tak heran bila kebesaran prestasi dan sumbangan mereka bagi kemajuan peradaban tak kunjung mengubah stigma buruk (imagologi) yang sudah dilekatkan pada kaum homoseksual di seluruh jagad. Konstribusi mereka acap dikesampingkan karena homofibia (kekhawatiran berlebihan terhadap kaum gay dan lesbian) terlanjur berurat-berakar.***Buku Memberi Suara pada yang Bisu yang ditulis Dede Oetomo, tokoh gay nasional dengan sebut internasional ini, mengelaborasi keprihatinan umum kaum homoseksual. Keprihatinan yang berujung pada pandangan keliru masyarakat.Memang, persoalan kaum sehati merupakan persoalan golongan kecil dalam masyarakat. Itu sebabnya, mengingat jumlah merka yang semakin besar dan sub-kultur, mereka makin terbuka. Dalam kaitan itu, Dede Oetomo mengkampanyekan paradigma, sikap, dan perilaku empati terhadap kaum sehati.Kampanye tersebut, kiranya, bukan buat apologi (membela diri) maupun memperkeras sikap penuh prasangka. Tetapi, buat mendudukkan soal secara proposional; setidaknya untuk zaman sekarang, zaman yang sudah berkembang, mengglobal, mendunia (mondial).Buku ini dibagi menjadi enam bagian. Dede Oetomo, dosen FISIP-Universitas Airlangga Surabaya dan guru besar di Universitas Kebangsaan Malaysia ini, mengawali uraiannya dengan kisah menggugah tentang dirinya yang sejak kecil punya kesadaran bahwa naluri erotiknya terarah pada lelaki.Di situ dilukiskan penderitaan dan kegalauan yang menimpanya karena masyarakat kelas menengah yang membesarkannya sangat berprasangka buruk terhadap homoseksualitas. Ini akibat pengaruh romantisme budaya kaum borjuis Barat yang merembes ke Indonesia lewat ideologipembangunanisme. Kebudayaan Barat borjuis mengidentikkan perkawinan yang terbaik dan ideal itu dengan keluarga inti (nuclear family), yakni suami-isteri (laki dan permpuan) dengan beberapa anak (kandung).dede juga mengungkapakan pula keputusannya untuk membuka kenyataan dirinya sebagai gay, sat mengambil gelar doktor di Universitas Cornell, Amerika Serikat; dan membuang kehidupan penuh kepura-puraan yang dilakoninya sebelum keputusan berani itu diambil.Saat itu, dekade tahun 1980-an, gerakan emansipasi kaum gay sedang merebak di kampus-kampus Amerika. dede terinspirasi gerakan itu. Ia seakan menemukan jalan keluar dari kemelut batin yang menimpanya di Indonesia semasa rezim Orde Baru.Dia orang orang Indonesia pertama yang punya keneranian menyatakan dirinya gay. Dede, sepulang dari belajar di Negeri Paman Sam, mendapat tamparan keras; ditolak menjadi dosen di dua perguruan tinggi terkenal di Surabaya.Akan tetapi, berkat rekomendasi seorang profesor bijaksana, dia kemudian diterima sebagai dosen di FISIP Unair. Kedua orangtuanya berbesar jiwa dan menerima anaknya sebagaimana adanya dalam segala situasi untung maupun malang.Bagian pertama buku ini membicarakan erotisme homoseksual yang terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan Nusantara. Homoseksual ditemukan Dede nyaris di semua suku bangsa; Aceh, Bugis, Bali, Dayak, Jawa, Madura, Minangkabau, Papua, dan Toraja. Di Sulawesi Selatan, sampai akhir penjajahan Belanda, terdapat bissu (kaum homo) dengan tugas khusus menjaga arajang (pusaka) kerajaan dan mengatur upacara sakral. Para bissu, seiring amblesnya sistem monarki di zaman republik, kehilangan sebagian besar fungsi religio magis.***Di Ponorogo, jawa Timur, sampai awal abad ke-20, mudah ditemukan gemblak (lelaki muda piaraan warok). Di Yogyakarta bahkan ada juga kampung bernama Gemblakan, asal katanya juga dari kata gemblak itu. Ada keyakinan, kesaktian lelaki akan disedot perempuan, maka para warok lalu tidak beristri, dan untuk menyalurkan gairah lalu memelihara gemblak. Tradisi gemblakan ini juga bisa ditemukan dalam Serat Centhini.Di Solo, tulis Benedict Richard O'Gorman Anderson di bagian pengantar buku ini, ada seorang lelaki berstatus sosial tinggi yang beristri dan beranak, namun gemar memelihara momongan lelaki muda. Perilaku sugar dady (gay sepuh yang pemurah) ini ditolerir sang istri.Bagi sang istri, suaminya lebih baik punya banyak momongan lelaki ketimbang jadi badut tua yang hobinya memelihara gundik. Momongan suaminya itu tak mungkin hamil, tak bakalan punya anak. Jadi, matematis belaka, kalau tak ada anak dari "istri" lainnya, maka warisan suami akan diturunkan buat anak-anak istri satu-satunya.Bagian kedua mempersoalkan pandangan yang sekarang masih luas dianut sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa homoseksual merupakan penyimpangan psikologis maupun norma sosial. Pandangan ini jelas berasal dari Baratyang muncul bersamaan dengan perkembangan peradaban borjuis abad ke-19, di mana psikologi punya pengaruh luas termasuk di kalangan kelas menengahdi Indonesia.Menurut Dede, para psikolog akhirnya meralat pendapat keblingeran ini. Sehingga, paling tidak di Barat, sekarang homoseksualitas tidak lagi dikategorikan kelainan jiwa oleh psikiater maupun psikolog.Fokus bagian ketiga adalah situasi kaum homoseks di zaman Orde Baru dengan segala kemunafikannya. Di zaman Soekarno, homoseksualitas relatif punya kebebasan, seks dipandang sebagai urusan pribadi warga negara. Negara tak perlu turut campur secara eksesif.Di zaman Orde Baru, Soeharto menyeragamkan kehidupan seksual warga negara: KB dipaksakan, Undang-Undang Perkawinan diberlakukan, dan norma keluarga kecil bahagia sejahtera dikampanyekan.Dede mencita-citakan pergerakannya bagi kemungkinan kaum gay maupun lesbian de jure bisa kawin-mawin. Cita-cita ini sepenari dan sependendangan dengan konsep keluarga idaman ala borjuis barat yang hendak didekonstruksinya. Bukankah ini contradictio in terminis?Pada bagian keempat, Dede membicarakan malapetaka HIV-AIDS. Dede mengungkapkan bahwa di Amerika, HIV-AIDS mula-mula muncul di kalangan pria homoseks. Di kalangan Kristen Ortodoks penyakit ini dianggap sebagai laknat Tuhan atas orang-orang hombreng dengan moral bejat dan perilaku semburit sulit diperbaiki.Terbukti kemudian, menurut buku ini, penyakit tersebut juga merajalela di kalangan heteroseksual.Jadi, penyakit ini merajalela bukan karena perilaku semburit di kalangan kaum homo melulu. Pun perilaku seks gonta-ganti pasangan di kalangan heteroseks dan pemakaian jarum suntik serampangan di kalangan pemadat narkoba.Dalam rangka mencegah penyebarluasan HIV-AIDS, Dede dan para koleganya di yayasan GAYa Nusantara menjelaskan dengan gamblang, sopan, dan konkret praktik-praktik seks tidak aman berikut cara-cara menghindarinya.Bagian kelima berisi nasihat-nasihat untuk gay dan lesbi di Indonesia yang nasibnya tak putus dirundung kesulitan. Di Indonesia, tempat ikatan keluarga, khususnya hubungan anak-orangtua masih kuat, dan perkawinan merupakan keharusan alamiah, antipati terhadap kaum homo tak jarang justru menghancurkan kehidupan anak muda gay. Kaum homoseks juga menderita karena diskriminasi umum dan ancaman kelompok politik keagamaan yang sangat membenci mereka.Peluluhlantahanperhelatan kaum hombreng Kerlap-Kerlip Lampu Kedaton yang terjadi dekat Kaliurang, Sleman, dan pembubaran konggres kaum homo di Solo beberapa tahun lalu, merupakan presenden yang dipandang amat memprihatinkan oleh kaum gay. Bagian akhir berisi laporan-laporan pertemuan gay dan lesbi di Indonesia maupun internasional yang dihadiri Dede, dengan harapan kaum homo makin bermartabat. ***Karya Dede ini merupakan referensi berbahasa Indonesia pertama yang komprehensif mendiskusikan homoseksualitas. Sayang, buku ini tak memberi penjelasan mengapa beberapa rubrik majalah GAYa Nusantara isinya banyak soal-soal berbau erotisme, dan hedonisme kaum homoseks.Akan tetapi, dengan membaca buku tersebut, tanpa pretensi macam-macam, akan tahulah dunia kaum homo; kesulitan dan alam psikologinya. Dengan begitu, kita bisa memahami sikap dan perbuatan mereka. Sehingga menyetujui atau menentang perilaku mereka pun sudah berdasar pengetahuan yang memadai: bukan asal setuju atau menolak. Kita harus mulai membiasakan diri bersikap a posteriori bukan a priori.
(J Sumardianta, guru SMU Kolese de Brito Yogyakarta)