Jumat, 09 Mei 2008

Visi Keteladanan Yesus

JAWA POS Minggu, 30 Maret 2008
Visi Keteladanan Yesus

Judul buku : Yesus; Biografi Lengkap tentang Pribadi-Nya, Negara-Nya, dan Bangsa-Nya Penulis : Leith Anderson Penerjemah: Ida Budipranoto dan Ony Suryawan Penerbit : Gloria Graffa, Jogjakarta Cetakan : Pertama, Januari 2008 Tebal : 428 Halaman
’’Uang tunai kami yang ada di dalam plastik. Dimuliakanlah arloji Cartier-Mu. Datanglah tas Prada-Mu. Jadilah Christian Dior dan Giorgio Armani-Mu. Berilah kami setiap hari Visa Platinum. Dan, ampunilah segala keberlebihan kami. Seperti kami pun mengampuni yang menolak MasterCard kami. Jangan keluarkan kami dari ketajiran. Tetapi bebaskan kami dari segala kekurangan. Demi Chanel nomor 5 dan Eternity. Amek.’’
Sajak di atas sesungguhnya parodi doa ’’Bapa Kami’’. Parodi itu ditemukan di buku Robert Holden, Timesless Wisdom for a Manic Society (2005). Parodi berjudul ’’The IT Girl Prayer’’ --tidak jelas siapa penggubahnya-- sebenarnya kritik buat masyarakat zaman sekarang yang sangat memuja berhala kekayaan material. Kegandrungan brutal masyarakat yang berakar pada mekanisme cinta akan uang sebagaimana dilembagakan kapitalisme neo-liberal.
Doa ’’Bapa Kami’’ yang diajarkan Yesus tidak hendak menjadikan manusia budak ambisi kekayaan, kekuasaan, dan uang. Yesus mengajarkan sikap hidup sak madyo, ugahari, dan tidak serakah. Agar manusia menjadi gampang bersyukur dan tetap bisa menemukan keberuntungan di tengah kemalangan. Pendeknya, tidak terjerumus ke dalam perangkap siklus materialisme abadi. Manusia tidak akan pernah puas dengan memiliki kapal pesiar, rumah megah, dan perlengkapan hidup branded mewah. Tidak ada kantong saku di kain kafan penguburan. Teologi harus mengandung pengertian harapan di tengah budaya kematian dan kemurungan kalbu akibat kedosaan manusia. Inilah salah satu warta keselamatan Yesus sebagaimana memuncak dalam peristiwa Paskah. Warta apokaliptik Paskah (bangkit dari kehancuran) ini mesti dikemukakan mengingat makin hari manusia makin dicekik atmosfer hidup yang sangat tidak berperikemanusiaan akibat kesontoloyoan aparat negara dan kehancuran lingkungan. Buku biografi Yesus ini memberikan gambaran sosok Yesus yang komprehensif sejak lahir hingga wafat di kayu salib berdasarkan empat kisah Injil Perjanjian Baru: Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes. Leith Andorson, penulisnya, pendeta Gereja Wooddale, Minnesota, Amerika Serikat, mengisahkan Yesus berdasarkan latar belakang masyarakat, sejarah, politik, dan budaya pada zamannya. Ada kecenderungan lazim Yesus dijadikan ikonoklastik.
Konsep-konsep abstrak teologis telah menggantikan pengalaman kesejarahan tentang Yesus dari Nasareth. Kebanyakan refleksi tentang salib Yesus bercorak romantik melulu. Fokus perhatian pada Kristus sebagai korban silih atas dosa-dosa manusia. Pemahaman mengenai penebusan berhenti pada pengakuan laba kisah sengsara Yesus. Manusia bermoral bejat sulit diperbaiki pun akan diselamatkan Yesus. (*)
*J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese de Britto Jogjakarta

Minggu, 10 Februari 2008

Esei Sastra tentang Novelis Sindhunata

Esei Sastra Jawa Pos, Minggu, 10 Februari 2008
Oleh: J. Sumardianta

Sindhunata boleh disebut sebagai puncak kecerdasan berbahasa. Sastrawan kelahiran Batu, sejak awal dekade 80-an bermukim di Jogjakarta itu, memang "Man of Letters". Penulis yang total dan setia membaktikan hidupnya bertekun di semak belukar makna huruf-huruf. Sindhunata dikenal luas sebagai wartawan, filsuf, novelis, penyair, pelopor jurnalisme sastrawi, penulis feature sepak bola, dan kurator senirupa. Ia menjalani karir sebagai penulis dalam kerangka hidup mistik. Kepengarangan dihayatinya sebagai wujud konkret intimitas cinta mendalam pada sang Khalik.Menanti Ratu Adil - Motif Eskatologis Protes Petani Jawa Abad 19 dan Awal Abad 20 adalah naskah buku terbaru yang sedang ia terjemahkan dari disertasi hasil ngangsu kaweruh (menimba ilmu) di Universitas Munchen, Jerman pada 1986-1992. Disertasi Hoffen auf den Ratu Adil itu merupakan tafsiran baru kajian gerakan protes petani yang sebelumnya dirintis sejarawan almarhum Sartono Kartodirdjo dan almarhum Onghokham. Karya terbaru ini perlu disebut, kecuali karena citra Sindhunata telanjur lekat dengan novel klasik Anak Bajang Menggiring Angin, disertasi itu ditulisnya dengan gaya bertutur prosaik layaknya menulis feature.Putri Cina, novel Sindhunata paling gres, terbit Oktober dan cetak ulang Desember 2007, dinobatkan komunitas sastra Bandung "Nalar" sebagai karya sastra paling bermutu. Putri Cina merupakan figurasi tragika nasib kaum minoritas Tionghoa Indonesia. Novel rumit dengan segerobak tokoh ini menggunakan teknik bercerita maju mundur. Sindhunata mengambil seting cerita dari zaman Majapahit era Brawijaya hingga pengujung Orde Baru, melumuri novelnya dengan babad, legenda, mitos, dan sejarah sekaligus.Para penguasa Jawa mengincar rahim perempuan peranakan Tionghoa. Raden Patah, raja Demak anak Brawijaya, lahir dari kandungan seorang ibu peranakan Tionghoa. Begitu tulis Sindhunata.Putri Cina sesungguhnya by product buku Kambing Hitam: Teori Rene Girard (2006). Novel ini semula katalog berjudul Babad Putri Cina yang ditulis untuk pameran lukisan Putri Cina karya Hari Budiono di Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Jogjakarta, Mei 2006. Hari Budiono, perupa kelahiran Mojokerto, bekerja di Bentara Budaya Yogyakarta, mendapat inspirasi setelah membaca draft Kambing Hitam. Hari Budiono memang konsultan artistik untuk buku-buku Sindhunata.Rene Girard, guru besar emeritus antropologi Universitas Stanford, California, AS, yang dikaji Sindhunata dalam Kambing Hitam mengalami pertobatan intelektual setelah mempelajari novel-novel klasik karya lima pengarang masyur abad ke-18: Miguel de Cervante, Gustave Flaubert, Stendhal, Marcel Proust, dan Fyodor Dostojevsky. Kecemburuan, kebencian, iri, dan kedengkian sosial merajalela karena dalam kehidupan masyarakat bertahta mimesis (hasrat tiru-meniru tiada berkesudahan). Mimesis mencetuskan lingkaran setan rivalitas. Rivalitas yang meletus menjadi kekerasan memerlukan kambing hitam untuk memulihkan harmoni sosial. Mekanisme kambing hitam itu senantiasa membidik dan mengejar kaum minoritas etnis, ras, dan religius. Minoritas adalah segmen masyarakat yang ditakdirkan sebagai korban. Inilah simpulan teori kekerasan Rene Girard yang dikelupasi Sindhunata dari kulit terluar sampai biji terdalam.Sindhunata sendiri mengalami pertobatan profetik pada saat belajar di Jerman. Ia peranakan Tionghoa berwajah Jawa. Ia telanjur apriori terhadap komunitas Tionghoa di Jerman. Di Indonesia ia hampir jarang bersentuhan dengan kaumnya. Aktivitasnya lebih tercurah untuk orang Jawa dengan segala persoalan sosio-kulturalnya.Wajah yang "menipu" ini membuat Sindhunata mengalami krisis identitas. Ia terasing total di negeri orang. Guncangan eksistensial itu mendorongnya menekuni novel-novel bertema Auf der Suche nach einer Heimat (para pencari tanah leluhur) karya pengarang imigran Yahudi. Kaum pelarian itu saking trauma dengan holocaust kerap menyembunyikan identitas rombeng mereka, bahkan di ruang pengakuan dosa saat bertatap muka dengan pastor.Sindhunata sadar: ia sulit menerima identitas kecinaannya karena tidak bisa menerima ketidakadilan yang ditimpakan kepada kaumnya. Menanggung karma sejarah kambing hitam sangat merisaukan. Krisis itu akhirnya mereda. Di Jerman ia menemukan kembali identitasnya yang sekian lama ditelan wajah yang cenderung menipu diri sendiri maupun sesama. Perjuangan membebaskan diri dari karma pala itu bukanlah perlawanan sosial melainkan pergulatan batin individual. Penderitaan telah memurnikan dirinya hingga menjadi jujur terhadap diri sendiri maupun kaumnya.Istilah "Cina" memang sangat menyakitkan bagi kaum Tionghoa. Justru karena tidak mau terjerumus kembali dalam mekanisme tipu-menipu, eskapisme, dan eufemisme Sindhunata bersikeras dengan identitas "(ke)Cina(an)"-nya. Kosa kata Tionghoa atau China menurutnya melulu pelarian dan permanisan dari realitas sosial yang berlumuran kekerasan, ketidakadilan, pengejaran, labelling, dan stigmatisasi. Penyempurnaan sarana dan pengaburan substansi memang karakteristik mendasar zaman sekarang. Itu sebabnya, kendati mendapat reaksi keras di mana-mana, Sindhunata mempertahankan judul novelnya dan tidak mau mengganti, misalnya, dengan judul Putri China atau Putri Tionghoa.Sindhunata terbebas dari tirani tuduh-menuduh dengan spiral prasangka etnis makin menanjak karena berkepribadian bukan pendendam. Karakter pemaaf melepaskan dia dari belenggu kecublukan masa lalu dan membuatnya kembali kuat. Ia memaafkan keterbatasannya sendiri sehingga perasaan malu dan menyalahkan diri tidak terlalu berat ditanggung. Ia memaafkan juga orang lain atas peran mereka dalam menghadirkan kekecewaan dan kesedihan. Tujuan hidupnya bukanlah untuk memikul segala keluhan sesal melainkan untuk terus tumbuh.Sindhunata, setiap berpaling ke masa lalu, senantiasa teringat Sioe Lien, gadis kecil teman bermain di tahun 50-an. Sioe Lien selalu tertawa riang saat bermain di sungai yang membelah kampung Hendrik, Batu, Malang. Sindhunata tidak tahu, mengapa tiba-tiba Sioe Lien harus pulang ke RRT bersama keluarga. Banyak peti-peti besar disiapkan menjelang kepergiannya. Baru kelak setelah dewasa, Sindhunata tahu keluarga Sioe Lien terkena PP 10/1959 tentang Dwi-Kewarganegaraan. Setiap teringat Sioe Lien, Sindhunata tergoda melihat arti dan indahnya kesunyian. Sindhunata pun jadi tahu makna Tionghoa kelahiran Jawa.Percik gerimis kaki kanak-kanakmu/ dingin bermain di sungai kesendirianmu. Itulah bait puisi yang dipersembahkan Sindhunata untuk Sioe Lien di antologi puisi Air Kata Kata (2004).Tokoh sentral novel Putri Cina, Giok Tien, istri Gurdo Paksi, sesungguhnya alter ego Koo Soen Ling, ibu kandung Sindhunata sendiri. Giok Tien dan Gurdo Paksi mati dibunuh Joyo Sumenggah, panglima Medang Kamulan, dalam krisis politik berujung pembersihan etnis. Dua sejoli beda etnis itu muksa menjadi sepasang kupu-kupu, persis legenda Sam Pek dan Eng Tay. Ketika Sindhunata masih belia, ibunya gemar mendongeng tentang Sam Pek dan Eng Tay. Kisah tua Tiongkok zaman antik perihal cinta manusia yang tidak kesampaian. Ibunya senantiasa terharu setiap mengisahkan sepasang kekasih tak direstui orang tua karena perbedaan status sosial.Perjalanan spiritual Giok Tien ditemani Korsinah ke Gunung Kawi tidak lain kunjungan Sindhunata menemani ibunya berziarah ke makam guru kebajikan Eyang Djoego (Taw Low She) dan Eyang Imam Soedjono (Djie Low She) di Malang Selatan. Peziarahan Putri Cina ke pelbagai kelenteng dan makam kuno di Tuban sebenarnya perjalanan Sindhunata mengantar ibunya berziarah ke makam kakeknya di pantai utara Jawa. Menemukan makam Puteri Cempa secara kebetulan saat Putri Cina dalam proses cetak adalah rahmat terselubung yang didapat sang novelis yang kesasar ketika mencari makan malam di Lasem.Koo Soen Ling menjanda sejak muda ditinggal mati Liem Swie Bie, suaminya. Ia membesarkan tujuh anaknya dengan bekerja sebagai penjahit. "Bimbang di Hati" adalah lagu kesukaan Koo Soen Ling. Lagu mengesan itu tanpa sengaja didengarnya dari pengamen jalanan sewaktu pergi ke Surabaya. Rombongan Orkes Keroncong Sinar Pangoentji dari Bekonang, Sukoharjo, Jawa Tengah, pun mendendangkan, "Kurasa bimbang di hati, meninggalkan kau pergi, juwita," di dekat peti jenazah Koo Soen Ling, saat disemayamkan di Kampung Hendrik, Batu, Malang, Oktober 2006. Lagu itu bertutur tentang seorang suami yang berat hati hendak bepergian mencari nafkah dengan meninggalkan keluarga. Anak-anak lalu diserahkan kepada istri untuk dirawat sampai suami pulang nanti. Sang istri pun sukses membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang.***Karya sastra merupakan sarana yang bisa membantu manusia terhubung secara lebih sadar dengan intelegensia abadi dalam hati. Sastra menggeser hadirin dari kepala ke nurani mereka, beranjak dari logika menuju waskita, melampaui persepsi menuju visi, dan mengatasi keduniawian menjadi kesejatian.Karya sastra bisa dirunut kembali ke sumbernya. Sebuah karya sastra, tanpa kecuali novel Putri Cina, terpaut dengan pengalaman hidup, identitas, falsafah, maupun perasaan-perasaan pengarangnya. Pengarang menyatakan diri dan mengomunikasikan pengalaman hidupnya secara mendalam. Sindhunata setali tiga uang Pramoedya Ananta Toer. Roman sejarah Pramoedya menjadi sangat memikat dan indah ketika bertutur mengenai tokoh-tokoh perempuan seperti Gadis Pantai atau Nyai Ontosoroh. Heroisme dalam roman sejarah Pramoedya selalu berkibar di tangan perempuan karena ia sangat dekat dengan ibu dan neneknya.Perempuan di tangan Sindhunata adalah representasi kehendak bebas. Pembaca pun sering dibikin cemburu pada kepiawaian Sindhunata mengisahkan tokoh simbok-simbok dalam buku Mata Air Bulan (1998). Kegandrungan Sindhunata pada tokoh-tokoh perempuan acap disalah-mengerti sebagai efek samping hidup melajang. Padahal, yang benar, karena ia sangat mengidolakan ibunya.Tapi, Sindhunata tidak mau menanggung sesal berlarat begitu ibunya wafat. Ungkapan bijak yang mengatakan bahwa mistikus menjadi mashyur karena sangat mencintai ibunya menemukan kebenaran dalam karya-karya Sindhunata.***
J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese de Britto Jogjakarta
* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 10 Februari 2008

Jumat, 25 Januari 2008

Resensi Buku Good Busines KOMPAS Minggu, 20 Januari 2008

Resensi Buku KOMPAS Minggu, 20 Januari 2008
Spirit Adiluhung Kampiun Bisnis
Judul buku: Good Business: Bisnis Sebagai Jalan Kebahagiaan
Judul asli: Good Business: Leadership, Flow, and the Making of Meaning
Penulis: Mihaly Csikszentmihalyi
Penerjemah: Helmi Mustofa
Penerbit: Mizan- Bandung, 2007Tebal: ix + 375 halaman

Inilah aforisma Ludwig Wittgenstein, filsuf Jerman, "Jika yang engkaumiliki hanyalah palu maka segalanya akan tampak seperti paku." Jikaparadigma bisnis mengejar keuntungan melulu maka segala sesuatunyadijalankan demi memuaskan kerakusan para pemegang sahamnya semata. Bisnismemang telah meningkatkan kualitas hidup manusia. Institusi inimenciptakan kemajuan di bidang teknologi, pendidikan, komunikasi dankesehatan. Kendati demikian entitas pembawa kemakmuran dan kesejahteraanmaterial itu juga menimbulkan persoalan-persoalan serius.Wabah perselingkuhan kekuasaan dengan pemilik modal yang membalak hutansecara liar di seantero Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papuamerupakan paradoks bisnis yang harus ditebus demi membayar kemajuan.Pemanasan global penyebab curah hujan sangat tinggi, banjir bandang,puting beliung, bukit longsor, dan gelombang pasang air laut makinmenjadikan Indonesia negeri yang tak putus dirundung bencana alam.Bencana alam mempertontonkan betapa budaya kapitalis dan praktik bisnisyang beroperasi di dalamnya didera komplikasi akut. Bisnis yang mengejarkeuntungan demi keuntungan itu sendiri (the pursuit of profit for its ownsake ) dengan menempatkan konsumsi sebagai tujuan tertinggi tidakvisioner. Bisnis global adalah monster yang sedang mengganyang dirisendiri. Monster itu menghancurkan sumber daya alam, mengabaikan generasimendatang, menyebabkan kakalutan masal, melahirkan kepemimpinan egoistik,menyulut kerusuhan dan terorisme.Bisnis terlalu berkiblat pada para predator sosial semacam Genghis Khan,Attila Hun, dan Niccolo Machiavelli. Kebanyakan buku bisnis mendidik kaumprofesional menjalani hidup dengan mengikuti kompas moral yang tidakakurat. Nah, buku Good Business merupakan publikasi penelitian perihalpara pemimpin bisnis yang memadukan prestasi tinggi dengan perilakuterbimbing visi dan nilai (vision and values led). Para pemimpin pengabdi( servant leaders) yang ikut bertanggung jawab atas kelangsungan duniatempat mereka meraih keberhasilan. Proyek peneiltian ini dipimpin MihalyCsikzentmihaly, guru besar psikologi Universitas Chicago, AS, penemukonsep flow (perasaan mengalir dan bahagia).39 Kampiun bisnis yang dirujuk pada buku ini adalah para pemimpinvisioner. Mereka adalah para "kesatria" atau "master" yang menciptakanbudaya baru perusahaan dan mempraktikkannya di lingkungan korporasimereka. Sektor bisnis yang dijadikan sampel: piranti lunak dan keraskomputer, manufaktur, ritel, bioteknologi, hiburan, real estate, modalventura, konsultasi manajemen, industri minyak, aerospace, pertambangan,restoran wara laba, investasi finansial, pendidikan, desain produk, jasa,dan transportasi.Para pemimpin bisnis, menurut Mihaly Csikzentmihaly, merupakan segmenmasyarakat paling berpengaruh. Segmen tersebut tidak hanya mengendalikanarus segala sumber daya, dari makanan hingga minyak, pun memilikikekuasaan tidak proporsional tentang bagaimana dan oleh siapa negaradijalankan. Kepentingan-kepentingan bisnis mendorong AS mengintervensinegara-negara lain. Perlindungan atas perkebunan pisang di Amerika Latinpun ladang minyak di Kuwait.Para kampiun bisnis dan perusahaan yang mereka representasikan,sebagaimana dilaporkan Mihaly Csikzentmihaly, memiliki komitmen moral dankepedulian kuat. Mereka melengkapi diri dengan dedikasi jangka panjangpada tujuan-tujuan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, orang-orangyang hidup di tengah masyarakat, dan manusia pada umumnya.Yvon Chouinard, pendiri Patagonia pada dekade 60-an merintis pekerjaansebagai pandai besi keliling yang cinta mati pada pegunungan. Ia membuatperlengkapan mendaki gunung, seperti pasak dan gelang, lebih baikdibanding yang dihasilkan perajin lain. Bisnisnya berkembang pesat. Olahraga mendaki makin populer. Dinding batu yang menakjubkan pun dipenuhilubang dan bercak goresan perangkat keras. Chouinard tak mau meruntuhkangunung yang dicintainya. Ia ciptakan cara baru mendaki menggunakanroda-gigi ( gear) yang ditempatkan dan digeser di celah-celah perbukitanagar pegunungan tetap utuh.Chouinard akhirnya mengubah haluan Patagonia dari produsen piranti keraske bisnis garmen demi tidak merusak gunung. Di industri pakaian jadi punperlahan ia menyadari bahwa kapas yang menjadi tumpuan bahan dasarpabriknya menyerap 25 persen pestisida dunia. Diperlukan dua galon residupestisida untuk membuat satu kaus berbahan katun. Chouinard menghadapikrisis hati nurani saat mengunjungi perkebunan salah satu pemasok kapas.Ia tidak lantas menutup pabriknya. Patagonia, kendati meningkatkan beayaproduksi, beralih ke serat organik yang ramah lingkungan. Nike, Gap, danLevi Strauss pun mengikuti langkah Patagonia.Patagonia bermarkas di Ventura, distrik sepi di California. Di lorongmasuk terdapat barisan papan selancar disandarkan para karyawan didinding. Saat ombak besar datang semua karyawan boleh berselancar kapanpunmereka mau. Buku Yvon Chouinard, Let My People Go Surfing, melukiskankebijakan Patagonia yang mengombinasikan kerja dengan rekreasi.Pada permulaan abad ke-20, di kota kecil Columbus, Indianapolis, seorangbankir mendirikan pabrik mesin diesel. Selama dua puluh tahun investasipabrik itu belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Belakangan, kondisimulai meningkat, dan mesin diesel buatan Cummins menghela banyak truk yangmenjelajahi benua Amerika. Bisnis Cummins tidak pernah berjalan mulus.Hampir tiap tahun dihantam krisis baru---meningkatnya produk pesaing,krisis keuangan, embargo minyak, dan standar baru emisi gasbuangan---mengancam kelayakan perusahaan. Keluarga Cummins harus merogohkocek keluarga dalam-dalam, setiap kali pasar meninggalkannya dan membuatrentan diambil alih, guna melindungi otonomi keluarga."Alasan kami tetap menekuni bisnis ini, papar J. Irwin Miller salahseorang anggota generasi ketiga Cummins, karena kami punya kewajibanterhadap masyarakat. Kami bisa saja pindah ke tempat yang punya tenagakerja lebih murah. Namun, apalah artinya mengeruk keuntungan lebih banyakjika Anda harus menelantarkan ribuan orang yang Anda kenal dan menaruhkepercayaan pada Anda." Cummins punya hubungan mesra dengan wargaColumbus. Perakit mesin diesel ini bersedia mengeluarkan biaya konstruksisetiap warga membutuhkan gereja, perpustakaan, sekolah, pos pemadamkebakaran, dan penjara. Perusahaan keluarga ini tidak akan bertahan sampaiumur seratus tahun bila sekedar didorong semangat profit dan ekspansi.Korporasi yang dikaji dalam buku ini, Patagonia, McDonald, The Body Shop,Apple, Microsoft, Lockheed Martin, Cummins, AOL Time Warner, dan Financialinvestment, menjadi mercu suar yang menuntun kapitalisme melepaskanbelenggu keserakahan, kecurangan, dan penipuan. Mihaly Csikzentmihalymenemukan lima karakteristik kepemimpinan bisnis visioner. Pertama,optimisme tanpa batas berdasarkan keterpanggilan mewujudkan kehidupan yanglebih bernilai dan bermakna. Kedua, integritas dalam arti keteguhanmemegang prinsip sebagai dasar untuk percaya dan mempercayai. Ketiga,ambisius yang tekun dalam kesulitan dan tabah mengatasi tantangan.Keempat, rasa ingin tahu dan semangat belajar pantang menyerah. Kelima,empati (bela rasa) mendalam terhadap orang lain.Kusut masai penanganan bencana lumpur Lapindo Brantas yang menenggelamkanmasyarakat Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, karut marut ilegal logging diJambi, dan penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri merupakan presedenburuk bisnis. Bisnis tidak akan berhasil mempertahankan hegemoninya dalamkontrak sosial implisit dengan masyarakat jika terbukti pasar hanyamenjadi sarana bagi sedikit orang mendapatkan keuntungan dan tidak memberikontribusi bagi kebahagiaan banyak orang.Good Businessmerekomendasikan kapitalisme yang memelihara planet bumi, memperbaharuisumber daya alam, menyantuni generasi mendatang sebagai stake holder,berkelanjutan, menyuburkan kepemimpinan visioner, menumbuhkan dedikasi danharapan. Bisnis, satu-satunya institusi, yang memiliki supremasi palingbesar untuk mengubah skenario kapitalisme sebagaimana lazimnya (business-as-usual) menjadi kapitalisme yang mungkin terwujud(business-as-it-could-be). Buku ini mata air inspirasi yang tak bakalkering buat menyelamatkan bangsa Indonesia dari jurang kenestapaan akibatperilaku pemimpin bisnisnya yang sontoloyo dalam menghancurkan lingkungan.****
*J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese de Britto Yogyakarta.

Minggu, 13 Januari 2008

Resensi Buku Jakarta Post, 25 Agustus 2002

Resensi Buku di The Jakarta Post, 25 Agustus, 2002
Soccer and humanitarian aspects
Features - August 25, 2002
J. Sumardianta and Yusup Priyasudiarja, Contributor, Jakarta
Trilogy: 1) Bola di Balik Bulan (Ball Behind the Moon) , xv + 296 pp, 2) Airmata Bola (Tears of Ball), xv + 275 pp, 3) Bola-Bola Nasib (Balls of Fate), xv + 320 pp, Written by Sindhunata, Published by KOMPAS-Jakarta, May 2002
Conrad Kotak, an American anthropologist, notes that football allows all to express feelings, and can unite people from diverse backgrounds in a way that can not be achieved by any other political force. Globalization results in a wider gap between developed and poor countries. On the contrary, football succeeds in spreading professionalism. The World Cup 2002 in Korea and Japan showed that there is no longer any gap between the football skills of Asian or African teams and European teams which have long football traditions. The increasing number of Asian and African players playing in European countries as well as the coaches from Europe who train Asian and African teams plays an important role in spreading the professionalism.
Football is actually a reflection of the daily life of human beings. It is possibly one of the reasons why football has become the most popular sport in the world, touching every corner of human beings and affecting many aspects of life. Sindhunata, the writer of this trilogy, Catatan Sepak Bola, highlights humanitarian features in football.
Bola di Balik Bulan (Balls behind the Moon) covers inspiring and touching stories in football. Take a look at the following data. David Beckham has his daughter name, Brooklyn, printed on his shoe soles. In spite of his fame as a great player, his love of his family is deeper than that of football. Airmata Bola (Tears of Ball) illustrates the tragedy of human beings such as the failures of football players, coaches and teams. Le jour de glorie a passe (the glory days have passed) is probably the right expression to describe the failure of Bayern Munich in the Champions Cup final in 1999 in which Bayern Munich was defeated by Manchester United 2-1 in injury time (112 seconds) after leading 1-0. Bayern Munich's loss of concentration and carelessness in the last minutes led the team to a tragic and sorrowful defeat. Bola-bola Nasib (Balls of Fate) mainly focuses on the misfortunes of football players in which they often have to work beyond their capacity as human beings. They often play too many games in one competition. Besides, football can also mean both glory and misery as experienced by Maradona who was a great player but then plunged into the hell of drug abuses.
The magnificent performance of outstanding players such as Giussepe Meazza (Italy), Santiago Barnebeu (Spain) and Pele (Brazil) used to be associated with heroism values. At present Ronaldo, Christian Viery, Del Piero, Raul Gonzales, Nistellrooy, Michael Owen and Edgar Davids become glamour present-day superstars representing individuals in an individualistic society who are merely money-oriented. Football is already integrated with a capitalistic industry system. For such players football is just a short cut to get rich quickly. The egos of the star players then turns to be a universal problem faced by all football coaches.
In addition, football competitions do not always show fairness in sports. Football teams often seek success by any means (the goals justify the means) such as involving hooligans with their brutish behaviors in order to bother their opponents concentration. The players try hard to merely gain honor and it is essentially contrary to the whole essence and philosophy of sport. Sport is originally intended to boost the spirit of brotherhood.
How do players enhance their professionalism, manage their ego and solve their problems in life? Davor Suker, a very talented striker from Croatia, gave a valuable example. Amid pros and cons, he disagreed with the idea that women or wives should be allowed to join the teams to support their performances in a competition like the World Cup. He scored the most goals in the 1998 World Cup. He proved that his idea was right, indicating that those who could refrain from having sex during the competition could perform better. Beforehand Suker had been the target of criticism for having only scored a few goals for Real Madrid and his love life with Ana Garcia Obregon, a TV moderator, blamed as the main cause. Ana G. Obregon used up the energy of a striker whose job is to score goals, wrote the daily La Vanguardia cynically.
In any feature Sindhunata, the author of the classic novel Anak Bajang Menggiring Angin, always highlights humanitarian aspects. He notes that street children (strassenfussballer), the homeless, slums (favela) and the dwellers of slums (favelado) are the life backgrounds of Brazilian players. In a favelado there is no suicidal feeling. When Brazilians are hungry, in order to survive they try to scrap around for the remaining food on streets or in the markets. Even though Brazilian players have already gained success, they still have the spirit of favelado, a high fighting spirit. They never easily give up on the pitch.
In Brazilian football history, Garrincha was widely known as a player with the favelado mentality. Earning a living as a bird hunter, he lived in a poor favela (Airmata Bola, p. 236). Having played football attractively, he was regarded by many as a Brazilian hero in the Pele era. Garrincha, more respected than Pele, is considered a spark plug of Brazilians and a symbol of their joy, a lergria dopavo (Bola Di Balik Bulan, p.210).
Football also manages to minimize ideological conflicts. Unlike what people had been afraid of, the match between the US and Iran teams in de Coupe du Monde, France 1998 in which Iran won the match, ended up in a touching scene. At the end of the match, the players from both teams, hugged each other, shook hands and exchanged their costumes. Football does not prove Samuel Huntington's thesis on the clash of civilization.
Having been a member of Society of Jesus (SJ) and interested in humanitarian sciences, Sindhunata can produce pieces of writing with high-literary quality. Before being a priest, he was a journalist. Hence he has a sharp analysis which shows his rich knowledge of football. To support the data when writing, he did not only watch football matches himself in various competitions in Europe but also collected and read papers in English, Dutch and German. No wonder, this trilogy is reflective, contemplative and encyclopedic. One of the most interesting characteristics of his writing rests on the fact that football is seen not only from the aspects of sport but also from a humanitarian angle.
According to Sindhunata, a doctoral graduate of Hochschule fur Philosophie, Philosophische Fakultat SJ, Munich, Germany in 1992, football fans are actually fooled by a spectacular event such as the World Cup. Even though the event is entertaining, it actually does not change anything. Argentineans still live under both the poverty circle and political repression as the country is still controlled by the IMF. Indonesian people also remain poor and hopeless under the leadership of the political elite who only think of their vested interests. Football also fails to protect the people from violence as what happens in South America since the people there are already trapped in drug abuses. Football itself needs to be questioned for the reason that it is closely related to exploitation, commercialization and dehumanization.
Sindhunata features have a particular distinction. They provide meaningful, rich factual information that gives readers deep insights. His ideas flow smoothly and he can describe things systematically. This particularity distinguishes him from other football commentators who tend to merely discuss the techniques and tactics in football.

Sejenak Bijak KOMPAS, 30 September 2007

Nemuin khasanah jawa yang bagus banget dari Koran Kompas hari Minggu tanggal (30 September 2007)
"urip iki sejatine sastra gumelar ing jagat. Pinanggiha Gusti ing sembarang kalir, temokno Gusti ing tek kliwer laning obah mosike uripne"
Yang artinya:
"hidup ini sesungguhnya susastra yang terhampar di jagat raya Tuhan bisa ditemukan dlam segala. Temukan Tuhan dalam kehidupan keseharianmu yang berpeluh dan penuh bercak kesulitan"
Yang artinya:
"Life is a real literature which spreads in the whole universe, God can be found anywhere, find him in you/your life which is full of sweat & complicated" By: Y
by J. Sumardianta (Guru SMU) Kolese de Brito Yogyakarta.

Resensi Buku KORAN TEMPO, 28 April 2002

Resensi Buku di KORAN TEMPO, 28 April 2002
Mendidik Anak Bukan dengan Metode Penjinakan
Judul buku: Pedagogi Pengharapan-Menghayati Kembali Pedagogi Kaum Tertindas (Pedagogy of Hope-Reliving Pedagogy of the Oppressed)
Penulis: Paulo Freire
Penerjemah: A. Widyamartaya
Penerbit: Kanisius-Yogyakarta, 2002
Tebal: 328 halaman
Paulo Freire (1921-1997), dalam rangka memperingati 25 tahun terbitnya Pedagogy of the Oppressed, pada 1994, menerbitkan Pedagogy of Hope. Maksudnya untuk menghayati kembali Pedagogy of the Oppressed. Berbeda dengan buku pertamanya, Pedagogy of Hope berisi runutan pengalaman nyata dan hidup yang menjiwai buku pertama. Pengalaman-pengalaman mengesankan itu meliputi peristiwa-peristiwa awal yang memberi inspirasi sebelum Pedagogy of the Oppressed ditulis maupun pengalaman-pengalaman sesudah diterbitkan yang memberi daging pada buku itu. Pedagogy of the Oppressed mula-mula ditujukan buat memberdayakan kaum miskin buta huruf di Recife, kota pelabuhan di pantai Utara Brasil. Tak heran, Freire lebih populer di kalangan lembaga swadaya masyarakat ketimbang di sekolah formal. Freire lebih dikenal sebagai andragog (pendamping kaum dewasa) lewat popular education ketimbang pedagog (pendidik generasi muda). Pedagogi freirean identik dengan metode hadap masalah, bukan pendidikan konvensional gaya bank, perlawanan atas budaya bisu, menentang domestikasi (penjinakan), metode dialogal atau pengajaran non-indoktrinatif, penyadaran, dan pengharapan. Conscientizacao (konsientisasi) digunakan Freire untuk mendiskripsikan proses perkembangan individu yang berubah dari kesadaran magis dan naif menuju kesadaran kritis. Hakekat pendidikan, bagi pemikir dari Brasil dan pelopor paradigma pendidikan keadilan sosial dengan pendekatan pemberdayaan manusia itu memang penumbuhan kesadaran kritis ---bukan kesadaran magis dan kesadaran naif. Kesadaran magis tidak mampu menemukan kaitan antara kemiskinan dengan struktur sosial, ekonomi, dan budaya yang mengondisikan kaum miskin nestapa. Kesadaran ini fatalis karena menempatkan faktor di luar manusia sebagai sumber ketidakberdayaan. Kemiskinan diterima sebagai kodrat yang tidak bisa diubah. Kesadaran naif menyalahkan manusia sebagai sumber kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Berangkat dari kesadaran ini, muncul paradigma pendidikan kompetitif dengan pendekatan sumber daya manusia. Konsep link and match contoh sesat pikir pendidikan bermuara pada kesadaran ini. Kesadaran kritis melihat struktur politik, sosial, ekonomi, dan budaya sebagai akar penindasan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Pedagogi penyadaran Paulo Freire memfasilitasi masyarakat “buta huruf” (berkesadaran magis dan naif) agar bisa “membaca” (berkesadaran kritis) dan memahami bagaimana struktur sosial, politik, ekonomi, dan budaya mengorbankan dan menindas mereka. Tujuan akhir conscientizacao mengubah struktur masyarakat yang zalim menjadi adil dan lebih manusiawi. Pendidikan, menurut salah satu konsep aslinya adalah paideia (pedagogi). Artinya pembentukan generasi muda agar menjadi manusia berbudaya yang mampu mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan di Indonesia, istilah budayawan Bakdi Sumanto, baru sebatas pengajaran untuk menghasilkan para siswa-siswi ingkang bagus alus, ayu merak ati, pinter etung, nulis, nggambar, kalawan maca (para siswa-siswi yang tampan, cantik, pintar berhitung, menulis, menggambar, dan membaca). Terjadi pengerdilan makna pendidikan dan pemungkretan esensi pendidikan. Pendidikan tidak mendorong peserta didik dan pendidik berkomunikasi dengan realitas sosial yang terjadi di luar sekolah---padahal, bagi Paulo Freire, pendidikan adalah dialektika peserta didik, pendidik, dan realitas sosial. Freire menekankan pentingnya pendidikan dialogal agar mendayakan dan mengayakan ketimbang pendidikan bercorak otoriter yang menjinakkan. Pendidikan punya kecenderungan mengindoktrinasi, menghegemoni, dan mendominasi karena berpendekatan top-down, sistemnya militeristik (seragam, ideologis, disiplin mayat), dan menggunakan metode anjing. Para murid agar setia dan tunduk, sebagaimana relasi tuan dan anjing, dididik dengan ganjaran sekaligus hukuman. Guru agen yang mengawasi dan merendahkan martabat siswa. Sekolah menjadi lingkungan penuh sensor yang memupus bakat dan gairah siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu. Jelas ini bukan pendidikan melainkan “pembuayaan” yang memblokir manusia untuk menjadi manusia otentik. Kurikulum di jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah Indonesia mencantumkan topik-topik berbagai bidang studi secara rinci. Tugas pendidik sekedar mengangkat pokok bahasan demi pokok bahasan dan mengabarkan isi buku teks. Mutu hasil pembelajaran menjadi absurd karena yang dipakai sebagai ukuran hanyalah daya serap (kemampuan menghimpun pengetahuan) yang diungkap lewat proses evaluasi hasil belajar bersifat artifisial---ebtanas. Sistem pengajaran monologal yang menonjolkan otoritas dominan dalam konteks pedagogi Freirean jelas mentunadayakan siswa. Silang sengkarut pentunadayakan juga diakibatkan: lemahnya motivasi dan dedikasi guru untuk menjadi pendidik berjiwa otentik; semakin banyak guru yang kebetulan menjadi guru, sejak awal tidak komit menjadi guru; kematangan emosional, kemandirian berpikir, dan keteguhan sikap mereka rendah sehingga kepribadian mereka memancarkan ketidaksiapan jadi pendidik. Pendidikan di Indonesia agar mengobarkan pengharapan --mengadaptasi pemikiran Francis Wahono (2002)-- pendekatannya mesti bottom-up, sistemnya petani, dan menggunakan metode ayam. Kurikulum, sebagaimana petani memperlakukan tanaman sesuai konteks alam, disampaikan hanya melalui penggarapan dan penjiwaan pendidik berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata peserta didik. Pendidik, setali tiga uang induk ayam mestinya tidak memaksa anak-anaknya menjadi penurut melainkan memandirikan, mendewasakan, dan melindungi mereka dari mara bahaya. Bukan membiarkan pelajar tawuran dan terjerumus narkoba.
J. Sumardianta

Resensi di GATRA, Senin, 22 Juli 2002

Resensi Buku di GATRA, Senin, 22 Juli 2002
Menyiasati Pluralisme Nurcholish
PROF. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) merupakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasan tentang pluralisme menjadikan Cak Nur intelektual muslim garda depan. Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di ambang kemelelehan dan disintegrasi bangsa, entah akibat keragaman etnisitas, subkultur, identitas agama, dan disorientasi politik. Nur Khalik Ridwan, melalui buku Pluralisme Borjuis (Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur) ini, melakukan kajian kritis atas gagasan pluralisme Cak Nur. Peneliti jebolan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini menganggap pemikiran Cak Nur, kendati memiliki tingkat liberalisasi tinggi, serta didukung penguasaan khazanah Islam klasik dan modern, telah menjadi semacam rezim kebenaran atau hegemoni intelektual bercorak logosentris. Pribadinya cenderung dikultuskan, dan gagasannya "disakralkan". Nah, pluralisme Cak Nur inilah yang dikaji Khalik dengan perspektif lain. Cak Nur lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 1939. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan khalam Ibnu Taimiya. Berdasarkan hasil lacakan atas genealogi keluarga dan komunitas sosialnya, Khalik menyebut Cak Nur berasal dari lingkaran Islam borjuis. Tipologi Islam borjuis digunakan Khalik untuk mengidentifikasi kelas mengengah atas muslim perkotaan yang secara ekonomi mapan, ideologinya condong ke Masyumi-HMI, dan cenderung mengusung simbol-simbol Islam formal. Menurut Khalik, pluralisme Cak Nur, yang bertumpu pada gagasan Islam agama universal, tetap berputar di orbit komunal partikular karena masih melihat kebenaran agama lain dengan perspektif agama sendiri. Dalam konteks ahlulkitab, Cak Nur hanya terpaku pada agama formal dan mengesampingkan "paham-paham keagamaan" masyarakat adat yang terkesan primitif namun kaya kearifan. Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi (menghindarkan umat dari kecenderungan mengukhrawikan persoalan duniawi tanpa kecuali gagasan negara Islam) dan modernisasi (menganjurkan umat berpikir rasional dengan mendukung pembangunan) dinilai Khalik sebagai strategi buat mengelabui rezim otoritarian Orde Baru. Agar komunitas Islam borjuis tidak terus-menerus larut dalam trauma kepahitan politik dibubarkannya Masyumi. Ide Islam yes, partai Islam no, yang diintroduksi Cak Nur saat Soeharto mengebiri partai berbasis agama dan ideologi pada awal 1970-an, dinilai Khalik sebagai strategi neo-Masyumi untuk bersimbiosis dengan kepentingan rezim, agar mereka tidak lagi dituduh mengusung formalisme Islam ke arena politik. Dan agar Soeharto memandang pewaris Masyumi menyantuni Islam substantif. Tak mengheran bila mereka banyak yang jadi petinggi Golkar dan terserap ke birokrasi pemerintahan. Pluralisme Cak Nur, di mata Khalik, tidak memiliki sensitivitas pembebasan bagi kaum buruh, petani miskin di pedesaan, penghuni kampung kumuh, gelandangan, dan "sampah masyarakat" perkotaan lainnya yang rentan ketidakadilan sekaligus pengambinghitaman. Konsepsi Cak Nur tentang Islam sebagai agama keadilan, agama kemanusiaan, dan agama peradaban hanya bisa diakses kaum profesional dan eksekutif muda bergelimang duit, namun kerontang spiritual, melalui berbagai kursus filsafat keagamaan yang diselenggarakan Paramadina di hotel-hotel berbintang. Tak mengherankan pula bila Khalik menyebut kinerja Cak Nur sebagai pluralisme borjuis. Sayang, kerangka sosiologi pengetahuan John B. Thompson, dalam Studies in the Theory of Ideology (1985), kurang didayagunakan Khalik untuk mempertajam hasil analisis. Kendati disajikan dengan langgam subjektivitas yang meledak-ledak, buku ini tergolong karya teologi pembebasan tahap keempat. Refleksinya sudah menggunakan metode analisis nonmarxis, berangkat bukan dari dogmatisme agama, melainkan keprihatinan iman wong kesrakat, dan menyantuni heterogenitas agama dalam perjumpaannya dengan Islam.
[J. Sumardianta, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta]
[Buku, GATRA, Nomor 36 Beredar Senin 22 Juli 2002]