Selasa, 08 Januari 2008

Artikel TEROKA KOMPAS, Sabtu, 22 Juli 2006

Artikel Teroka KOMPAS, Sabtu, 22 Juli 2006
Burung Gagak dan Hasrat Berkorban
J. Sumardianta
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang hidup di atas garis petaka. Rakyat Aceh diterjang tsunami. Warga Yogya, Bantul, Sleman, dan Klaten dirajam gempa tektonik. Penduduk Sidoarjo lintang pukang digelontor semburan lumpur bercampur gas. Masyarakat Sinjai dan Gorontalo di Sulawesi disapu banjir bandang. Terakhir, pantai selatan Jawa pun terkena sapuan tsunami.
Bencana silih berganti mempertontonkan betapa tidak siapnya negeri ini menangani gebalau alam dahsyat. Ungkapan lama mengatakan, ular kobra biasanya memagut dua kali. Malapetaka senantiasa memukul beruntun.
Tidak ada bencana yang berdiri sendiri. Kendati demikian, bencana alam mesti dibaca juga sebagai warta apokaliptik. Bukan untuk meramalkan kehancuran melainkan ajakan bangkit dari reruntuhan. Penderitaan, kematian, dan kehancuran tampak bergandengan tangan dengan belas kasih dan harapan.
Pak Sipon Adisumarto (50 th) bukti nyata ketegaran menaklukkan kesulitan dan ketabahan manusia menghadapi tragedi. Pak Sipon teladan bagaimana manusia belajar, dalam situasi paling kelam dan kurang manusiawi masih bisa menyalakan optimisme. Kakek warga Dusun Sumber Kidul, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, itu selesai menguburkan anak perempuan dan cucunya yang meninggal tertimpa reruntuhan rumah, langsung bergotong-royong membereskan puing-puing bangunan yang membelasah di sekujur dusun.
Pengabdian demi kebaikan
Buruh ladang tebu ini benar-benar tak terpatahkan. Pak Sipon miskin dan sederhana. Namun penderitaan panjang dan ekstrem telah menggembleng dia menjadi manusia kuat dan luar biasa.
Pak Sipon mengajarkan keteladanan hidup perihal ngeduwungi sipat umuk lan atosing ati (menyesali perangai congkak dan bebal hati). Dusun Sumber Kidul memancarkan daya hidup dan kegembiraan justru dari kepapaan Pak Sipon yang begitu rupa. Ketabahan Pak Sipon membuktikan pengabdian demi kebaikan yang lebih besar.
Kecamatan Berbah merupakan wilayah Kabupaten Sleman yang paling parah dihajar bencana. Wilayah ini berada di kawasan sesar (patahan kulit bumi) Kali Opak. Gerakan liar sesar Opak itulah yang meluluhlantakkan Desa Kalitirto, Tegaltirto, Jogotirto, dan Sendangtirto. Berbah, kendati dekat dengan Bandara Adisucipto dan jalan provinsi ke arah Solo dan Surabaya, nyaris terisolasi total mengingat seluruh fokus perhatian tercurah ke Kabupaten Bantul dan Klaten.
Saptono, siswa kelas III SMA, warga Dusun Karang Wetan, Desa Tegaltirto, tidak mau terkungkung dalam sangkar keterpencilan. Walau rumahnya rata tanah, Saptono merelakan diri jadi tenaga relawan untuk desanya. Dia salah satu tulang punggung Komite Gotong Royong Berbah yang dipercaya mendata kebutuhan korban, mencari sumbangan ke donatur, dan mendistribusikan bantuan ke warga dusun yang sangat memerlukan uluran tangan.
Demi bantuan tepat sasaran, Saptono berani bersitegang dengan siapa pun. Dia memotong jalur distribusi posko, langsung menyalurkan bantuan dengan pendekatan individual. Berkat orang-orang seperti Saptono, bantuan itu tidak menumpuk tapi langsung dibagikan ke titik-titik tepat sasaran.
Komite memiliki relawan penghubung yang berasal dari dan mengakar kuat di pedusunan. Komite itu diberi nama Gotong Royong karena semangat gotong-royong memang modal sosial masyarakat Berbah jauh sebelum kawasan ini dirajam malapetaka.
Anggota komite bekerja seperti kesetanan karena menemukan uang receh terbungkus amplop surat di tumpukan pakaian bekas. Uang itu berasal dari tabungan seorang anak kecil yang bersama pakaian pantas pakai miliknya disumbangkan kepada komite. Pemberian dari seorang bocah sehabis-habisnya inilah yang melipatgandakan energi komite untuk terus tandang grayang (bekerja keras tanpa kenal lelah) membantu masyarakat yang sedang dirundung nestapa.
"Belum pernah hidupku begitu bernilai dan bermakna seperti saat ini," ujar Saptono.
Sebagai relawan yang adalah korban, Saptono mendapatkan jendela rohani baru untuk memandang penderitaan. Pada diri Saptono tidak terdapat fatalisme dan sikap menyerah. Dari mulutnya tidak pernah terdengar keluh kesah dan pemberontakan. Di balik tubuh kerempeng dan wajahnya yang tirus terdapat naluri kepemimpinan alamiah. Dia telah mengambil manfaat dari kemalangan.
Pemuda lulusan SMA 2006, diterima di Jurusan Biologi, FMIPA-UGM, tapi terancam putus sekolah ini bagaikan kembang api telah memijarkan cahaya pengharapan bagi para warga desanya. Pada usia belia, Saptono mengajarkan ketangguhan spiritual dalam hal kaprasajan (kebersahajaan), sabar ing manah (kesabaran hati), dan nampi lakon ingkang prihatin (menerima dengan ikhlas dan mengalir kenyataan hidup memprihatinkan).
Beras sedang ditampi
Koyo gabah diinteri. Gempa bumi memperlakukan korban layaknya beras sedang diayak dan ditampi. Bencana sungguh menapis mana emas dan mana yang sekadar loyang.
Doni dan Kevin salah dua di antara manusia berhati emas. Dua pemuda, pengelola Djendelo Kafe Yogyakarta, sehari-harinya telanjur dicap sebagai manusia bermoral bejat sulit diperbaiki. Hidup mereka seperti tidak bisa lepas dari minuman keras. Tapi mereka minum wedang galak sesungguhnya untuk berbagi kebahagiaan dan cinta.
Air kejujuranlah yang membuat mereka jadi manusia otentik dan peka terhadap sesama. Persis seperti yang dikatakan Alexis Sorbas, filsuf jalanan Yunani, "Orang yang bisa menyanyi dan menari dengan seluruh ketidaksadarannya karena terendam anggur berarti telah mengalami pembebasan."
Kevin dan Doni menyulap Djendelo Kafe, sejak hari pertama bencana, menjadi posko tempat belasan relawan mangkal. Pontang-panting mereka menggalang dukungan logistik dan dana dari segala penjuru dermawan. Djendelo menyalurkan bantuan logistik ke Kecamatan Pundong, Pleret, Imogiri, dan nun di pelosok Dlingo Bantul. Operasional posko ditomboki dengan dana pribadi. Keduanya seperti tidak punya urat takut saat larut malam harus menembus barikade penjarah dan perompak yang bergentayangan di sepanjang jalan karena teringat wajah tegar perempuan dusun yang meminta kiriman bantuan bumbu pawon.
Doni dan Kevin, dua ikon Pangoentji (Paguyuban Ngoenjuk Tjiu), komunitas para peminum di Yogyakarta, bahagia hidupnya bermakna. Tokoh-tokoh Pangoetji yang lain dengan cara mereka masing-masing juga mengerahkan seluruh survival and existensial need guna meringankan beban masyarakat yang dilanda kesulitan. Kiprah mereka persis seperti menjalankan amanat kuno dari Timur Tengah; barang siapa menyelamatkan satu nyawa dia telah menyelamatkan seluruh dunia.
Sepotong parodi jelas tampak anggun di tengah segala bercak kesengsaraan dan kemalangan. Orang masih memiliki stok humor untuk bisa menertawakan hidup. "Ada posko. Tanya, kenapa?" Parodi iklan rokok ini ditorehkan dengan cat semprot pada sebuah papan yang disandarkan di belakang mobil ringsek di jalan lingkar Karangkajen, Yogyakarta. Mungkin lelucon itu hendak menertawakan keberadaan posko yang terdiaspora di mana-mana hingga menimbulkan kesulitan distribusi bantuan karena posisinya yang tidak terkonsentrasi di suatu kawasan mudah jangkauan.
Rabindranath Tagore, pujangga besar India, pernah berujar, "Anda diundang untuk menertawakan kesia-siaan hidup ini dan hidup Anda akan penuh berkah". Di daerah Segeroyoso, Plered, Bantul, ada korban yang berperilaku eksentrik menampilkan humor tingkat tinggi. Ia memacak meja panjang dipinggir jalan raya. Dia atas meja itu ia menawarkan seluruh koleksi daya tariknya: aneka perkakas rumah tangga ringsek seperti kulkas, jam dinding, dan sepeda. Di dekatnya tergantung papan menggelayut di ranting pohon bertuliskan "For Sale. Barang Barang Antik Warisan Gempa".
Tertawa menjadi semacam biduk tempat orang Plered itu berpegangan tatkala hidupnya diguncang disorientasi. Hanya di tempat di mana orang hidup berdekatan dengan kematian yang bisa melantunkan banyak teladan tentang solidaritas, cinta, dan harapan. Bencana telah mendidik manusia agar tidak terjerumus dalam kesia-siaan sebuah dunia yang sia-sia, yang berlumuran kemunafikan, hipokrisi, dan tipu muslihat.
Bencana seolah membenarkan kebajikan Kuan Tzu, Bapak Taoisme: "Jika saat berpulang tiba, aku hanya membutuhkan beberapa lembar daun pisang saja untuk berbaring selamanya". Derajat (kedudukan), pangkat (kekuasaan), dan semat (prestise) tidak ada artinya lagi.
Ini peringatan buat manusia yang menjelma burung gagak pemakan bangkai, tikus, ular, dan kalajengking yang berkaok-kaok dan berkeriapan memperdagangkan kemarahan alam dengan mengatasnamakan aids politics maupun aids industry.
J SumardiantaGuru SMA Kolese de Britto Yogyakarta, Kordinator Komite Gotong-Royong Berbah, Sleman
Kompas, Sabtu 22 Juli 2006 - kolom Humaniora
Resensi Buku KOMPAS Minggu, 17 Juli 2005
Berjumpa Tuhan dalam Segala
Penulis: J. Sumardianta
Almarhum Tamin, legenda ludruk dari Malang, Jawa Timur, adalah pelawak yang hidupnya total didedikasikan untuk panggung kesenian. Ironisnya, Tamin tidak punya pakaian kecuali yang melekat di tubuhnya.
Petualangan Tamin dalam kemiskinan merupakan lawakan nyata yang sungguh surealis. Ia sering berendam lama di Kali Berantas menunggu kering satu-satunya jemuran yang baru dicuci. Di sungai ini pula hidung Tamin yang busuk tanggal diterjang air terjun. Pelawak dengan hidung growong ini walau menderita hidupnya bermartabat.Meski berkekurangan, tetapi Tamin dikenal seniman yang merdeka, tak terikat apa pun. Di panggung maupun dalam pergaulan lumrah, Tamin selalu membuat orang tertawa terpingkal-pingkal. Ia membuat orang yang letih lesu bisa menertawakan diri dan kondisi. Hidup sejenak menjadi nyaman karena seluruh beban hidup diringankan."Tertawa adalah persepsi terhadap situasi yang kontradiktif," kata filsuf Emmanuel Kant seperti dikutip Sindhunata, penulis buku ludruk Ilmu Ngglethek Prabu Minohek. Tawa orang miskin yang didera busung lapar dan krisis bahan bakar adalah kegembiraan dalam kesedihan. Tawa penguasa yang merengek terus minta kenaikan tunjangan adalah kebahagiaan penuh kemunafikan."Apabila kehidupan sehari-hari rasanya miskin, janganlah kau keluhkan, tetapi sesalilah dirimu karena kamu tidak cukup tabah untuk menggali kekayaannya,"demikian adagium Rilke, penyair Jerman.Sepintas absurditas kehidupan Tamin tidak mengandung dimensi rohani. Tetapi, bila direnungkan dalam-dalam, Tamin kaya-raya harta karun spiritual. Tamin, meminjam kerangka berpikir William James dalam buku Perjumpaan dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia, adalah gambaran pribadi yang merealisasikan nilai-nilai luhur sarat pengalaman spiritual. Kemampuan Tamin melucuti paradoks dan tragedi dengan mengubahnya jadi canda tawa itu disebut antropolog James Scott sebagai weapon of the weak (senjata kearifan kaum rudin).Protes Tamin bukan dengan diam atau revolusi yang hanya memangsa orang jelata sendiri, melainkan dengan mengironikan penderitaan. Ironi melegakan karena memberdayakan orang miskin untuk bisa menertawai kesengsaraan. Kaum kecingkrangan, menyitir Karl Rahner, teolog masyhur Jerman abad ke-20, berkat ironi bisa mencapai transendensi-pengalaman diberdayakan Sang Adikodrati melalui mistisisme konkret sehari-hari.Buku Perjumpaan dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia karya William James, bapak psikologi Amerika, bila diperas menggunakan teknik resensi focusing, saripatinya memang penghayatan spirit tasawuf dalam hidup sehari-hari. Dalam ajaran Ignatius Loyola, mistikus Spanyol abad ke-16 yang dikaji William James, mistisisme konkret berpangkal pada pengalaman nyata itu disebut "sastra gumelar ing jagat (Pinanggih Gusti ing sembarang kalir)". Maksudnya, manusia bisa menjumpai Tuhan dalam dan melalui peristiwa-peristiwa sehari-hari yang tampak bersahaja.Ungkapan syukur!Mengalami perjumpaan dengan Tuhan bukan hanya di saat orang berdoa dan beribadah. Juga saat mencangkul di sawah, menyabit rumput, menggembalakan ternak, mencari kayu bakar, bekerja di pabrik, dan berjualan di pasar.Tuhan juga bisa ditemukan terlebih dalam penderitaan, kesukaran, kelemahan, dan penyakit. In actionem contemplativus, segala tindak-tanduk manusia bila dihayati bisa menjadi ungkapan syukur pada Yang Mahakuasa.William James adalah anggota sebuah generasi yang membangun filsafat Amerika seangkatan dengan John Dewey dan George Santayana. Agama dan pengalaman religius merupakan dua kata kunci buku William James. Agama bagi William James (1842-1910) bukanlah dogma, lembaga, dan hierarki kepemimpinan yang terkesan formal dan kaku melainkan pengalaman kerohanian dalam praktik keberagamaan yang unik dan personal.Agama dalam paradigma James tidak lain segala perasaan, tindakan, dan pengalaman pribadi manusia dalam kesendiriannya, sejauh mereka memahami diri mereka saat berhadapan dengan apa pun yang mereka anggap sebagai yang Ilahiah. Sedangkan pengalaman religius meliputi pemikiran, penghayatan, keyakinan, dambaan, dan tindak-tanduk yang berkaitan dengan religiusitas.Pengalaman religius itu berakar pada kesadaran mistis. Dunia nyata Ini dalam pandangan William James bagian dari jagat spiritual yang lebih luhur tingkatannya dan memberi makna pada dunia nyata. Harmoni di antara keduanya merupakan tujuan hakiki manusia guna meraih kebahagiaan lahir batin.William James memang memberi legitimasi pada kehidupan sunyi kaum mistikus. Kendati kritis terhadap lembaga-lembaga yang potensial menghambat dorongan keberagamaan yang personal, James tidak bermaksud mengobarkan anarki spiritual. Ia tetaplah pemikir yang senantiasa merindukan keteraturan.James menganggap buku ini sebagai sebentuk nazar untuk menunaikan janji kepada Henry James, ayahnya, bahwa suatu hari ia ingin berurusan dengan agama secara sistematis. Maklum, William James dibesarkan dalam keluarga republikan, yang tidak mendidik anak-anaknya dengan agama yang benar ala kaum Presbyterian.Buku ini merupakan karya menonjol pada bidang psikologi agama yang ditakdirkan sebagai buku agama paling berpengaruh yang diterbitkan pada awal abad ke-20. Semula merupakan bahan-bahan kuliah William James saat diundang menjadi dosen tamu di Universitas Gifford Edinburg Skotlandia (1901-1902).Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1902, sampai tahun 1935 buku best seller ini telah naik cetak 35 kali. William James mengedepankan fenomena keagamaan dalam pandangan orang-orang yang mengalaminya sendiri. Itu sebabnya membantu upaya menampilkan banyak kesaksian tentang kekuatan iman pada kehidupan manusia.William James, sebagai peletak dasar psikologi pragmatis memandang agama dari buah-buah rohani yang dihasilkannya. Pada zaman kuantum sekarang ini, agama telah direduksi menjadi barang konsumsi oleh siapa saja yang sedang keranjingan berbelanja hal-hal spiritual. Sekularisme nyaris membuat manusia jadi pengemis. Berdoa hanya untuk minta jodoh, rezeki, pangkat, kelancaran bisnis, sembuh dari penyakit, dan bebas dari segala macam kesulitan.Buku ini mengajak orang kembali bersyukur dan bersembah sujud dalam kesatuan mistik dengan Sang Adikodrati. Bukan menyogok Tuhan agar mau tunduk pada segala hukum permintaan manusia.
J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese de Britto Yogyakarta

Resensi Buku Spiritual Kapital KOMPAS Minggu, 25 September 2005


KOMPAS Minggu, 25 September 2005
Bisnis yang Dilambari Hati Nurani
- Judul Buku: Spiritual Capital Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis- Judul Asli: Spiritual Capital Wealth We Can Live By Using Our Rational, Emotional and Spiritual Intelegence to Transform Ourselves and Corporate Culture- Penulis: Danah Zohar dan Ian Marshall- Penerjemah: Helmi Mustofa- Penerbit: Mizan-Bandung, Agustus 2005- Tebal: 254 halaman
Oleh: J Sumardianta
Mats Lederhausen adalah profesional muda yang meraih puncak karier pada usia 30-an. Chief Executive McDonald’s Swedia ini pernah menghadapi dilema karier. Mats tidak bahagia kendati keluarganya harmonis dan berkelimpahan uang. Ia gamang dengan pekerjaan yang ditekuninya. Ia ingin memperbaiki kualitas hidupnya.
Mats sangat prihatin dengan krisis lingkungan hidup dan runtuhnya masyarakat yang meraja di pelbagai belahan dunia. Perusahaan besar tempatnya bekerja tidak cukup melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Kata Mats, ”Saya hanya mencari uang. Saya habiskan 13 jam tiap hari untuk bekerja pada McDonald’s. Saya tidak mengabdikan diri untuk hal-hal yang sangat saya pentingkan. Saya ingin memiliki arti dengan menjadi bagian dari solusi, bukan masalah.”
Ada tiga pilihan yang ia miliki. Tetap di McDonald’s untuk melakukan perubahan, menjadi konsultan independen. Atau, hidup membiara di Tibet. Ia memilih bertahan dan menulis surat keprihatinan kepada Jack Greenburg, CEO McDonald’s, dan mendapat kejutan diundang ke Chicago untuk mempresentasikan gagasannya. Tidak disangka, Mats memperoleh promosi yang tidak pernah ia bayangkan: vice president strategy.
Mats kini digaji sebagai tukang kritik untuk mendongkrak perusahaan. Ia menjalankan upaya menentang organisme yang dimodifikasi secara genetik, kampanye pembuatan kandang lebih luas, melakukan kemitraan dengan Conservation International untuk menanggulangi kerusakan ekosistem bumi, dan merancang sumbangan McDonald’s guna mewujudkan pertanian berkelanjutan. Mats mengikuti Vivekananda, filsuf India, ”Semesta ini hanyalah aula tempat jiwa latihan geladi rohani”.
”Spiritual Capital”
Danah Zohar dan Ian Marshall, penulis buku Spiritual Capital (SC), menyebut kegelisahan, keprihatinan, kebutuhan, dan pergulatan riil eksistensial Mats yang mendalam untuk melakukan sesuatu guna menjadikan hidup mengabdi menjadi tujuan penuh makna merupakan kecerdasan spiritual (SQ). Pasangan suami-istri, penulis best seller SQ, yang berdomisili di Oxford, Inggris, ini menyebut Mats memiliki kecerdasan hati nurani. Kecerdasan yang memberikan kesadaran bahwa hidup punya dimensi lebih dalam ketimbang sekadar menghabiskan waktu untuk memupuk modal material. Spiritual berarti prinsip yang memvitalisasi suatu organisme. SQ tidak harus dikaitkan dengan agama atau kepercayaan apa pun. SQ bersifat universal berkaitan dengan nilai, makna, dan tujuan fundamental hidup manusia.
Kedua tokoh bereputasi internasional itu menilai SQ Mats tinggi. Hasratnya untuk memperjuangkan visi, nilai, makna, dan tujuan mulia telah menggeser skala motivasi kerjanya dari -3, serakah (bekerja demi uang) menjadi +3, kekuatan dari dalam, bahkan +6, pengabdian lebih tinggi. Pemimpin pengabdi seperti Mats memiliki dan menjalankan kekuasaan dengan penuh kerendahan hati. Mats layak dijuluki ksatria yang menciptakan budaya baru SQ. Pantas pula disebut master karena menerapkan SC yang berdampak luas.
Buku ini, sebagaimana diungkapkan penulisnya di halaman persembahan, memang didedikasikan buat Mats Lederhausen. Eksekutif muda ini teladan nilai-nilai asketik dan altruistik dalam bisnis, mengingat paradigma umum kaum profesional di kebanyakan perusahaan cenderung serakah, egoistik, dan oportunis dalam perburuan keuntungan melulu demi keuntungan itu sendiri (the pursuit of profit for its own sake). Paradigma itu dilukiskan filsuf Ludwig Wittgenstein dengan ungkapan, ”Jika yang kau miliki hanyalah palu, segalanya lalu tampak seperti paku”. Eksekutif dan manager pada umumnya digerakkan motivasi-motivasi rendah seperti ketakutan (-4), keserakahan (-3), kemarahan (-2), dan penonjolan diri (-1) yang mengorbankan kualitas hidup. Semua motivasi destruktif itu bak monster, memangsa diri sendiri. Motivasi yang membuat kapitalisme dan praktik bisnis yang beroperasi di dalamnya diterjang krisis dan tidak punya masa depan.
Kaum profesional pada umumnya menjalani hidup di gurun spiritual bercirikan artifisialitas, ketiadaan komitmen, hampa makna, dan erosi akan kepastian moral-religius. Mereka mengabaikan SC yang bisa menciptakan kebaikan, kreativitas, visi, dan toleransi tinggi terhadap stres.
Bisnis yang mengabaikan SC tidak berkelanjutan karena terbukti menimbulkan krisis kepemimpinan pada perusahaan-perusahaan terkemuka. Problem perusahaan itu pada dasarnya despiritisasi. Perusahaan harus menghasilkan uang. Kerja dirumuskan sebagai mengejar uang. Namun, manusia, hakikatnya makhluk spiritual yang selalu dahaga akan nilai dan makna. Jadi, kehidupan korporasi menyingkirkan kerinduan manusia sebagai makhluk bermakna. Bisnis di zaman kuantum tak ubahnya rawa tempat buaya besar menggunakan semua jenis penipuan, kecurangan, dan laporan palsu untuk mengenyangkan perut sendiri.
Kapitalisme adalah instrumen paling dominan yang dengan uang dan kekuasaannya bisa menimbulkan perubahan signifikan. Buku ini bukan antikapitalis dan antibisnis, melainkan ingin mengubah kapitalisme yang amoral, myopic, dan mengutamakan kepentingan jangka pendek. Penulisnya tidak menampik mekanisme ekonomi yang telah menghasilkan kekayaan material yang belum pernah dicapai dalam sejarah umat manusia sebelumnya itu. SC memperkaya dan melestarikan jiwa manusia, sekaligus membuat bisnis berkelanjutan.
Modal material dihasilkan kecerdasan intelektual (IQ). Sementara, modal sosial dibangun dengan kecerdasan emosional (EQ). Eksplorasi makna, nilai, dan tujuan fundamental (SQ) seseorang atau perusahaan akan menghasilkan SC. Nah, ketiga jenis modal dan ketiga jenis kecerdasan itu bila dipadukan akan mengubah budaya bisnis dan perusahaan. Hasilnya? sinergi kegigihan memupuk laba dengan cita-cita luhur. Kesuksesan material beriringan dengan kesuksesan spiritual. Manipulasi diubah menjadi pemberdayaan. Disiplin kaku diganti flesibilitas. Dedikasi menggeser egoisme. Dan, mengubah sikap masa bodoh menjadi kepedulian.
Merck Pharmaceutical menyediakan obat-obatan gratis guna mencegah meluasnya kebutaan akibat parasit river blindness di Afrika. Starbucks memiliki komitmen untuk memberikan harga pantas kepada para petani kopi. Pun pembangunan infrastruktur kesehatan dan pendidikan. Coca-Cola punya program akbar mendirikan klinik-klinik kesehatan di pedesaan China. Semua bermula dari keinginan murni melakukan kebajikan yang bersemayam tepat di jantung visi dasar perusahaan. Visi yang dilambari spiritual mendalam.
Mengubah tindakan SC, mengubah tindakan berdasarkan motivasi rendah menuju tindakan berdasarkan motivasi tinggi (eksplorasi, kekuatan dari dalam, penguasaan diri, dan pengabdian yang lebih tinggi). Konsep baru SC yang diperkenalkan suami-istri Danah Zohar dan Ian Marshall mengadopsi sistem adaptif kompleks manusia, berkaitan dengan 12 prinsip transformasional: kesadaran diri, spontanitas, terbimbing oleh visi dan nilai, holistik, kepedulian, menyantuni keragaman, independensi terhadap lingkungan, membingkai ulang, pemaknaan positif atas kemalangan, rendah hati, dan keterpanggilan.
Dalam buku ini, supaya kapitalisme tidak menjadi monster, Danah Zohar dan Ian Marshall menawarkan skala motivasi baru dengan merevisi piramida kebutuhan manusia ala Abraham Maslow. Pemenuhan kebutuhan justru harus dimulai dari aktualisasi diri (makna), harga diri (ego), dan keterlibatan sosial sebagai kebutuhan lebih tinggi. Baru pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup seperti kecukupan fisiologis, keselamatan, dan keamanan diri. Psikolog Abraham Maslow sendiri telah mengakui kekeliruannya sebelum wafat.
Buku ini ditujukan untuk perubahan paradigma pada level individu maupun perusahaan. Ditulis berdasarkan pengalaman puluhan tahun Danah Zohar sebagai konsultan kepemimpinan strategik dan Ian Marshall sebagai psikiater pengikut Carl Gustav Jung—psikoanalis mashyur yang gagasannya melampaui pesimisme Sigmund Freud. Buku ini mengombinasikan ide-ide sains baru abad ke-21, terutama fisika kuantum, chaos, dan sains kompleks.
Penerjemahan buku yang edisi Inggris-nya terbit tahun 2004 ini patut mendapat pujian. Kualitas terjemahannya bukan sekadar transilterasi melainkan transkulturasi. Cocok juga dibaca oleh pendidik, psikolog, konselor, dan pekerja sosial. Kendati demikian, paradigma baru SC tetaplah produk pemikiran Barat dengan segala bias kepentingan neoliberalnya. Ontologi (hakikat) dan epistemologi (cara pandang) kapitalisme neo-liberal mengondisikan manusia melulu jadi makhluk pengeruk tunai dengan menghalalkan segala cara. Bila diterapkan dengan tidak tulus, SC akan menyelubungi topeng kemunafikan kapitalisme dengan strategi ”aku melindungi diriku dengan menolongmu”.
J Sumardianta, Guru SMA Kolese de Britto, Yogyakarta

Esei tentang Puisi Jokpin di KOMPAS Minggu, 30 September 2007

Lubuk Kontemplasi Arus Dangkal Hedonisme
(Kompas, Minggu, 30 September 2007)
Oleh J. Sumardianta
“Bukalah mata tuan dan lihatlah. Di tempat petani meluku tanah yang keras. Di tempat pembuat jalan meratakan batu. Di situlah Tuhan. Bersama mereka Tuhan berpanas dan berhujan. Turunlah ke tanah berdebu itu, seperti Dia. Bangkitlah dari samadi. Hentikan meronce bunga dan membakar setanggi. Meski pakaian tuan lusuh dan kotor. Cari Dia dalam bekerja, dengan keringat di kening tuan.”Sajak gubahan Rabindranath Tagore, pujangga besar India, di atas merupakan cermin kepekaan terhadap hidup dan alam yang sarat dengan kebajikan teosofis. Kearifan teosofi mengajarkan bahwa Tuhan bisa ditemukan di mana-mana. Tuhan bisa dijumpai saat petani membajak dan menggaru sawah. Saat kuli bangunan memecah batu penjuru. Saat peternak menyabit rumput. Saat buruh bekerja di pabrik. Saat bakul berjualan di pasar. Pendeknya, kehadiran Tuhan mudah dirasakan dalam kegiatan riil eksistensial yang sepintas terkesan tidak ada kaitannya dengan hidup religius dan bakti.Khasanah spiritual Jawa mengajarkan aforisma, “Urip iki sejatine sastra gumelar ing jagat. Pinanggiha Gusti ing sembarang kalir. Temokno Gusti ing tek kliwer lan ing obah mosike uripmu (Hidup ini sesungguhnya susastra yang terhampar di jagat raya. Tuhan bisa ditemukan dalam segala. Temukanlah Tuhan dalam kehidupan keseharianmu yang berpeluh dan penuh bercak kesulitan).”Aforisma teosofis itulah yang terhampar pada antologi sajak-sajak Joko Pinurbo (Jokpin): Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), dan yang terbaru Kepada Cium (2007).Penyair Yogyakarta kelahiran Pelabuhan Ratu, Sukabumi, 1962 ini misalnya menafsirkan peristiwa Paskah yang agung dan heroik dengan idiom mistisisme konkret kehidupan sehari-hari. Jokpin membumikan peristiwa kebangkitan Yesus justru dengan sikap humor agak main-main. Karya keselamatan Sang Nabi ditampilkan dalam momen paling manusiawi. Dalam “proyek” keselamatan toh Yesus tetap memerlukan “celana”. Dan “celana” itu dijahit sendiri oleh Maria, ibuNya.Sajak “Celana Ibu” (2004) memudahkan orang nampi Allah minangka jejering kekeran ingkang winadi (memahami misteri Allah yang tak terselami). Maria sangat sedih menyaksikan anaknya / mati di kayu salib tanpa celana / dan hanya berbalutkan sobekan jubah / yang berlumuran darah. // Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit / dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang / ke kubur anaknya itu, membawa celana / yang dijahitnya sendiri. // “Paskah?” tanya Maria. / “Pas sekali, Bu,“ jawab Yesus gembira. // Mengenakan celana buatan ibunya, / Yesus naik ke surga.Sajak “Terkenang Celana Pak Guru” (1997) memperlihatkan penggubahnya adalah gabungan genius dari ketrampilan seorang penyair menciptakan bahasa dan kedalaman refleksi seorang pemikir yang bersikeras hendak mengubah tragika nasib menjadi ironi yang melegakan. Masih pagi sekali, Bapak Guru sudah siap di kelas. / Kepalanya yang miskin dan merana terkantuk-kantuk, / kemudian terkulai di atas meja. / Kami, anak-anak yang bengal dan nakal, beriringan masuk / sambil mengucapkan, “Selamat pagi, Pak Guru.” // Pak guru tambah nyenyak. Dengkur dan air liurnya / seakan mau mengatakan, “Bapak sangat lelah.” // Hari itu mestinya pelajaran Sejarah. / Pak Guru telah berjanji menceritakan kisah para pahlawan / yang potretnya terpampang di seluruh ruang. / Tapi kami tak tega membangunkannya. / Kami baca di papan tulis, “Baca halaman 10 dan seterusnya. / Hafalkan semua nama dan peristiwa.” // Sudah siang, Pak Guru belum juga siuman. / Hanya rits celananya yang setengah terbuka / seakan mau mengatakan, “Bapak habis lembur semalam.” // Ada yang cekikikan. / Ada yang terharu dan mengusap / matanya yang berkaca-kaca. / Ada pula yang lancang membelai-belai gundulnya / sambil berkata, “Kasihan kepala yang suka ikut penataran ini.”Sajak-sajak Jokpin --di tengah kecenderungan pendangkalan oleh hedonisme yang begitu gandrung kapilangu (mendewakan kenikmatan materi, derajat, pangkat, kekuasaan, dan uang)-- menawarkan kedalaman suasana kontemplatif. Suasana meditatif yang kebak luber kocak-kacik (bergelimang) nilai dan makna itu, misalnya, diwakili sajak “Kepada Cium” (2006): Seperti anak rusa menemukan sarang air / di celah batu karang tersembunyi, // seperti gelandangan kecil menenggak / sebotol mimpi di bawah rindang matahari, // malam ini aku mau minum di bibirmu. // Seperti mulut kata menemukan susu sepi / yang masih hangat dan murni, // seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri / pada luka lambung yang tak terobati.Transendensi merupakan kebutuhan psikologis dasariah manusia. Manusia, di samping memenuhi kerinduan akan pengalaman adikodrati dengan berdoa dan beribadah, juga memiliki alternatif untuk mencukupi kehausan transendensi dengan musik, sastra, olah raga, dan sebagainya.Koleksi sajak-sajak Jokpin bagaikan hiperbarik (terapi oksigen tingkat tinggi) tempat orang bisa menghirup transendensi setelah sekian lama diguncang kepengapan disolasi. Puisi “Sehabis Sembahyang” (2005) menertawakan perangai tamak manusia yang miskin perasaan syukur kendati sudah bermandikan kesejahteraan dan perlindungan. Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku. / Terima kasih atas segala pemberianmu, / mohon lagi kemurahanmu: sekedar mobil baru / yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya / agar aku bisa lebih cepat mencapaimu.Sajak-sajak Jokpin preseden bagus ketangguhan orang-orang kalah di zaman penuh daya-dera yang menggilas. Sajak “Malam Suradal” (2006) mengabarkan bahwa seganas-ganasnya jaman kala bendu sesunguhnya telah gagal menghentikan manusia untuk bertekuk lutut menyerah pada nasib. Sebelum ia berangkat bersama becaknya, / istrinya berpesan, “Jangan lupa beli minyak tanah. / Aku harus membakar batukmu yang menumpuk / di sudut rumah.” / Dan anaknya mengingatkan, “Besok aku harus bayar sekolah. / Aku akan giat belajar agar kelak dapat membetulkan nasib Ayah.”
Ya, di jaman edan karena digiling mesin ketidakpastian turbulensi, ukuran kesuksesan tidak lagi melulu diukur dari akumulasi kekayaan, status sosial, jabatan, dan kekuasaan. Parameternya, saat terjatuh di jurang kegagalan, manusia tetap punya nyali untuk mengambil hikmah dari kemalangan.Seperti dikatakan filsuf Nietzche, “Segala sesuatu yang tidak membunuhku akan membuatku kuat.” Berani menghadapi kepedihan yang disertai rasa malu. Memiliki daya pegas untuk tetap berkembang melampaui risiko sebagai konsekuensi pilihan hidup. Mengambil hikmah dari kemalangan menuntut pengakuan akan fakta tragis tapi indah: bahwa tidak semua masalah memiliki solusi dan tidak semua perbedaan bisa didamaikan.
Kehidupan manusia modern terlanjur dipenjara house (bangunan gedung yang sumpek dan gerah), bukan bersemayam di hunian yang membuat krasan dan betah (home). Sajak “Cita-Cita” (2003), dalam kerangka mistisisme konkret, mengandung sugesti perihal mendasarnya kebutuhan manusia akan ruang batin untuk hening. Dalam kata-kata William Shakespeare, “Mampu menanggung penderitaan yang bersemayam di jantung kreativitas.” Pendeknya, manusia yang senantiasa didera suasana hiruk pikuk gaduh, mesti nggegulang amrih mboten kajiret bebalutaning gesang (terlatih dan memiliki keberanian untuk melepas beban hidup).Setelah punya rumah, apa cita-citamu? / Kecil saja: ingin bisa sampai di rumah saat senja supaya saya / dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela . // Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk, // uang makin banyak maunya, jalanan macet, / akhirnya pulang terlambat. / Seperti turis lokal saja, singgah menginap / di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.Penampilannya kadang terkesan udik. Posturnya kerempeng. Siapa pun yang mengenal dan memergoki Jokpin untuk pertama kali pasti tidak menyangka kalau lelaki santun bersahaja berwajah tirus itu seorang penyair yang bukan sembarangan. Sajak-sajak Jokpin seakan representasi hidup kesehariannya yang sak madyo (ugahari), climen (apa adanya). Itu sebabnya, penyair produktif ini gemar mengajak pembaca bertamasya ke tapal batas absurd nasib manusia antara yang getir dan yang jenaka. Sajak-sajak Jokpin sering menggelikan hati, sekaligus membuat pembaca terbujur kaku ditelikung imajinasi liarnya. ****J. Sumardianta, guru SMA Kolese de Britto Yogyakarta.

Esei Di Balik Buku JAWA POS Minggu, 12 Agustus 2007

JAWA POS Minggu, 12 Agustus 2007
Mata Baru Peresensi Buku
Oleh: J. Sumardianta
RABU (15/8) besuk penerbit Mizan Bandung akan menyelenggarakan acara Kumpul Peresensi Buku di Kaliurang, Yogyakarta. Panitia mengundang sekitar 50-an peresensi yang aktif meresensi buku-buku produk Mizan Group. Domisili para peresensi itu tersebar di kota-kota seantero Jawa. Jogjakarta dipilih sebagai tempat perhelatan karena mayoritas peserta menetap di kota pelajar itu.
Gathering peresensi itu akan menghadirkan tiga narasumber: Hernowo, mewakili kelompok penerbit Mizan; Arief Santosa, penjaga Rubrik Buku Jawa Pos; dan saya sendiri. Hernowo akan berbicara mengenai resensi sebagai gagrak penulisan kreatif. Arief Santosa akan menceritakan suka duka mengelola rubrik pustaka, sedangkan saya hendak berbagi spirit sejauh ditemukan dari kegiatan memasak dan menjajakan tulisan di media cetak.
Kumpul peresensi Mizan bertema “Buku Melangitkanku” merupakan pertemuan banyak hasrat. Penerbit memperoleh media penyebarluasan informasi, redaktur mendapatkan suplai naskah berbobot dan bermutu, sementara peresensi semakin profesional dalam ngracik ukara ngrumpaka basa (menekuni bidang baca tulis).
“Reading and writing is a basic toll in living of a good life (Membaca dan menulis merupakan salah satu piranti dasar kehidupan yang berkualitas),” ujar Mortimer J. Alder. Baca tulis merupakan dunia yang mesti membuat hidup pelakunya, termasuk peresensi, bergelimang nilai dan bermandikan makna.
Ambil contoh, antologi puisi Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung. Buku penyair Joko Pinurbo (2007) itu memperlihatkan penggubahnya gabungan genius keprigelan seorang maestro penyair menciptakan bahasa dan kedalaman refleksi seorang pemikir yang bersikeras hendak mengubah tragika nasib menjadi ironi yang membebaskan berdasarkan prinsip pembingkaian ulang masalah.
Sajak Terkenang Celana Pak Guru membuat pembaca, saat terjatuh di jurang kegagalan, tetap punya nyali untuk mengambil manfaat dari kemalangan. Masih pagi sekali, Bapak Guru sudah siap di kelas./ Kepalanya yang miskin dan merana terkantuk-kantuk,/ kemudian terkulai di atas meja./ kami, anak-anak yang bengal, beriringan masuk sambil mengucapkan, “Selamat pagi, Pak Guru”/ Pak guru tambah nyeyak. Dengkur dan air liurnya seakan mau mengatakan, “Bapak sangat lelah.” Hari itu mestinya pelajaran Sejarah. Pak Guru telah berjanji menceritakan kisah para pahlawan/ yang potretnya terpampang di seluruh ruang. Tapi kami tak tega membangunkannya./ kami baca di papan tulis, “Baca halaman 10 dan seterusnya./ Hafalkan semua nama dan peristiwa.”/ Sudah siang, Pak Guru belum juga siuman./ Hanya rits celanya yang masih setengah terbuka seakan mau mengatakan, “bapak habis lembur semalam.”/ Ada yang cekikikan./ Ada yang terharu dan mengusap/ matanya yang berkaca-kaca./ Ada pula yang lancang/ membelai-belai gundulnya sambil berkata, “kasihan kepala yang gemar ikut penataran ini.”
Antologi Jokpin itu membenarkan aforisma filsuf Nietzche, “Segala sesuatu yang tidak membunuhku akan membuatku kuat”. Mengambil manfaat dari kemalangan menuntut pengakuan akan fakta tragis tapi indah bahwa tidak semua masalah memiliki solusi. Tidak semua perbedaan bisa didamaikan. Berani menghadapi kepedihan yang disertai rasa malu. Memiliki daya pegas untuk tetap berkembang melampaui risiko sebagai konsekuensi pilihan hidup.
Seorang peresensi mesti memiliki antene kepekaan guna memilah mana literatur yang mengandung asupan rohani tinggi, mana literatur yang, maaf, “sekadar mencerdaskan kehidupan bangsat”. Bisa membedakan bacaan yang bila di-review di media massa meningkatkan maqam spiritual ke level lebih tinggi. Bukan literatur sastra peternakan yang justru memerosokkan pembaca ke dunia pelarian kaum suka hibur yang doyan berkenes-kenes memuja ketelanjangan.
Buku pancalogi jurnalisme sastrawi karya Sindhunata (2006) Segelas Beras untuk Berdua, Dari Pulau Buru ke Venezia, Burung-Burung di Bundaran HI, Petruk Jadi Ratu, dan Ekonomi Kerbau Bingung merupakan bacaan wajib bagi siapa pun yang berkecimpung di media cetak, termasuk peresensi. Kelima buku itu menyalakan harapan di tengah kehidupan mayoritas bangsa Indonesia yang sumpek didera aneka percobaan nan tak kunjung padam.
Para peresensi mesti menanggalkan kecenderungan berpikir usang (tend to think the way they are). Mesti mencari kemungkinan dan jalan keluar terbaik (tend to think the way they could be). Inilah warta apokaliptik (pesan etis) yang bisa ditimba dari buku Re-Code. Buku yang memiliki daya sentuh, daya gerak, dan daya ubah karya Rhenald Kasali (2007).
Buku-buku yang diresensi hendaknya mampu mengubah pola pikir dan perilaku pembaca menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman baru (openness to experience). Sangat berdisiplin dan penuh dedikasi (conscientiousness). Bukan kaum introvert yang menarik diri dari pergaulan sosial (extroversion). Selalu setia terhadap kesepakatan (agreebleness). Dan, tahan uji dalam menghadapi segala bentuk tekanan dengan kepala dingin (neuroticism). Tidak gampang meliuk didera kesulitan (don’t crack under pressure).
Para peresensi, meminjam kerangka berpikir Danah Zohar dan Ian Marshal dalam buku Spiritual Capital (2005), mesti memiliki 12 prinsip transformasi: kesadaran diri, spontanitas, terbimbing visi dan nilai, berjiwa holistik, kepedulian, menghormati keragaman, independen terhadap lingkungan, berpikir mendasar, pembingkaian ulang, mengambil manfaat dari kemalangan, kerendahan hati, dan keterpanggilan (vocation).
Itulah mata (perspektif) baru peresensi buku. Mungkin terkesan abstrak dan agak filosofis. Tidak memberikan petunjuk konkret bagaimana kiat menembus rubrik buku di surat kabar nasional. Kendati demikian, siapa pun akan tetap kesulitan dimuat di media nasional bila cara kerjanya terlampau pragmatis dan gemar lompat pagar. Terlebih para peresensi yang lebih menghargai hasil ketimbang proses --sibuk mencari tahu email pribadi dan nomor ponsel redaktur. (J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese de Britto Yogyakarta)

Resensi Buku Tuanku Rao

Kontroversi Sejarah sebagai Inspirasi Peradaban
J SUMARDIANTA
Perbedaan-perbedaan dalam sejarah sesungguhnya memberi pelajaran kepada umat manusia perihal toleransi dan kebebasan. Aforisma Francois Caron, Guru Besar Sejarah Universitas Sorbone, Paris, Perancis, ini kiranya sangat tepat buat merangkum seluruh kontroversi dan perdebatan buku Tuanku Rao. Buku yang dipublikasikan pertama kali tahun 1964 oleh Penerbit Tandjung Harapan ini memang memicu polemik seputar Gerakan Paderi di Sumatera Barat dan ekspansi pasukan Paderi di Sumatera Utara pada abad ke-19. Kendati menggunakan metodologi penulisan sejarah Weberian Tuanku Rao goyah karena mencampuradukkan fakta sejarah, mitos, imajinasi, dan folklore (cerita rakyat). Satu-satunya sumber hanyalah memoar Tuanku nan Renceh yang disalin dari tulisan-tulisan berbahasa Arab ke Latin oleh Sutan Martua Raja—ayah Mangaradja Onggang Parlindungan. Sutan Martua Raja sendiri tak lain cicit dari Tuanku Lelo. Anakronisme sejarah terjadi karena Parlindungan miskin sumber pembanding dan kurus referensi. Berbagai tarikh, buku Tuanku Rao, mudah longsor, karena dibangun di atas argumentasi rapuh. Kontroversi menyengat karena Parlindungan sangat subyektif soal mazhab Hambali dan heroisme Batak. Ia tidak bisa mengambil jarak dengan problem yang dikaji. Tak ayal, buku ini tergelincir ke isu primordial etnosentrisme. Kendati demikian, buku ini memberikan fakta mental berharga tentang dinamika sejarah lokal umat Islam di Sumatera Utara. Buku ini melihat Gerakan Paderi dengan sudut pandang etnis Batak. Berbeda dengan umumnya sejarah Paderi yang menggunakan sudut pandang etnis Minang. Gerakan Paderi (1803-1837), selaku cabang Gerakan Wahabi di Arab, merupakan gerakan radikalisme Hambali Zealots. Begitu keyakinan Mangaradja Onggang Parlindungan. Gerakan Paderi dilatarbelakangi perintah langsung Abdullah Ibn Saud, Raja Arab Saudi, kepada tiga tawanan perang bersuku bangsa Minangkabau: Kolonel Haji Piobang, Mayor Haji Sumanik, dan Haji Miskin. Mereka bertiga dirangket saat pasukan Wahabi merebut Mekkah dari tangan pasukan Turki 1802. Para pecundang tidak dihukum mati. Boleh lepas bebas. Kompensasinya: mereka harus membuka cabang Gerakan Wahabi sesampai di kampung halaman. Agar Hindia Belanda terbebas dari penguasa penjajah kafir dari Eropa. Maklum, Hindia Belanda dipandang sebagai mitra strategis kerajaan Arab Saudi. Kemerdekaan tanah Arab, sebagaimana dialami Abdullah Ibn Saud, hanya bisa direbut dari Kesultanan Turki-Osmani dengan membentuk tentara modern. Pembentukan pasukan Wahabi Minangkabau dipercayakan kepada Kolonel Haji Piobang. Dia bekas perwira kavaleri Yanitsar Turki di bawah komando Muhammad Ali Pasya. Berkat Haji Piobang, bala tentara Turki berjaya menumbangkan pasukan Napoleon dalam pertempuran Piramid di Mesir 1798. Muhammad Ali Pasya pun menghadiahi Haji Piobang pedang kebesaran. Senjata itulah kelak yang dihibahkan bagi Tuanku Lelo, pahlawan Paderi yang gagah perkasa, tak lain nenek moyang Onggang Parlindungan. Tingki Ni Pidari Tentara Wahabi Minangkabau bentukan para tawanan Raja Abdullah Ibn Saud adalah cikal bakal pasukan Paderi. Kelak jadi army group Tuanku Rao yang melakukan ekspansi di tanah Batak. Dengan meriam, pasukan Paderi mampu menembus dan mengobrak-abrik isolasi alam Tapanuli yang terlindung pegunungan Bukit Barisan dan lembah Danau Toba. Di bawah pimpinan Pongkinangolngolan, pasukan Paderi memancung kepala Singamangaraja X dalam penyerbuan ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja, tahun 1819. Pongkinangolngolan adalah anak perkawinan sumbang (incest) Putri Gana Sinambela dengan pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela. Gana Sinambela sendiri kakak Singamangaraja X. Pongkinangolngolan, tutur Onggang Parlindungan, dibuang karena dianggap anak haram jadah dan sumber aib keluarga. Bertahun-tahun berada di pengasingan di Angkola dan Sipirok. Na Ngol-ngolan, dalam bahasa Batak, artinya menunggu sesuatu yang tidak jelas dengan tidak sabar (waiting in vain). Pongkinangolngolan merantau ke Minangkabau karena khawatir suatu hari dikenali dan dijatuhi hukuman mati. Di Minangkabau ia bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo. Pada waktu itu Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik (tiga tokoh pembaruan abad ke-19) baru kembali dari Mekkah. Mereka, yang sedang mempersiapkan tentara untuk ekspansi gerakan Mazhab Hambali ke Mandailing, mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh. Tuanku Nan Renceh, mubalig besar, karib Datuk Bandaharo Ganggo. Ia terkesima mengetahui nasib dan silsilah Pongkinangolngolan. Pongki rupanya sangat baik digunakan dalam rencana merebut dan menduduki Tanah Batak. Datuk Bandaharo diminta menyerahkan Pongkinangolngolan. Tuanku Nan Renceh memberi nama Pongkinangolngolan Umar bin Katab. Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso. Mereka dihabisi karena menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan Tuanku Lelo. Hulubalang bernama asli Idris Nasution itu, menurut Onggang Parlindungan, dijuluki Tuanku Lelo sebab memperoleh lisensi "kesimaharajalelaan" untuk melakukan kekejaman oleh Tuanku Nan Renceh. Umar Katab (Pongkinangolngolan Sinambela) diangkat Tuanku Nan Renceh sebagai perwira tentara Paderi dengan gelar Tuanku Rao. Tuanku Nan Renceh, setali tiga uang Belanda, menjalankan politik divide et impera. Ia menggunakan orang Batak untuk menyerang dan menaklukkan tanah Batak. Ekspansi dimulai 1816 dengan menyerbu benteng Muarasipongi yang dipertahankan Marga Lubis. Sebanyak 5.000 anggota pasukan berkuda dan 6.000 anggota pasukan infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi. Semua penduduknya dibantai tanpa sisa. Gerakan Paderi bergelimang kebengisan (cruelties) dan berlumuran kekejaman (atrocities). Kekejaman sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebar pengalaman traumatis guna memudahkan penaklukan. Satu per satu wilayah Mandailing pun ditaklukkan pasukan Paderi yang dipimpin para hulubalang Batak sendiri. Gerakan ekspansif ke tanah Batak itu oleh Onggang Parlindungan disebut "Tingki Ni Pidari"—malapetaka besar zaman Paderi. Teror "Tingki Ni Pidari" adalah neraka paling jahanam dalam sejarah etnis Batak. Lembaran paling kelam dari sejarah Gerakan Paderi. Banyak memangsa korban jiwa, tetapi tidak berhasil mencapai tujuan. Kebajikan masa lampau Pada 1974 Prof Haji Abdul Malik Karim Amrulah (HAMKA) menerbitkan buku Antara Fakta dan Khayal "Tuanku Rao". Buku itu berisi sanggahan-sanggahan terhadap kisah Mangaradja Onggang Parlindungan. Menurut Buya HAMKA, Tuanku Rao manis kulitnya, pahit isinya. Maklum buku itu mengagungkan etnis Batak seraya menganggap sepi etnis Minang. Menarik bahwa sebagai ulama besar, Buya HAMKA pun saat menanggapi Parlindungan terjebak isu peka sentimen primordial-etnosentrisme. HAMKA tidak rela Tuanku Rao dan Tuanku Lelo menempati kedudukan lebih istimewa ketimbang Tuanku Imam Bonjol. HAMKA menuduh Parlindungan pembohong dan bodoh. Parlindungan menyebut HAMKA kampungan. Kendati emosional, perdebatan antara ulama dan tentara itu tidak menjurus kekerasan fisik dan mobilisasi massa. Di Padang pada 1969 mereka berdebat sengit dalam seminar tentang penyebarluasan Islam di seantero Sumatera Barat. Adu argumentasi dimungkinkan mengingat atmosfer intelektual saat itu sangat menyantuni kebebasan akademis. Apalagi mereka berdua dibesarkan pada zaman Belanda. Muara pendidikan pada zaman kolonial memang humanitas expleta et eloquens (kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri). Kendati secara ideologis berseberangan, HAMKA dan Parlindungan karib yang acap berangkat shalat Jumat di Masjid Al-Azhar secara bersama-sama. Kontroversi sejarah justru merupakan bukti tingginya mutu peradaban. Inilah hikmah yang bisa ditimba dari polemik Parlindungan dengan HAMKA. Ditarik agak ke belakang, pada zaman kolonial, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang properadaban Barat pernah berdebat dengan Sanusi Pane yang menjunjung tinggi budaya Timur. STA ingin membersihkan anasir mitos dan takhayul (penghambat kemajuan) yang bergentayang di sesat pikir bangsa Indonesia. Sanusi Pane menganggap STA kemlondo-londonen (kebarat-baratan) dan tidak menghargai indigeneus people (kearifan lokal). Di kemudian hari STA benar: bangsa Indonesia maju karena berkiblat ke Barat. Pada 1952-1954 terjadi polemik kebudayaan yang bermutu antara Soedjatmoko dan Buyung Shaleh. Soedjatmoko prihatin sastra mandul tidak mampu menghasilkan karya masyhur seperti Chairil Anwar karena sastrawan Indonesia cenderung pragmatis. Buyung Shaleh, tokoh Lekra, tidak sependapat. Menurut dia, majalahnya karya sastra karena terputusnya kehidupan sastrawan dengan rakyat. Polemik kebudayaan dan perdebatan akademik padam sejak Orde Baru naik ke tampuk kekuasaan. Perdebatan intelektual miskin dan compang-camping. Pendidikan Orde Baru bubrah. Tidak menyediakan ruang secuil pun buat merenung. Intelektual sangat pragmatis: terjun ke partai, terserap birokrasi, cari nafkah di LSM, mengasong proyek penelitian, dan menjadi konsultan kapitalis. Perdebatan HAMKA dengan Parlindungan yang sangat bermutu jadi barang langka. Polemik mereka terasa kasar pada zaman sekarang akibat virus eufemisme yang disebarkan Orde Baru. Almarhum Mangaradja Onggang Parlindungan, mantan perwira Angkatan Darat, salah satu pendiri Pusat Industri Angkatan Darat (Pindad) Bandung, adalah insinyur perkayuan lulusan Universitas Delft Belanda dan Zurich Swiss. Parlindungan intelektual jujur. Kendati Parlindungan generasi ke-5 keturunan Tuanku Lelo, buku ini diniatkan untuk merehabilitasi nama baik Tuanku Rao yang citranya demikian remuk redam di kalangan masyarakat Batak. Buku ini makin memperkaya data bahwa di sekujur Nusantara, masyarakat Indonesia memang ditelikung spiral kekerasan. Persatean nasional gemar mengambil bentuk whole sale teror (teror ombyokan)—bencana politik 1965, konflik Ambon dan Poso, kegaduhan etnis di Sampit, kerusuhan Mei 1998, dan tragedi Alas Tlogo. Melalui bukunya, Onggang Parlindungan mengampanyekan lingkaran malaikat perdamaian.
J Sumardianta Guru SMA Kolese de Britto Yogyakarta Sumber: Kompas, 6 Agustus 2007

Sabtu, 05 Januari 2008

Resensi Buku Menjadi Raksasa Makmur Sejahtera, Jawa Pos

Resensi Buku untuk JAWA POS
Menjadi Raksasa Makmur Sejahtera
Judul buku: The XO Way (3 Giants 6 liliputs)
Penulis: Herry Tjahyono
Pengantar: Rhenald Kasali, Ph D.
Penerbit: Grasindo, Jakarta, Maret 2007
Tebal: xxv + 198 halaman
Patrisio adalah seorang manajer senior pada sebuah perusahaan komputer multi nasional. Ia sudah menikah dan memiliki sepasang anak berusia belasan tahun. Ia menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang senantiasa tegang, enggan memperlihatkan emosi, gampang disulut amarah, dan tidak sabar terhadap para koleganya serta bawahannya saat bekerja. Pada usia ke-40 Patrisio memutuskan bahwa hidup harus lebih terbimbing visi dan nilai. Selama ini ia merasa hidupnya kurang memiliki spontanitas dan kepedulian.
Di rumah Patrisio bertekad untuk memperbaiki hubungan dengan putranya yang berusia 16 tahun. Relasi keduanya sudah lama dirundung perang dingin. Patrisio tidak memedulikan anaknya yang acap menghabiskan sebagian besar waktunya dengan menenggelamkan diri di kamar tidur. Bapak dan anak lalu bicara dari hati ke hati. Keduanya mengakhiri perbincangan dengan saling berpelukan dan mengungkapkan cinta masing-masing. Pertemuan ini menyuntikkan tambahan energi, harapan, dan optimisme ke dalam keluarga sebagai satu keutuhan.
Di kantor Patrisio berusaha lebih sabar, banyak mengekspresikan perasaan, dan menjadi pendengar yang baik. Tak lama kemudian, istrinya merasa Patrisio lebih bisa berdamai dengan diri sendiri. Hidupnya pun bergelimang perasaan syukur. Di tempat kerja para koleganya juga melihat perubahan perangai dan perilaku Patrisio yang tidak gampang uringa-uringan. Perubahan yang mendongkrak produktivitas pada unit kerjanya.
Patrisio, meminjam kerangka berpikir Herry Tjahyono dalam buku The XO Way, merupakan preseden bagus profesional yang menabur cita-cita raksasa untuk menuai kesejahteraan dan kemakmuran. Menurut Herry Tjahyono, orang modern memang punya kecenderungan memburu sukses dengan menjalani gaya hidup super sibuk dan gila-kerja. Perilaku yang berujung pada depresi, hampa makna, keluarga mawut (broeken home), stroke, dan hipertensi.
Banyak bos besar perusahaan yang kebak luber kocak-kacik---bergelimang kekayaan material namun busung lapar di gurun spiritual. Mereka kaya tapi tidak sejahtera karena kajiret bebalutaning gesang (diperbudak kerja dan harta). Uang dan harta kata Herry Tjahyono memang hamba yang baik tetapi tuan yang buruk. Kartolo, legenda ludruk Jawa Timur, benar, “Wong urip kuwi sugih durung karuan mati wis mesti (orang hidup itu kaya belum tentu mati sudah pasti)”.
Banyak buku panduan yang menganjurkan orang menjadi kaya mendadak. Kampanye menjadi kaum tajir rupanya justru membuat orang salah arah dan terperosok ke jurang disorientasi. Kampanye berpacu menuju puncak kekayaan ini, kata Herry Tjahyono, efek dari gelombang pasang tsunami konsumerisme yang menyapu pelbagai belahan dunia. Konsumerisme menyebarluaskan affluensa: virus penyebab kecanduan memiliki harta secara berlebihan. Gejala utama pengidap virus penyebab depresi ini: orang sudah tidak bisa membedakan lagi antara kebutuhan hidup (need) dengan keinginan (want). Soalnya, kebanyakan iklan produk barang dan jasa merangsang konsumen belanja kebutuhan pencetus keinginan (need create want). Keinginan berubah menjadi petaka karena orang terjebak the sky is the limit (keinginan itu seperti langit tiada batas).
Buku, karya Corporate Human Resources Director Agung Sedayu, ini mengajak pembaca menyusuri jalan emas menuju kesejahteraan dan kemakmuran. Tiga pedoman raksasa (giant hope, giant paradigm, giant goal) dan enam teknik liliput (Doolitle, Baby’s Peak, Kyue W-H, Tabularasa, Landak, dan Gulliver) di tengah kehidupan masyarakat yang kecewa, bingung, pengap, dan mengalami disorientasi membantu pembaca menjadi “Giant Person”. Buku ini menawarkan 3 pedoman besar dan 6 teknik efisien guna mewujudkan hidup yang mengalir, sejahtera, dan bahagia bergelimang pengalaman dan prestasi puncak. Giant, simbol kekuatan, besar, dan kokoh-tak tergoyahkan. Liliput merupakan pralambang efisien-efektif, gesit-lincah-fleksibel, dan cepat-tepat dalam menjalani kehidupan.
Di jalanan gelandangan dan pengemis makin merajalela. Antri pengangguran terdidik makin berketiak ular. Bagi yang sudah bekerja bukan jamannya lagi bisa menggenggam karir sampai pensiun. Kerasnya persaingan memaksa orang setiap saat harus berani keluar dari zona kenyamanan. Kemiskinan struktural makin memelas. Penggusuran makin rajin menyambangi wong kabur kanginan (kaum miskin perkotaan). Kaum buruh makin gampang bergolak karena sistem kerja kontrak dan ancaman PHK. Bencana alam datang silih berganti makin menegaskan bahwa masyarakat Indonesia sungguh hidup di atas jalur petaka.
Nah, di jaman edan karena digiling mesin ketidakpastian turbulensi, ukuran kesuksesan tidak lagi diukur dari akumulasi kekayaan, status sosial, jabatan, dan kekuasaan. Parameternya, saat terjatuh di jurang kegagalan Anda justru bisa mengambil manfaat dari kemalangan. Seperti dikatakan filsuf Nietzche, “Segala sesuatu yang tidak membunuhku akan membuatku kuat”. Kaum profesional mesti berani menghadapi kepedihan yang disertai rasa malu. Pendeknya, memiliki daya pegas untuk tetap berkembang melampaui risiko sebagai konsekuensi pilihan hidup. Mengambil manfaat dari kemalangan menuntut pengakuan akan fakta tragis tapi indah: bahwa tidak semua masalah memiliki solusi dan tidak semua perbedaan bisa didamaikan. Dalam kata-kata William Shakespeare, “Mampu menanggung penderitaan yang bersemayam di jantung kreativitas”.
Buku ini diberi pengantar oleh Rhenald Kasali penulis buku sangat berpengaruh Change (2004) dan Re-Code (2007). Ya, menurut ahli manajemen perubahan dari Universitas Indonesia itu untuk menjadi raksasa makmur yang sejahtera orang harus mempertebal kadar deposit change DNA. DNA perubahan itu diakronimkan Rhenald Kasali menjadi OCEAN. Kaum profesional senantuasa harus memiliki keterbukaan terhadap pengalaman baru (Openness to Experience). Pikirannya tidak boleh mapan agar tidak terperangkap dalam penjara persoalan abadi. Kegemaran pemerintah mengatasi kompleksitas persoalan kekinian dengan cara berpikir kemarin dengan tambal sulam menteri kabinet nan tidak menyentuh substansi masalah, contohnya.
Memiliki keterbukaan hati dan telingan (Conscientiousness). Jangan seperti para pejabat yang malah kelihatan bego menghadapi penderitaan rakyat Sidoarjo yang terjerumus di lembah ketiadaan akibat semburan lumpur panas PT. Lapindo Brantas. Memiliki keterbukaan terhadap orang lain (Extroversion). Jangan seperti pejabat Indonesia yang justru menjadi sumber penderitaan rakyat karena pola kepeimpinan mereka berbasis layang-layang putus (problem based leadeship) bukan pengurai benang kusut (solution based leadership).
Memiliki keterbukaan terhadap kesepakatan (Agreeableness). Jangan seperti pagar makan tanaman mumpung berkuasa sebagai pejabat tinggi korporasi atau pemerintahan kemaruk korupsi dengan mengaduk-aduk isi perut bumi dan menggelontorkan limbah ke lautan. Mempunyai keterbukaan terhadap tekanan (Neuroticism). Jangan membudayakan falsafah kodok bangkak berenang, injak sana, sikut sini, menyalahkan orang lain tatkala seluruh kebobrokan terbongkar.
Buku ini enak dibaca dan perlu. Ditulis seorang expert yang memang berpengalaman di bidang penggelolaan SDM korporasi bisnis. Puih, langgam bertuturnya rek, mengalir lancar karena Herry Tjahyono menggunakan gagrak jurnalistik, bukan buku teks yang tandus dan kering. ****J. Sumardianta, guru SMA Kolese de Britto Yogyakarta.