Jumat, 25 Januari 2008

Resensi Buku Good Busines KOMPAS Minggu, 20 Januari 2008

Resensi Buku KOMPAS Minggu, 20 Januari 2008
Spirit Adiluhung Kampiun Bisnis
Judul buku: Good Business: Bisnis Sebagai Jalan Kebahagiaan
Judul asli: Good Business: Leadership, Flow, and the Making of Meaning
Penulis: Mihaly Csikszentmihalyi
Penerjemah: Helmi Mustofa
Penerbit: Mizan- Bandung, 2007Tebal: ix + 375 halaman

Inilah aforisma Ludwig Wittgenstein, filsuf Jerman, "Jika yang engkaumiliki hanyalah palu maka segalanya akan tampak seperti paku." Jikaparadigma bisnis mengejar keuntungan melulu maka segala sesuatunyadijalankan demi memuaskan kerakusan para pemegang sahamnya semata. Bisnismemang telah meningkatkan kualitas hidup manusia. Institusi inimenciptakan kemajuan di bidang teknologi, pendidikan, komunikasi dankesehatan. Kendati demikian entitas pembawa kemakmuran dan kesejahteraanmaterial itu juga menimbulkan persoalan-persoalan serius.Wabah perselingkuhan kekuasaan dengan pemilik modal yang membalak hutansecara liar di seantero Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papuamerupakan paradoks bisnis yang harus ditebus demi membayar kemajuan.Pemanasan global penyebab curah hujan sangat tinggi, banjir bandang,puting beliung, bukit longsor, dan gelombang pasang air laut makinmenjadikan Indonesia negeri yang tak putus dirundung bencana alam.Bencana alam mempertontonkan betapa budaya kapitalis dan praktik bisnisyang beroperasi di dalamnya didera komplikasi akut. Bisnis yang mengejarkeuntungan demi keuntungan itu sendiri (the pursuit of profit for its ownsake ) dengan menempatkan konsumsi sebagai tujuan tertinggi tidakvisioner. Bisnis global adalah monster yang sedang mengganyang dirisendiri. Monster itu menghancurkan sumber daya alam, mengabaikan generasimendatang, menyebabkan kakalutan masal, melahirkan kepemimpinan egoistik,menyulut kerusuhan dan terorisme.Bisnis terlalu berkiblat pada para predator sosial semacam Genghis Khan,Attila Hun, dan Niccolo Machiavelli. Kebanyakan buku bisnis mendidik kaumprofesional menjalani hidup dengan mengikuti kompas moral yang tidakakurat. Nah, buku Good Business merupakan publikasi penelitian perihalpara pemimpin bisnis yang memadukan prestasi tinggi dengan perilakuterbimbing visi dan nilai (vision and values led). Para pemimpin pengabdi( servant leaders) yang ikut bertanggung jawab atas kelangsungan duniatempat mereka meraih keberhasilan. Proyek peneiltian ini dipimpin MihalyCsikzentmihaly, guru besar psikologi Universitas Chicago, AS, penemukonsep flow (perasaan mengalir dan bahagia).39 Kampiun bisnis yang dirujuk pada buku ini adalah para pemimpinvisioner. Mereka adalah para "kesatria" atau "master" yang menciptakanbudaya baru perusahaan dan mempraktikkannya di lingkungan korporasimereka. Sektor bisnis yang dijadikan sampel: piranti lunak dan keraskomputer, manufaktur, ritel, bioteknologi, hiburan, real estate, modalventura, konsultasi manajemen, industri minyak, aerospace, pertambangan,restoran wara laba, investasi finansial, pendidikan, desain produk, jasa,dan transportasi.Para pemimpin bisnis, menurut Mihaly Csikzentmihaly, merupakan segmenmasyarakat paling berpengaruh. Segmen tersebut tidak hanya mengendalikanarus segala sumber daya, dari makanan hingga minyak, pun memilikikekuasaan tidak proporsional tentang bagaimana dan oleh siapa negaradijalankan. Kepentingan-kepentingan bisnis mendorong AS mengintervensinegara-negara lain. Perlindungan atas perkebunan pisang di Amerika Latinpun ladang minyak di Kuwait.Para kampiun bisnis dan perusahaan yang mereka representasikan,sebagaimana dilaporkan Mihaly Csikzentmihaly, memiliki komitmen moral dankepedulian kuat. Mereka melengkapi diri dengan dedikasi jangka panjangpada tujuan-tujuan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, orang-orangyang hidup di tengah masyarakat, dan manusia pada umumnya.Yvon Chouinard, pendiri Patagonia pada dekade 60-an merintis pekerjaansebagai pandai besi keliling yang cinta mati pada pegunungan. Ia membuatperlengkapan mendaki gunung, seperti pasak dan gelang, lebih baikdibanding yang dihasilkan perajin lain. Bisnisnya berkembang pesat. Olahraga mendaki makin populer. Dinding batu yang menakjubkan pun dipenuhilubang dan bercak goresan perangkat keras. Chouinard tak mau meruntuhkangunung yang dicintainya. Ia ciptakan cara baru mendaki menggunakanroda-gigi ( gear) yang ditempatkan dan digeser di celah-celah perbukitanagar pegunungan tetap utuh.Chouinard akhirnya mengubah haluan Patagonia dari produsen piranti keraske bisnis garmen demi tidak merusak gunung. Di industri pakaian jadi punperlahan ia menyadari bahwa kapas yang menjadi tumpuan bahan dasarpabriknya menyerap 25 persen pestisida dunia. Diperlukan dua galon residupestisida untuk membuat satu kaus berbahan katun. Chouinard menghadapikrisis hati nurani saat mengunjungi perkebunan salah satu pemasok kapas.Ia tidak lantas menutup pabriknya. Patagonia, kendati meningkatkan beayaproduksi, beralih ke serat organik yang ramah lingkungan. Nike, Gap, danLevi Strauss pun mengikuti langkah Patagonia.Patagonia bermarkas di Ventura, distrik sepi di California. Di lorongmasuk terdapat barisan papan selancar disandarkan para karyawan didinding. Saat ombak besar datang semua karyawan boleh berselancar kapanpunmereka mau. Buku Yvon Chouinard, Let My People Go Surfing, melukiskankebijakan Patagonia yang mengombinasikan kerja dengan rekreasi.Pada permulaan abad ke-20, di kota kecil Columbus, Indianapolis, seorangbankir mendirikan pabrik mesin diesel. Selama dua puluh tahun investasipabrik itu belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Belakangan, kondisimulai meningkat, dan mesin diesel buatan Cummins menghela banyak truk yangmenjelajahi benua Amerika. Bisnis Cummins tidak pernah berjalan mulus.Hampir tiap tahun dihantam krisis baru---meningkatnya produk pesaing,krisis keuangan, embargo minyak, dan standar baru emisi gasbuangan---mengancam kelayakan perusahaan. Keluarga Cummins harus merogohkocek keluarga dalam-dalam, setiap kali pasar meninggalkannya dan membuatrentan diambil alih, guna melindungi otonomi keluarga."Alasan kami tetap menekuni bisnis ini, papar J. Irwin Miller salahseorang anggota generasi ketiga Cummins, karena kami punya kewajibanterhadap masyarakat. Kami bisa saja pindah ke tempat yang punya tenagakerja lebih murah. Namun, apalah artinya mengeruk keuntungan lebih banyakjika Anda harus menelantarkan ribuan orang yang Anda kenal dan menaruhkepercayaan pada Anda." Cummins punya hubungan mesra dengan wargaColumbus. Perakit mesin diesel ini bersedia mengeluarkan biaya konstruksisetiap warga membutuhkan gereja, perpustakaan, sekolah, pos pemadamkebakaran, dan penjara. Perusahaan keluarga ini tidak akan bertahan sampaiumur seratus tahun bila sekedar didorong semangat profit dan ekspansi.Korporasi yang dikaji dalam buku ini, Patagonia, McDonald, The Body Shop,Apple, Microsoft, Lockheed Martin, Cummins, AOL Time Warner, dan Financialinvestment, menjadi mercu suar yang menuntun kapitalisme melepaskanbelenggu keserakahan, kecurangan, dan penipuan. Mihaly Csikzentmihalymenemukan lima karakteristik kepemimpinan bisnis visioner. Pertama,optimisme tanpa batas berdasarkan keterpanggilan mewujudkan kehidupan yanglebih bernilai dan bermakna. Kedua, integritas dalam arti keteguhanmemegang prinsip sebagai dasar untuk percaya dan mempercayai. Ketiga,ambisius yang tekun dalam kesulitan dan tabah mengatasi tantangan.Keempat, rasa ingin tahu dan semangat belajar pantang menyerah. Kelima,empati (bela rasa) mendalam terhadap orang lain.Kusut masai penanganan bencana lumpur Lapindo Brantas yang menenggelamkanmasyarakat Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, karut marut ilegal logging diJambi, dan penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri merupakan presedenburuk bisnis. Bisnis tidak akan berhasil mempertahankan hegemoninya dalamkontrak sosial implisit dengan masyarakat jika terbukti pasar hanyamenjadi sarana bagi sedikit orang mendapatkan keuntungan dan tidak memberikontribusi bagi kebahagiaan banyak orang.Good Businessmerekomendasikan kapitalisme yang memelihara planet bumi, memperbaharuisumber daya alam, menyantuni generasi mendatang sebagai stake holder,berkelanjutan, menyuburkan kepemimpinan visioner, menumbuhkan dedikasi danharapan. Bisnis, satu-satunya institusi, yang memiliki supremasi palingbesar untuk mengubah skenario kapitalisme sebagaimana lazimnya (business-as-usual) menjadi kapitalisme yang mungkin terwujud(business-as-it-could-be). Buku ini mata air inspirasi yang tak bakalkering buat menyelamatkan bangsa Indonesia dari jurang kenestapaan akibatperilaku pemimpin bisnisnya yang sontoloyo dalam menghancurkan lingkungan.****
*J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese de Britto Yogyakarta.

Minggu, 13 Januari 2008

Resensi Buku Jakarta Post, 25 Agustus 2002

Resensi Buku di The Jakarta Post, 25 Agustus, 2002
Soccer and humanitarian aspects
Features - August 25, 2002
J. Sumardianta and Yusup Priyasudiarja, Contributor, Jakarta
Trilogy: 1) Bola di Balik Bulan (Ball Behind the Moon) , xv + 296 pp, 2) Airmata Bola (Tears of Ball), xv + 275 pp, 3) Bola-Bola Nasib (Balls of Fate), xv + 320 pp, Written by Sindhunata, Published by KOMPAS-Jakarta, May 2002
Conrad Kotak, an American anthropologist, notes that football allows all to express feelings, and can unite people from diverse backgrounds in a way that can not be achieved by any other political force. Globalization results in a wider gap between developed and poor countries. On the contrary, football succeeds in spreading professionalism. The World Cup 2002 in Korea and Japan showed that there is no longer any gap between the football skills of Asian or African teams and European teams which have long football traditions. The increasing number of Asian and African players playing in European countries as well as the coaches from Europe who train Asian and African teams plays an important role in spreading the professionalism.
Football is actually a reflection of the daily life of human beings. It is possibly one of the reasons why football has become the most popular sport in the world, touching every corner of human beings and affecting many aspects of life. Sindhunata, the writer of this trilogy, Catatan Sepak Bola, highlights humanitarian features in football.
Bola di Balik Bulan (Balls behind the Moon) covers inspiring and touching stories in football. Take a look at the following data. David Beckham has his daughter name, Brooklyn, printed on his shoe soles. In spite of his fame as a great player, his love of his family is deeper than that of football. Airmata Bola (Tears of Ball) illustrates the tragedy of human beings such as the failures of football players, coaches and teams. Le jour de glorie a passe (the glory days have passed) is probably the right expression to describe the failure of Bayern Munich in the Champions Cup final in 1999 in which Bayern Munich was defeated by Manchester United 2-1 in injury time (112 seconds) after leading 1-0. Bayern Munich's loss of concentration and carelessness in the last minutes led the team to a tragic and sorrowful defeat. Bola-bola Nasib (Balls of Fate) mainly focuses on the misfortunes of football players in which they often have to work beyond their capacity as human beings. They often play too many games in one competition. Besides, football can also mean both glory and misery as experienced by Maradona who was a great player but then plunged into the hell of drug abuses.
The magnificent performance of outstanding players such as Giussepe Meazza (Italy), Santiago Barnebeu (Spain) and Pele (Brazil) used to be associated with heroism values. At present Ronaldo, Christian Viery, Del Piero, Raul Gonzales, Nistellrooy, Michael Owen and Edgar Davids become glamour present-day superstars representing individuals in an individualistic society who are merely money-oriented. Football is already integrated with a capitalistic industry system. For such players football is just a short cut to get rich quickly. The egos of the star players then turns to be a universal problem faced by all football coaches.
In addition, football competitions do not always show fairness in sports. Football teams often seek success by any means (the goals justify the means) such as involving hooligans with their brutish behaviors in order to bother their opponents concentration. The players try hard to merely gain honor and it is essentially contrary to the whole essence and philosophy of sport. Sport is originally intended to boost the spirit of brotherhood.
How do players enhance their professionalism, manage their ego and solve their problems in life? Davor Suker, a very talented striker from Croatia, gave a valuable example. Amid pros and cons, he disagreed with the idea that women or wives should be allowed to join the teams to support their performances in a competition like the World Cup. He scored the most goals in the 1998 World Cup. He proved that his idea was right, indicating that those who could refrain from having sex during the competition could perform better. Beforehand Suker had been the target of criticism for having only scored a few goals for Real Madrid and his love life with Ana Garcia Obregon, a TV moderator, blamed as the main cause. Ana G. Obregon used up the energy of a striker whose job is to score goals, wrote the daily La Vanguardia cynically.
In any feature Sindhunata, the author of the classic novel Anak Bajang Menggiring Angin, always highlights humanitarian aspects. He notes that street children (strassenfussballer), the homeless, slums (favela) and the dwellers of slums (favelado) are the life backgrounds of Brazilian players. In a favelado there is no suicidal feeling. When Brazilians are hungry, in order to survive they try to scrap around for the remaining food on streets or in the markets. Even though Brazilian players have already gained success, they still have the spirit of favelado, a high fighting spirit. They never easily give up on the pitch.
In Brazilian football history, Garrincha was widely known as a player with the favelado mentality. Earning a living as a bird hunter, he lived in a poor favela (Airmata Bola, p. 236). Having played football attractively, he was regarded by many as a Brazilian hero in the Pele era. Garrincha, more respected than Pele, is considered a spark plug of Brazilians and a symbol of their joy, a lergria dopavo (Bola Di Balik Bulan, p.210).
Football also manages to minimize ideological conflicts. Unlike what people had been afraid of, the match between the US and Iran teams in de Coupe du Monde, France 1998 in which Iran won the match, ended up in a touching scene. At the end of the match, the players from both teams, hugged each other, shook hands and exchanged their costumes. Football does not prove Samuel Huntington's thesis on the clash of civilization.
Having been a member of Society of Jesus (SJ) and interested in humanitarian sciences, Sindhunata can produce pieces of writing with high-literary quality. Before being a priest, he was a journalist. Hence he has a sharp analysis which shows his rich knowledge of football. To support the data when writing, he did not only watch football matches himself in various competitions in Europe but also collected and read papers in English, Dutch and German. No wonder, this trilogy is reflective, contemplative and encyclopedic. One of the most interesting characteristics of his writing rests on the fact that football is seen not only from the aspects of sport but also from a humanitarian angle.
According to Sindhunata, a doctoral graduate of Hochschule fur Philosophie, Philosophische Fakultat SJ, Munich, Germany in 1992, football fans are actually fooled by a spectacular event such as the World Cup. Even though the event is entertaining, it actually does not change anything. Argentineans still live under both the poverty circle and political repression as the country is still controlled by the IMF. Indonesian people also remain poor and hopeless under the leadership of the political elite who only think of their vested interests. Football also fails to protect the people from violence as what happens in South America since the people there are already trapped in drug abuses. Football itself needs to be questioned for the reason that it is closely related to exploitation, commercialization and dehumanization.
Sindhunata features have a particular distinction. They provide meaningful, rich factual information that gives readers deep insights. His ideas flow smoothly and he can describe things systematically. This particularity distinguishes him from other football commentators who tend to merely discuss the techniques and tactics in football.

Sejenak Bijak KOMPAS, 30 September 2007

Nemuin khasanah jawa yang bagus banget dari Koran Kompas hari Minggu tanggal (30 September 2007)
"urip iki sejatine sastra gumelar ing jagat. Pinanggiha Gusti ing sembarang kalir, temokno Gusti ing tek kliwer laning obah mosike uripne"
Yang artinya:
"hidup ini sesungguhnya susastra yang terhampar di jagat raya Tuhan bisa ditemukan dlam segala. Temukan Tuhan dalam kehidupan keseharianmu yang berpeluh dan penuh bercak kesulitan"
Yang artinya:
"Life is a real literature which spreads in the whole universe, God can be found anywhere, find him in you/your life which is full of sweat & complicated" By: Y
by J. Sumardianta (Guru SMU) Kolese de Brito Yogyakarta.

Resensi Buku KORAN TEMPO, 28 April 2002

Resensi Buku di KORAN TEMPO, 28 April 2002
Mendidik Anak Bukan dengan Metode Penjinakan
Judul buku: Pedagogi Pengharapan-Menghayati Kembali Pedagogi Kaum Tertindas (Pedagogy of Hope-Reliving Pedagogy of the Oppressed)
Penulis: Paulo Freire
Penerjemah: A. Widyamartaya
Penerbit: Kanisius-Yogyakarta, 2002
Tebal: 328 halaman
Paulo Freire (1921-1997), dalam rangka memperingati 25 tahun terbitnya Pedagogy of the Oppressed, pada 1994, menerbitkan Pedagogy of Hope. Maksudnya untuk menghayati kembali Pedagogy of the Oppressed. Berbeda dengan buku pertamanya, Pedagogy of Hope berisi runutan pengalaman nyata dan hidup yang menjiwai buku pertama. Pengalaman-pengalaman mengesankan itu meliputi peristiwa-peristiwa awal yang memberi inspirasi sebelum Pedagogy of the Oppressed ditulis maupun pengalaman-pengalaman sesudah diterbitkan yang memberi daging pada buku itu. Pedagogy of the Oppressed mula-mula ditujukan buat memberdayakan kaum miskin buta huruf di Recife, kota pelabuhan di pantai Utara Brasil. Tak heran, Freire lebih populer di kalangan lembaga swadaya masyarakat ketimbang di sekolah formal. Freire lebih dikenal sebagai andragog (pendamping kaum dewasa) lewat popular education ketimbang pedagog (pendidik generasi muda). Pedagogi freirean identik dengan metode hadap masalah, bukan pendidikan konvensional gaya bank, perlawanan atas budaya bisu, menentang domestikasi (penjinakan), metode dialogal atau pengajaran non-indoktrinatif, penyadaran, dan pengharapan. Conscientizacao (konsientisasi) digunakan Freire untuk mendiskripsikan proses perkembangan individu yang berubah dari kesadaran magis dan naif menuju kesadaran kritis. Hakekat pendidikan, bagi pemikir dari Brasil dan pelopor paradigma pendidikan keadilan sosial dengan pendekatan pemberdayaan manusia itu memang penumbuhan kesadaran kritis ---bukan kesadaran magis dan kesadaran naif. Kesadaran magis tidak mampu menemukan kaitan antara kemiskinan dengan struktur sosial, ekonomi, dan budaya yang mengondisikan kaum miskin nestapa. Kesadaran ini fatalis karena menempatkan faktor di luar manusia sebagai sumber ketidakberdayaan. Kemiskinan diterima sebagai kodrat yang tidak bisa diubah. Kesadaran naif menyalahkan manusia sebagai sumber kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Berangkat dari kesadaran ini, muncul paradigma pendidikan kompetitif dengan pendekatan sumber daya manusia. Konsep link and match contoh sesat pikir pendidikan bermuara pada kesadaran ini. Kesadaran kritis melihat struktur politik, sosial, ekonomi, dan budaya sebagai akar penindasan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Pedagogi penyadaran Paulo Freire memfasilitasi masyarakat “buta huruf” (berkesadaran magis dan naif) agar bisa “membaca” (berkesadaran kritis) dan memahami bagaimana struktur sosial, politik, ekonomi, dan budaya mengorbankan dan menindas mereka. Tujuan akhir conscientizacao mengubah struktur masyarakat yang zalim menjadi adil dan lebih manusiawi. Pendidikan, menurut salah satu konsep aslinya adalah paideia (pedagogi). Artinya pembentukan generasi muda agar menjadi manusia berbudaya yang mampu mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan di Indonesia, istilah budayawan Bakdi Sumanto, baru sebatas pengajaran untuk menghasilkan para siswa-siswi ingkang bagus alus, ayu merak ati, pinter etung, nulis, nggambar, kalawan maca (para siswa-siswi yang tampan, cantik, pintar berhitung, menulis, menggambar, dan membaca). Terjadi pengerdilan makna pendidikan dan pemungkretan esensi pendidikan. Pendidikan tidak mendorong peserta didik dan pendidik berkomunikasi dengan realitas sosial yang terjadi di luar sekolah---padahal, bagi Paulo Freire, pendidikan adalah dialektika peserta didik, pendidik, dan realitas sosial. Freire menekankan pentingnya pendidikan dialogal agar mendayakan dan mengayakan ketimbang pendidikan bercorak otoriter yang menjinakkan. Pendidikan punya kecenderungan mengindoktrinasi, menghegemoni, dan mendominasi karena berpendekatan top-down, sistemnya militeristik (seragam, ideologis, disiplin mayat), dan menggunakan metode anjing. Para murid agar setia dan tunduk, sebagaimana relasi tuan dan anjing, dididik dengan ganjaran sekaligus hukuman. Guru agen yang mengawasi dan merendahkan martabat siswa. Sekolah menjadi lingkungan penuh sensor yang memupus bakat dan gairah siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu. Jelas ini bukan pendidikan melainkan “pembuayaan” yang memblokir manusia untuk menjadi manusia otentik. Kurikulum di jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah Indonesia mencantumkan topik-topik berbagai bidang studi secara rinci. Tugas pendidik sekedar mengangkat pokok bahasan demi pokok bahasan dan mengabarkan isi buku teks. Mutu hasil pembelajaran menjadi absurd karena yang dipakai sebagai ukuran hanyalah daya serap (kemampuan menghimpun pengetahuan) yang diungkap lewat proses evaluasi hasil belajar bersifat artifisial---ebtanas. Sistem pengajaran monologal yang menonjolkan otoritas dominan dalam konteks pedagogi Freirean jelas mentunadayakan siswa. Silang sengkarut pentunadayakan juga diakibatkan: lemahnya motivasi dan dedikasi guru untuk menjadi pendidik berjiwa otentik; semakin banyak guru yang kebetulan menjadi guru, sejak awal tidak komit menjadi guru; kematangan emosional, kemandirian berpikir, dan keteguhan sikap mereka rendah sehingga kepribadian mereka memancarkan ketidaksiapan jadi pendidik. Pendidikan di Indonesia agar mengobarkan pengharapan --mengadaptasi pemikiran Francis Wahono (2002)-- pendekatannya mesti bottom-up, sistemnya petani, dan menggunakan metode ayam. Kurikulum, sebagaimana petani memperlakukan tanaman sesuai konteks alam, disampaikan hanya melalui penggarapan dan penjiwaan pendidik berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata peserta didik. Pendidik, setali tiga uang induk ayam mestinya tidak memaksa anak-anaknya menjadi penurut melainkan memandirikan, mendewasakan, dan melindungi mereka dari mara bahaya. Bukan membiarkan pelajar tawuran dan terjerumus narkoba.
J. Sumardianta

Resensi di GATRA, Senin, 22 Juli 2002

Resensi Buku di GATRA, Senin, 22 Juli 2002
Menyiasati Pluralisme Nurcholish
PROF. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) merupakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasan tentang pluralisme menjadikan Cak Nur intelektual muslim garda depan. Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di ambang kemelelehan dan disintegrasi bangsa, entah akibat keragaman etnisitas, subkultur, identitas agama, dan disorientasi politik. Nur Khalik Ridwan, melalui buku Pluralisme Borjuis (Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur) ini, melakukan kajian kritis atas gagasan pluralisme Cak Nur. Peneliti jebolan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini menganggap pemikiran Cak Nur, kendati memiliki tingkat liberalisasi tinggi, serta didukung penguasaan khazanah Islam klasik dan modern, telah menjadi semacam rezim kebenaran atau hegemoni intelektual bercorak logosentris. Pribadinya cenderung dikultuskan, dan gagasannya "disakralkan". Nah, pluralisme Cak Nur inilah yang dikaji Khalik dengan perspektif lain. Cak Nur lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 1939. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan khalam Ibnu Taimiya. Berdasarkan hasil lacakan atas genealogi keluarga dan komunitas sosialnya, Khalik menyebut Cak Nur berasal dari lingkaran Islam borjuis. Tipologi Islam borjuis digunakan Khalik untuk mengidentifikasi kelas mengengah atas muslim perkotaan yang secara ekonomi mapan, ideologinya condong ke Masyumi-HMI, dan cenderung mengusung simbol-simbol Islam formal. Menurut Khalik, pluralisme Cak Nur, yang bertumpu pada gagasan Islam agama universal, tetap berputar di orbit komunal partikular karena masih melihat kebenaran agama lain dengan perspektif agama sendiri. Dalam konteks ahlulkitab, Cak Nur hanya terpaku pada agama formal dan mengesampingkan "paham-paham keagamaan" masyarakat adat yang terkesan primitif namun kaya kearifan. Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi (menghindarkan umat dari kecenderungan mengukhrawikan persoalan duniawi tanpa kecuali gagasan negara Islam) dan modernisasi (menganjurkan umat berpikir rasional dengan mendukung pembangunan) dinilai Khalik sebagai strategi buat mengelabui rezim otoritarian Orde Baru. Agar komunitas Islam borjuis tidak terus-menerus larut dalam trauma kepahitan politik dibubarkannya Masyumi. Ide Islam yes, partai Islam no, yang diintroduksi Cak Nur saat Soeharto mengebiri partai berbasis agama dan ideologi pada awal 1970-an, dinilai Khalik sebagai strategi neo-Masyumi untuk bersimbiosis dengan kepentingan rezim, agar mereka tidak lagi dituduh mengusung formalisme Islam ke arena politik. Dan agar Soeharto memandang pewaris Masyumi menyantuni Islam substantif. Tak mengheran bila mereka banyak yang jadi petinggi Golkar dan terserap ke birokrasi pemerintahan. Pluralisme Cak Nur, di mata Khalik, tidak memiliki sensitivitas pembebasan bagi kaum buruh, petani miskin di pedesaan, penghuni kampung kumuh, gelandangan, dan "sampah masyarakat" perkotaan lainnya yang rentan ketidakadilan sekaligus pengambinghitaman. Konsepsi Cak Nur tentang Islam sebagai agama keadilan, agama kemanusiaan, dan agama peradaban hanya bisa diakses kaum profesional dan eksekutif muda bergelimang duit, namun kerontang spiritual, melalui berbagai kursus filsafat keagamaan yang diselenggarakan Paramadina di hotel-hotel berbintang. Tak mengherankan pula bila Khalik menyebut kinerja Cak Nur sebagai pluralisme borjuis. Sayang, kerangka sosiologi pengetahuan John B. Thompson, dalam Studies in the Theory of Ideology (1985), kurang didayagunakan Khalik untuk mempertajam hasil analisis. Kendati disajikan dengan langgam subjektivitas yang meledak-ledak, buku ini tergolong karya teologi pembebasan tahap keempat. Refleksinya sudah menggunakan metode analisis nonmarxis, berangkat bukan dari dogmatisme agama, melainkan keprihatinan iman wong kesrakat, dan menyantuni heterogenitas agama dalam perjumpaannya dengan Islam.
[J. Sumardianta, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta]
[Buku, GATRA, Nomor 36 Beredar Senin 22 Juli 2002]

Resensi Buku William James, KOMPAS, 16 September 2005

Resensi Buku KOMPAS, 16 September 2005
Berjumpa Tuhan dalam Segala
Penulis: J. Sumardianta
Almarhum Tamin, legenda ludruk dari Malang, Jawa Timur, adalah pelawak yang hidupnya total didedikasikan untuk panggung kesenian. Ironisnya, Tamin tidak punya pakaian kecuali yang melekat di tubuhnya.
Petualangan Tamin dalam kemiskinan merupakan lawakan nyata yang sungguh surealis. Ia sering berendam lama di Kali Berantas menunggu kering satu-satunya jemuran yang baru dicuci. Di sungai ini pula hidung Tamin yang busuk tanggal diterjang air terjun. Pelawak dengan hidung growong ini walau menderita hidupnya bermartabat.Meski berkekurangan, tetapi Tamin dikenal seniman yang merdeka, tak terikat apa pun. Di panggung maupun dalam pergaulan lumrah, Tamin selalu membuat orang tertawa terpingkal-pingkal. Ia membuat orang yang letih lesu bisa menertawakan diri dan kondisi. Hidup sejenak menjadi nyaman karena seluruh beban hidup diringankan."Tertawa adalah persepsi terhadap situasi yang kontradiktif," kata filsuf Emmanuel Kant seperti dikutip Sindhunata, penulis buku ludruk Ilmu Ngglethek Prabu Minohek. Tawa orang miskin yang didera busung lapar dan krisis bahan bakar adalah kegembiraan dalam kesedihan. Tawa penguasa yang merengek terus minta kenaikan tunjangan adalah kebahagiaan penuh kemunafikan."Apabila kehidupan sehari-hari rasanya miskin, janganlah kau keluhkan, tetapi sesalilah dirimu karena kamu tidak cukup tabah untuk menggali kekayaannya,"demikian adagium Rilke, penyair Jerman.Sepintas absurditas kehidupan Tamin tidak mengandung dimensi rohani. Tetapi, bila direnungkan dalam-dalam, Tamin kaya-raya harta karun spiritual. Tamin, meminjam kerangka berpikir William James dalam buku Perjumpaan dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia, adalah gambaran pribadi yang merealisasikan nilai-nilai luhur sarat pengalaman spiritual. Kemampuan Tamin melucuti paradoks dan tragedi dengan mengubahnya jadi canda tawa itu disebut antropolog James Scott sebagai weapon of the weak (senjata kearifan kaum rudin).Protes Tamin bukan dengan diam atau revolusi yang hanya memangsa orang jelata sendiri, melainkan dengan mengironikan penderitaan. Ironi melegakan karena memberdayakan orang miskin untuk bisa menertawai kesengsaraan. Kaum kecingkrangan, menyitir Karl Rahner, teolog masyhur Jerman abad ke-20, berkat ironi bisa mencapai transendensi-pengalaman diberdayakan Sang Adikodrati melalui mistisisme konkret sehari-hari.Buku Perjumpaan dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia karya William James, bapak psikologi Amerika, bila diperas menggunakan teknik resensi focusing, saripatinya memang penghayatan spirit tasawuf dalam hidup sehari-hari. Dalam ajaran Ignatius Loyola, mistikus Spanyol abad ke-16 yang dikaji William James, mistisisme konkret berpangkal pada pengalaman nyata itu disebut "sastra gumelar ing jagat (Pinanggih Gusti ing sembarang kalir)". Maksudnya, manusia bisa menjumpai Tuhan dalam dan melalui peristiwa-peristiwa sehari-hari yang tampak bersahaja.Ungkapan syukur!Mengalami perjumpaan dengan Tuhan bukan hanya di saat orang berdoa dan beribadah. Juga saat mencangkul di sawah, menyabit rumput, menggembalakan ternak, mencari kayu bakar, bekerja di pabrik, dan berjualan di pasar.Tuhan juga bisa ditemukan terlebih dalam penderitaan, kesukaran, kelemahan, dan penyakit. In actionem contemplativus, segala tindak-tanduk manusia bila dihayati bisa menjadi ungkapan syukur pada Yang Mahakuasa.William James adalah anggota sebuah generasi yang membangun filsafat Amerika seangkatan dengan John Dewey dan George Santayana. Agama dan pengalaman religius merupakan dua kata kunci buku William James. Agama bagi William James (1842-1910) bukanlah dogma, lembaga, dan hierarki kepemimpinan yang terkesan formal dan kaku melainkan pengalaman kerohanian dalam praktik keberagamaan yang unik dan personal.Agama dalam paradigma James tidak lain segala perasaan, tindakan, dan pengalaman pribadi manusia dalam kesendiriannya, sejauh mereka memahami diri mereka saat berhadapan dengan apa pun yang mereka anggap sebagai yang Ilahiah. Sedangkan pengalaman religius meliputi pemikiran, penghayatan, keyakinan, dambaan, dan tindak-tanduk yang berkaitan dengan religiusitas.Pengalaman religius itu berakar pada kesadaran mistis. Dunia nyata Ini dalam pandangan William James bagian dari jagat spiritual yang lebih luhur tingkatannya dan memberi makna pada dunia nyata. Harmoni di antara keduanya merupakan tujuan hakiki manusia guna meraih kebahagiaan lahir batin.William James memang memberi legitimasi pada kehidupan sunyi kaum mistikus. Kendati kritis terhadap lembaga-lembaga yang potensial menghambat dorongan keberagamaan yang personal, James tidak bermaksud mengobarkan anarki spiritual. Ia tetaplah pemikir yang senantiasa merindukan keteraturan.James menganggap buku ini sebagai sebentuk nazar untuk menunaikan janji kepada Henry James, ayahnya, bahwa suatu hari ia ingin berurusan dengan agama secara sistematis. Maklum, William James dibesarkan dalam keluarga republikan, yang tidak mendidik anak-anaknya dengan agama yang benar ala kaum Presbyterian.Buku ini merupakan karya menonjol pada bidang psikologi agama yang ditakdirkan sebagai buku agama paling berpengaruh yang diterbitkan pada awal abad ke-20. Semula merupakan bahan-bahan kuliah William James saat diundang menjadi dosen tamu di Universitas Gifford Edinburg Skotlandia (1901-1902).Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1902, sampai tahun 1935 buku best seller ini telah naik cetak 35 kali. William James mengedepankan fenomena keagamaan dalam pandangan orang-orang yang mengalaminya sendiri. Itu sebabnya membantu upaya menampilkan banyak kesaksian tentang kekuatan iman pada kehidupan manusia.William James, sebagai peletak dasar psikologi pragmatis memandang agama dari buah-buah rohani yang dihasilkannya. Pada zaman kuantum sekarang ini, agama telah direduksi menjadi barang konsumsi oleh siapa saja yang sedang keranjingan berbelanja hal-hal spiritual. Sekularisme nyaris membuat manusia jadi pengemis. Berdoa hanya untuk minta jodoh, rezeki, pangkat, kelancaran bisnis, sembuh dari penyakit, dan bebas dari segala macam kesulitan.Buku ini mengajak orang kembali bersyukur dan bersembah sujud dalam kesatuan mistik dengan Sang Adikodrati. Bukan menyogok Tuhan agar mau tunduk pada segala hukum permintaan manusia
Resensi Buku KOMPAS, Jumat, 2 November 2001
Menepis Prasangka Buruk Homophobi
Hidup sebagai kaum homoseksual tidaklah mudah. Pun di negara maju. Mereka masih tetap dianggap sebagai wabah, terus dikejar-kejar dan dimusuhi. Padahal banyak di antara kaum homoseks merupakan figur cemerlang. Tetapi, sampai kini belum ada riset tentang ada tidaknya kaitan antara kecemerlangan otak dengan orientasi seksual yang terarah pada sesama jenis kelamin.Dari bacaan-bacaan yang ada, dapatlah kita sebut nama-nama besar yang termasuk dalam barisan kaum sehati (sebutan untuk kaum homo) antara lain Raja Iskandar Zulkarnaen dan Julius Caesar, filsuf Yunani klasik Plato dan Aristoteles, Boden Powell (bapak kepanduan internasional), Michelangelo dan Leonardo da Vinci (pelukis), John Maynard Keynes (ekonomi neo-klasik), Michael Foucalt (posmodermis), Elton John (penyanyi), Glanni Versace (perancang mode). Sedangkan sastrawan internasional yang tergolong hombreng antara lain Oscar Wilde, Virginia Wolf, Walt Wiltman, dan Nokolia Gogol.Herlinatiens (penulis)Konstruksi sosial yang menempatkan kaum homo sebagai epidemi telah lama mengendap di alam bawah sadar masyarakat. Tak heran bila kebesaran prestasi dan sumbangan mereka bagi kemajuan peradaban tak kunjung mengubah stigma buruk (imagologi) yang sudah dilekatkan pada kaum homoseksual di seluruh jagad. Konstribusi mereka acap dikesampingkan karena homofibia (kekhawatiran berlebihan terhadap kaum gay dan lesbian) terlanjur berurat-berakar.***Buku Memberi Suara pada yang Bisu yang ditulis Dede Oetomo, tokoh gay nasional dengan sebut internasional ini, mengelaborasi keprihatinan umum kaum homoseksual. Keprihatinan yang berujung pada pandangan keliru masyarakat.Memang, persoalan kaum sehati merupakan persoalan golongan kecil dalam masyarakat. Itu sebabnya, mengingat jumlah merka yang semakin besar dan sub-kultur, mereka makin terbuka. Dalam kaitan itu, Dede Oetomo mengkampanyekan paradigma, sikap, dan perilaku empati terhadap kaum sehati.Kampanye tersebut, kiranya, bukan buat apologi (membela diri) maupun memperkeras sikap penuh prasangka. Tetapi, buat mendudukkan soal secara proposional; setidaknya untuk zaman sekarang, zaman yang sudah berkembang, mengglobal, mendunia (mondial).Buku ini dibagi menjadi enam bagian. Dede Oetomo, dosen FISIP-Universitas Airlangga Surabaya dan guru besar di Universitas Kebangsaan Malaysia ini, mengawali uraiannya dengan kisah menggugah tentang dirinya yang sejak kecil punya kesadaran bahwa naluri erotiknya terarah pada lelaki.Di situ dilukiskan penderitaan dan kegalauan yang menimpanya karena masyarakat kelas menengah yang membesarkannya sangat berprasangka buruk terhadap homoseksualitas. Ini akibat pengaruh romantisme budaya kaum borjuis Barat yang merembes ke Indonesia lewat ideologipembangunanisme. Kebudayaan Barat borjuis mengidentikkan perkawinan yang terbaik dan ideal itu dengan keluarga inti (nuclear family), yakni suami-isteri (laki dan permpuan) dengan beberapa anak (kandung).dede juga mengungkapakan pula keputusannya untuk membuka kenyataan dirinya sebagai gay, sat mengambil gelar doktor di Universitas Cornell, Amerika Serikat; dan membuang kehidupan penuh kepura-puraan yang dilakoninya sebelum keputusan berani itu diambil.Saat itu, dekade tahun 1980-an, gerakan emansipasi kaum gay sedang merebak di kampus-kampus Amerika. dede terinspirasi gerakan itu. Ia seakan menemukan jalan keluar dari kemelut batin yang menimpanya di Indonesia semasa rezim Orde Baru.Dia orang orang Indonesia pertama yang punya keneranian menyatakan dirinya gay. Dede, sepulang dari belajar di Negeri Paman Sam, mendapat tamparan keras; ditolak menjadi dosen di dua perguruan tinggi terkenal di Surabaya.Akan tetapi, berkat rekomendasi seorang profesor bijaksana, dia kemudian diterima sebagai dosen di FISIP Unair. Kedua orangtuanya berbesar jiwa dan menerima anaknya sebagaimana adanya dalam segala situasi untung maupun malang.Bagian pertama buku ini membicarakan erotisme homoseksual yang terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan Nusantara. Homoseksual ditemukan Dede nyaris di semua suku bangsa; Aceh, Bugis, Bali, Dayak, Jawa, Madura, Minangkabau, Papua, dan Toraja. Di Sulawesi Selatan, sampai akhir penjajahan Belanda, terdapat bissu (kaum homo) dengan tugas khusus menjaga arajang (pusaka) kerajaan dan mengatur upacara sakral. Para bissu, seiring amblesnya sistem monarki di zaman republik, kehilangan sebagian besar fungsi religio magis.***Di Ponorogo, jawa Timur, sampai awal abad ke-20, mudah ditemukan gemblak (lelaki muda piaraan warok). Di Yogyakarta bahkan ada juga kampung bernama Gemblakan, asal katanya juga dari kata gemblak itu. Ada keyakinan, kesaktian lelaki akan disedot perempuan, maka para warok lalu tidak beristri, dan untuk menyalurkan gairah lalu memelihara gemblak. Tradisi gemblakan ini juga bisa ditemukan dalam Serat Centhini.Di Solo, tulis Benedict Richard O'Gorman Anderson di bagian pengantar buku ini, ada seorang lelaki berstatus sosial tinggi yang beristri dan beranak, namun gemar memelihara momongan lelaki muda. Perilaku sugar dady (gay sepuh yang pemurah) ini ditolerir sang istri.Bagi sang istri, suaminya lebih baik punya banyak momongan lelaki ketimbang jadi badut tua yang hobinya memelihara gundik. Momongan suaminya itu tak mungkin hamil, tak bakalan punya anak. Jadi, matematis belaka, kalau tak ada anak dari "istri" lainnya, maka warisan suami akan diturunkan buat anak-anak istri satu-satunya.Bagian kedua mempersoalkan pandangan yang sekarang masih luas dianut sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa homoseksual merupakan penyimpangan psikologis maupun norma sosial. Pandangan ini jelas berasal dari Baratyang muncul bersamaan dengan perkembangan peradaban borjuis abad ke-19, di mana psikologi punya pengaruh luas termasuk di kalangan kelas menengahdi Indonesia.Menurut Dede, para psikolog akhirnya meralat pendapat keblingeran ini. Sehingga, paling tidak di Barat, sekarang homoseksualitas tidak lagi dikategorikan kelainan jiwa oleh psikiater maupun psikolog.Fokus bagian ketiga adalah situasi kaum homoseks di zaman Orde Baru dengan segala kemunafikannya. Di zaman Soekarno, homoseksualitas relatif punya kebebasan, seks dipandang sebagai urusan pribadi warga negara. Negara tak perlu turut campur secara eksesif.Di zaman Orde Baru, Soeharto menyeragamkan kehidupan seksual warga negara: KB dipaksakan, Undang-Undang Perkawinan diberlakukan, dan norma keluarga kecil bahagia sejahtera dikampanyekan.Dede mencita-citakan pergerakannya bagi kemungkinan kaum gay maupun lesbian de jure bisa kawin-mawin. Cita-cita ini sepenari dan sependendangan dengan konsep keluarga idaman ala borjuis barat yang hendak didekonstruksinya. Bukankah ini contradictio in terminis?Pada bagian keempat, Dede membicarakan malapetaka HIV-AIDS. Dede mengungkapkan bahwa di Amerika, HIV-AIDS mula-mula muncul di kalangan pria homoseks. Di kalangan Kristen Ortodoks penyakit ini dianggap sebagai laknat Tuhan atas orang-orang hombreng dengan moral bejat dan perilaku semburit sulit diperbaiki.Terbukti kemudian, menurut buku ini, penyakit tersebut juga merajalela di kalangan heteroseksual.Jadi, penyakit ini merajalela bukan karena perilaku semburit di kalangan kaum homo melulu. Pun perilaku seks gonta-ganti pasangan di kalangan heteroseks dan pemakaian jarum suntik serampangan di kalangan pemadat narkoba.Dalam rangka mencegah penyebarluasan HIV-AIDS, Dede dan para koleganya di yayasan GAYa Nusantara menjelaskan dengan gamblang, sopan, dan konkret praktik-praktik seks tidak aman berikut cara-cara menghindarinya.Bagian kelima berisi nasihat-nasihat untuk gay dan lesbi di Indonesia yang nasibnya tak putus dirundung kesulitan. Di Indonesia, tempat ikatan keluarga, khususnya hubungan anak-orangtua masih kuat, dan perkawinan merupakan keharusan alamiah, antipati terhadap kaum homo tak jarang justru menghancurkan kehidupan anak muda gay. Kaum homoseks juga menderita karena diskriminasi umum dan ancaman kelompok politik keagamaan yang sangat membenci mereka.Peluluhlantahanperhelatan kaum hombreng Kerlap-Kerlip Lampu Kedaton yang terjadi dekat Kaliurang, Sleman, dan pembubaran konggres kaum homo di Solo beberapa tahun lalu, merupakan presenden yang dipandang amat memprihatinkan oleh kaum gay. Bagian akhir berisi laporan-laporan pertemuan gay dan lesbi di Indonesia maupun internasional yang dihadiri Dede, dengan harapan kaum homo makin bermartabat. ***Karya Dede ini merupakan referensi berbahasa Indonesia pertama yang komprehensif mendiskusikan homoseksualitas. Sayang, buku ini tak memberi penjelasan mengapa beberapa rubrik majalah GAYa Nusantara isinya banyak soal-soal berbau erotisme, dan hedonisme kaum homoseks.Akan tetapi, dengan membaca buku tersebut, tanpa pretensi macam-macam, akan tahulah dunia kaum homo; kesulitan dan alam psikologinya. Dengan begitu, kita bisa memahami sikap dan perbuatan mereka. Sehingga menyetujui atau menentang perilaku mereka pun sudah berdasar pengetahuan yang memadai: bukan asal setuju atau menolak. Kita harus mulai membiasakan diri bersikap a posteriori bukan a priori.
(J Sumardianta, guru SMU Kolese de Brito Yogyakarta)
Resensi Buku di KOMPAS, 20 Desember 2003
Penghibura Rohani dalam Jurnalisme Sastrawi
DR A Sudiarja, melalui buku Bayang-Bayang, mengajak keluar dari salah kaprah ini. Berkat sentuhan Sudiarja, filsafat menjadi bacaan yang memiliki daya sentuh dan daya gugah dengan cita rasa menyenangkan. Filsafat Sudiarja bersentuhan langsung dengan keprihatinan hidup manusiawi yang ambigu, lemah, dan bergelimang kepahitan.Fungsi praktis dari filsafat sepertinya sangat ditekankan Sudiarja. Filsafat, oleh alumnus Universitas Gregoriana Roma, Italia, ini dipaksa keluar dari pertapaannya agar berarti bagi kehidupan. Filsafat, tanpa harus kehilangan wataknya yang reflektif dan dayanya untuk menjelaskan, di tangan Sudiarja menjadi wacana penghiburan yang mengobarkan semangat hidup penuh optimisme. Filsafat konsolasi ini ditulisnya dengan genre (gagrak) jurnalisme sastrawi. Ini bisa dimengerti mengingat 14 karangan yang dibukukan ini pernah dipublikasikan Majalah Kebudayaan BASIS periode 1996-1999. Refleksi tentang hidup dan pemikiran para tokoh maupun filsuf, seperti Asoka, Socrates, Plato, Boethius, Zeno, Abelard, Thomas More, Tolstoy, Mahatma Gandhi, Ana Frank, Antonio Gramsci, Zlata Filipovic, dan Nietzsche, disajikan Sudiarja dengan langgam penuturan cerita (story telling) yang memikat. Di balik kemalangan, tragika nasib, ketidakadilan, keterpisahan memilukan, diskriminasi, ketidakbebasan, kemelaratan, kekejaman, utopia, dan ketertundukan yang menimpa para tokoh itu ternyata tersimpan rahmat tersembunyi.Nirwana rupanya bersembunyi di balik samsara. Begitulah sari pati kebijaksanaan hidup Raja Asoka sebagaimana dituturkan Sudiarja dalam esai \\\"Kepedihan Kekuasaan\\\". Raja Asoka mendapati kesia-siaan hidup justru ketika berada di puncak kemasyhurannya. Kekuasaan, derajat, pangkat, dan kebahagiaan hidup sebagai warga istana sebenarnya nisbi (anicca). Segala sesuatu yang bersifat duniawi adalah penderitaan (duhkha). Mengikuti jejak Siddhartha Gautama, Sang Buddha yang telah mengalami pencerahan, Suddhodana, Raja Asoka membuang jauh-jauh politik penaklukan bergelimang darah (digvijaya) dan menggantinya dengan politik yang menyanjung hukum dan menyantuni keadilan penuh kasih serta pengertian (dhamavijaya).Sudiarja selanjutnya berkisah mengenai kemunafikan dan hipokrisi yang melanda dunia pendidikan berabad-abad lampau di Yunani dalam lakon Socrates mencari kebenaran. Para sophis gemar berkeliling kota untuk berkhotbah tentang kebenaran. Kaum bijak bestari itu tanpa malu menjajakan pengetahuan. Mereka cenderung bersaing satu dengan yang lain dalam mengajar untuk memperoleh imbalan yang besar. Socrates, berbeda dengan kaum sophis yang gemar menjual \\\"pernyataan\\\", lebih sering mengajukan \\\"pertanyaan\\\" karena sadar ia tak cukup pengetahuan. Pertanyaan-pertanyaan Socrates yang menghunjam dan beruntun membuat kaum sophis kebakaran jenggot. \\\"Saya tidak akan pernah berhenti menjadi kumbang untuk menyengat perut kuda Athena yang maunya tidur saja jiwanya,\\\" demikian Socrates pernah berujar. Socrates pun dihukum mati karena tuduhan menghasut generasi muda dengan pikiran sesat.Hidup ini akan terasa ringan, kendati kemalangan dan krisis menghantam bertubi-tubi, apabila dijalani dengan ikhlas dan mengalir. Inilah semesta hikmah yang bisa dipetik dari esai \\\"Hidup yang Bijaksana\\\". Penyelenggaraan Ilahi (takdir) berada di balik penderitaan manusiawi. Begitulah ajaran Zeno, pendiri aliran filsafat Stoa yang masyhur. Penderitaan harus diterima dengan ringan demi kesetiaan pada moral. Tidak perlu dihindari dan direaksikan secara emosional. Seneca, salah seorang yang setia pada jalur Stoa, berkeyakinan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya harta, kenikmatan, tiadanya rasa sakit, dan hilangnya berbagai godaan.\\\"Keadaanmu memang berat, tapi jangan menyerah. Engkau sedang kehilangan kesadaran yang benar dan membuat segala sesuatu menjadi tampak buruk di matamu. Tapi jangan cemas, aku akan mengobatimu. Bersikaplah tabah seperti Socrates dahulu tatkala menghadapi hukuman. Nanti engkau pun akan merasakan kebahagiaan apabila sudah memahami segalanya.\\\" Ini adalah kebijaksanaan utama yang menghibur (summmvitae solamen) dari Dewi Kebijaksanaan untuk filsuf Boethius. Pada tahun 522 M sang filsuf dijebloskan ke penjara karena tuduhan membuat persekutuan jahat hendak menggulingkan Imperium Romawi. Ia, setali tiga uang dengan Socrates, ikhlas menjalani hukuman mati di Pavia tahun 523 M.Di belahan dunia manakah manusia bisa hidup terbebas dari kemiskinan, ketidakadilan, dan kekerasan? Di Utopia. Di negeri ini semua orang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Tidak ada persekongkolan orang kaya atas nama negara untuk melestarikan kedudukan mereka dengan hukum-hukum. Dalam esai \\\"Sindiran dari Negeri Mimpi\\\", Sudiarja menulis bahwa masyarakat Utopia tidak tertarik dan tidak menghargai kemewahan. Mereka hanya mencukupi kebutuhan dasariahnya. Pejabat maupun rakyat biasa berpakaian sama tanpa hiasan aksesori apa pun.Apakah diperlukan revolusi untuk memorak-porandakan kezaliman dan ketidakadilan yang dilembagakan kaum bangsawan feodal di Rusia yang merugikan petani miskin sebagaimana menjadi kekhawatiran Lyof Tolstoy, yang meninggalkan gelar kebangsawanannya untuk kemudian hidup bersama petani miskin di desa? Bagi Mahatma Gandhi kemenangan dengan darah harus dihindari. Taktik diplomasi tanpa kekerasan mesti dirayakan sebagai kemenangan manusiawi. Taktik inilah yang disebut Gandhi dengan ahimsa (nonviolence) melalui pembangkangan, pemogokan, dan pemboikotan. Soalnya, pengampunan lebih manusiawi ketimbang penghukuman.\\\"Pikirkanlah semua kemalangan di dunia ini dan bersyukurlah karena engkau tidak termasuk di dalamnya! Nasihatku sebaliknya, pergilah ke luar, ke kebun, nikmatilah alam, dan Matahari. Cobalah menangkap kebahagiaan di dalam dirimu dan di dalam Tuhan. Berpikirlah mengenai semua yang indah yang masih ada di sekitarmu.\\\" Ini adalah kutipan \\\"Catatan Harian\\\" yang ditulis Ana Frank, si gadis Yahudi, yang tewas di kamp konsentrasi sebagai korban keganasan holocaust yang dikobarkan Nazi-Hitler.Buku Bayang-Bayang yang ditulis oleh Direktur Program Magister Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, ini diakhiri dengan renungan \\\"Sabda Zarathustra\\\" karya Nietzsche. Kenyataan buruk ateistik yang dipaparkan sang filsuf si penjagal Tuhan ternyata mengandung utopia humanis mengenai masa depan yang lebih beradab dan manusiawi-bahkan pada saat Tuhan telah diingkari.Fun just fun. Itulah salah satu kesan umum setelah membaca buku karya padri Jesuit yang kini bekerja sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan BASIS. Buku ini, dicerna oleh pembaca awam sekalipun, tetap mengasyikkan karena diberi pengantar dan sinopsis oleh Dr Sindhunata, pelopor penulisan filsafat dengan genre jurnalisme sastrawi. Buku ini bukanlah kitab siraman rohani, melainkan karya sastra untuk memeriksa makna hidup agar lebih berarti.J Sumardianta,/b> Penggiat Komunitas Mata Baru Kutu Buku dan Guru SMU Kolese de Britto Yogyakarta

Resensi Buku KOMPAS, Sabtu, 20 September 2003

Resensi Buku di KOMPAS, Sabtu 20 September 2003
Gerilya melawan Pendangkalan Makna Hidup

ALMARHUM Prof Dr Masri Singarimbun, akrab dipanggil Pak Masri, semasa hidupnya (1930-1997) dikenal sebagai pakar antropologi sosial dan ahli studi kependudukan. Pak Masri, bersama David H Penny ekonom dari Australia, adalah ilmuwan pertama yang mengangkat kemiskinan sebagai masalah sosial khususnya di pedesaan Jawa dalam buku Penduduk dan Kemiskinan: Kasus Sriharjo (1977).PAK Masri pernah dicap sebagai ilmuwan pesimis gara-gara penelitiannya yang tergolong sensitif saat itu. Ia dituduh menutup mata terhadap hasil-hasil pembangunan. Begitu ada pemberitaan bencana kelaparan di Indramayu, masyarakat di lumbung padi pantura sampai merebus eceng gondok, pelan-pelan orang mulai percaya dengan temuannya. Pendiri sekaligus direktur pertama Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM (1973-1983) ini memiliki empati (bela rasa) sangat kuat terhadap kolega yang sedang tertimpa kesulitan maupun masyarakat miskin yang dikajinya.Publikasi yang ditulis dan dieditnya sepanjang tahun 1959 hingga 1997 berjumlah 101. Pak Masri juga menulis sekitar 120-an artikel di berbagai media massa, termasuk di majalah Prisma. Tahun 1992 Balai Pustaka menerbitkan Renungan dari Yogyakarta. Buku ini merupakan antologi tulisan Pak Masri yang pernah dimuat di Tempo, Editor, Kompas, dan Jawa Pos sepanjang 1977 hingga 1992. Reflections from Yogya: Portraits of Indonesian Social Life adalah edisi Inggris Renungan dari Yogyakarta yang dipublikasikan Galang Press. Sejarawan Onghokham berhasil menampilkan kearifan maupun kebejatan masa lalu bangsa Indonesia di media massa. Pak Masri sukses mengurai benang kusut masalah-masalah sosial di surat kabar untuk konsumsi pembaca awam.Pak Masri mengajak khalayak pembaca merenungkan masalah-masalah seperti birokrasi yang tidak kunjung efisien dan mau melayani, ledakan populasi penduduk, kemiskinan, HIV/AIDS, terorisme seksual, agresi tak terkendali, korupsi, buruknya perpustakaan perguruan tinggi, rendahnya motivasi berprestasi, dan runtuhnya pilar-pilar moralitas. Patologi sosial yang hingga sekarang masih menelikung kehidupan masyarakat Indonesia.KOLOM merupakan tulisan yang sangat menonjolkan strong personal views. Ciri utama kolom Pak Masri, sebagaimana dituturkan Prof Terence H Huul dari Australian National University, bahasanya populer, langsung menukik ke pokok soal, berlumuran humor di sekujur karangan, reflektif, dan tak lekang zaman. Almarhum Satyagraha Hurip, sastrawan, pernah menganjurkan Pak Masri menulis cerpen mengingat gagrak (genre) story telling tulisannya. Pak Masri, seperti halnya Pater MAW Brouwer, memang seorang penutur cerita kelas wahid. "Kami, anak-anak, waktu itu melihat tikus sebagai kawan dan makhluk yang menggairahkan. Tikus besar mendatangkan selera makan, lebih enak dari yang berukuran sedang. Tikus ladang lebih lezat dibandingkan tikus yang berkeliaran di rumah. Seperti halnya kodok, tikus juga dibakar. Tikus panggang yang gurih ini boleh dimakan dengan sambal, dan boleh juga digulai. Tidak mustahil salah satu pemecahan hama tikus justru dengan jalan damai. Mencintai dagingnya lalu memopulerkan lauk tikus: tikus bakar, sate tikus, soto tikus, dan sop tikus. Soalnya, daging tikus lebih enak dari daging ayam atau kelinci. Kadar proteinnya pun lebih tinggi." Ini contoh gaya bertutur menggelitik penuh guyonan yang ditulis Pak Masri dalam kolom berjudul Mice and Men. Sebagai bahan perbandingan keripik dan sate bekicot (kodenya 02) sudah menjadi menu makanan favorit masyarakat Kediri dan Blitar, Jawa Timur, yang dihidangkan di warung maupun restoran.Pertanyaan reflektif senantiasa menyertai tulisan Pak Masri. Jika anjing dan serigala mau mengekang diri, berhenti mencabik-cabik musuhnya yang sudah menyerah tak berdaya, mengapa manusia tega membunuh orang yang sudah tidak berkutik? "Where is the Limit to Aggression?" adalah tulisan pertama Pak Masri di Tempo tahun 1977 yang tetap relevan buat merefleksikan perilaku sebagian masyarakat kita yang ringan senjata di Aceh, Maluku, Poso, dan Sampit.Zaman edan, tulis Pak Masri mengutip Ranggawarsita, nek ora edan ora komanan (kalau tidak larut dalam kegilaan tidak kebagian), dalam tulisan berjudul Living Together (Kumpul Kebo). Generasi muda jika terpaksa harus berkawan dengan "setan" lebih baik memilih "setan mini" (alat kontrasepsi) ketimbang "setan maksi" (hamil di luar nikah, aborsi, dan anak haram jadah)? Ini solusi yang ditawarkan Pak Masri dua dekade lalu untuk mengurai benang kusut kehidupan generasi muda yang makin lama perilakunya serba bebas dan serba boleh (permisif). Istilah Pak Masri tiada hari tanpa rangsangan seksual alias tak putus dirundung renjana berahi. Gayung bersambut. Kini anjuran Pak Masri seperti menemukan kebenarannya. Global TV, stasiun TV swasta relay MTV Asia, dengan segmen khalayak pemirsa kaum muda gencar menayangkan iklan kondom dengan aroma buah-buahan Fiesta.Kebijakan konyol normalisasi kehidupan kampus di zaman Orde Baru diparodikan Pak Masri menjadi tulisan Normalizing the Campus Library (Normalisasi Perpustakaan Kampus) saat mengkritik buruknya pelayanan dan minimnya koleksi perpustakaan yang merajalela di perguruan tinggi Indonesia dan Normalizing the Neck (Normalisasi Leher) untuk mengingatkan bahwa wabah kekurangan yodium juga melanda keluarga para dosen yang tinggal di lingkungan kampus."Beginilah riwayat manusia. Dalam situasi terbelakang masyarakat dibebani ketergantungan anak berjumlah besar. Dalam keadaan maju digayuti orang-orang lanjut usia. Namun, masalah keterbelakangan niscaya lebih runyam ketimbang masalah akibat kemajuan. Dengan kata lain, masalah ekonomi akibat struktur umur tua tidak seberapa dibandingkan masalah kemiskinan pada masyarakat terbelakang dengan tingkat kelahiran tinggi," ini renungan filosofis Pak Masri perihal kisah sukses bangsa Jepang menekan laju pertumbuhan penduduk dalam Via the Old Route (Lewat Jalan Kuno). Ingin tahu sebabnya? Jepang yang begitu jauh di depan memimpin modernisasi, kemajuan teknologi, dan kemakmuran, primitif dalam pemilihan kontrasepsi. Tingkat kelahiran yang rendah dicapai melalui cara kampungan: kondom, sanggama terputus, dan pantang berkala. Wanita Jepang gemetar melihat pil anti-hamil dan IUD. Bandingkan dengan perempuan di pelosok-pelosok desa Jawa yang buta huruf, fatalistik, berorientasi jangka pendek, pemakan gaplek, kurang need for achievement ternyata konsumen pil KB dan pemakai spiral. Rupanya, semakin tinggi pendidikan kaum urban semakin udik metode KB mereka.DALAM pandangan Prof Dr Benjamin Nicholas Forbes White, pakar studi pedesaan dari Universitas Amsterdam, Belanda, walaupun buku ini berjudul Reflections from Yogya, it is not a book about Yogyakarta. Hanya sedikit, dari keseluruhan 81 artikel, yang menyinggung hal-hal yang terjadi di sekitar Yogya, bahkan banyak yang tidak menyinggung Indonesia secara langsung, tetapi menceritakan pengalaman Pak Masri di Bangkok, Canberra, Manila, New York, Mesir, Roma, dan India.Buku klasik ini tetap relevan karena berhasil membuktikan manusia Indonesia, terutama elite politiknya, merupakan manusia hipokrit miskin refleksi. Mentalitas munafik enggan berefleksi inilah penyebab bangsa Indonesia cenderung dan gemar menakik peradaban usang yang menjerumuskan pada pendangkalan makna di pelbagai lini strategis kehidupan. Reflections from Yogya, ditujukan untuk pembaca asing pemula yang hendak mengenal dari dekat kehidupan masyarakat Indonesia dalam bahasa populer dan ringan, enak dicerna mengingat gaya bertuturnya yang khas, menggerakkan pikiran, memiliki daya sentuh, dan gaya gugah. Pendeknya buku yang memiliki gizi rohani tinggi. Nah, yang paling esensial, buku optimis ini mengajak khalayak pembacanya masuk ke relung hatinya yang terdalam supaya tabah menghadapi pergulatan, tegar mengatasi kesulitan dan tantangan, serta berani memeluk risiko.Kendati demikian, seumumnya bunga rampai buku ini mengidap penyakit bawaan. Berbagai tulisan yang pernah dimuat di media massa, satu hingga tiga dekade lalu, datanya banyak yang sudah usang. Gagasan Pak Masri, kalau di cermati dengan teliti, ternyata juga mengandung inkonsistensi. Pak Masri, sebagai generasi pertama antropolog Indonesia, adalah ilmuwan yang sangat humanis tatkala membicarakan masalah kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, disparitas jender yang menimpa pemulung, pengamen jalanan, TKW, dan buruh bangunan perempuan. Tetapi sebagai pakar studi demografi ia tampil sebagai "pembunuh berdarah dingin" pro-prostitusi dan pengguguran kandungan. Inilah dilema (ketegangan) seorang tokoh etis yang bertekun di wilayah pragmatis.
J Sumardianta, Guru Sosiologi SMU Kolese de Britto, Yogyakarta

Resensi Buku KORAN TEMPO, 16 Februari 2003


KORAN TEMPO, 16 February 2003
Menyingkap Tabir Ideologis Pemberitaan Media
Judul: Analisis Framing (Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media)
Penulis: Eriyanto
Pengantar: Dr. Deddy Mulyana
Penerbit: LKiS-Yogyakarta, Desember 2002
Tebal: xxiv + 311 halaman
Noam Chomsky pernah berkisah perihal perompak dan armada angkatan laut kerajaan Spanyol pada abad pertengahan. Bajak laut yang tertangkap basah sedang merompak ngotot tidak mau dicokok pasukan armada kerajaan. "Mengapa kami pekerja keras yang kecil dan rentan ini disebut perompak, sementara Anda yang bergelimang kemewahan karena mengutil upeti kerajaan dalam jumlah besar disebut pahlawan?" Kisah pemikir masyhur yang sangat kritis terhadap pemerintah Amerika Serikat itu merupakan ilustrasi bagus bagaimana suatu peristiwa dimaknai secara berbeda. Peristiwa sama digambarkan berbeda memang jamak ditemukan dalam pemberitaan media, tergantung politik media dalam membingkai berita. Ada media yang memberitakan divestasi saham Indosat sebagai kiat negara menghindari kebangkrutan. Ada pula yang justru memberitakannya sebagai kegetolan Laksamana Sukardi menggadaikan negara. Buku terbaru Eriyanto ini membahas analisis framing (pembingkaian) berikut penerapannya untuk memahami pemberitaan media massa. Analisis framing memusatkan perhatian pada bagaimana media mengemas, membingkai, memaknai, dan mengkonstruksi berita. Proses framing, menurut peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta ini, dilakukan dengan menonjolkan aspek tertentu-mengaburkan aspek lainnya; menampakkan aktor tertentu-menyembunyikan aktor lainnya; dan menekankan sisi tertentu-melupakan sisi lainya dengan bantuan kata, aksentuasi kalimat, serta foto. Framing acap dijadikan senjata ampuh untuk merebut dukungan publik. Salah satu isu krusial yang berhubungan dengan mobilisasi massa adalah pemberitaan media Indonesia atas kedatangan pasukan Interfet di Timor-Timur. Pemerintah membingkai masalah ini dengan isu nasionalisme. Kedatangan Interfet dikatakan melanggar kedaulatan RI. Kehadiran pasukan terlatih dengan senjata canggih itu dikonstruksi sebagai kesewenang-wenangan konspirasi Barat. Bingkai semacam ini terbukti sangat manjur buat menyulut gerakan anti Australia dan PBB. Padahal bingkai itu bertujuan menghapus dosa militer Indonesia dalam seperempat abad kegaduhan di Timor-Timur (hlm. 143). Framing juga sering dipakai buat cuci tangan dari segala keruwetan politik masa lalu melalui mekanisme kambing hitam. Jajak pendapat Timor-Timur, lagi-lagi, dijadikan Eriyanto sebagai contoh dramatis. Kelompok Pro-Kemerdekaan menang telak dalam referendum yang diawasi lembaga internasional itu. Pemerintah mengembangkan bingkai (frame) buat menyudutkan Unamet. Kecurangan Unamet diberitakan sebagai penyebab kekalahan menyakitkan kelompok Pro-Integrasi. Kesalahan sistematis pemerintah RI sepanjang 1974-1999 hendak dihapus dengan mengambinghitamkan Unamet. Tindakan eksesif militer yang menyulut perlawanan rakyat Tmor-Timur tidak mendapat liputan memadai. Sumber masalah direduksi melulu soal kecurangan Unamet. Analisis framing adalah bagian dari paradigma konstruksionis. Konstruksionisme yang didasarkan pada teori sosiologi kritis Peter L. Berger dan Erving Goffman ini sering disebut dengan paradigma produksi atau pertukaran makna. Sedangkan paradigma positivisme disebut paradigma transmisi. Analisis isi kuantitatif, maupun model komunikasi linier ala Wilbur Schramm dan Harold Laswell, yang bercorak positivistik, kendati masih tetap mendominasi berbagai kajian komunikasi, sebenarnya sudah majal buat memahami kompleksitas wacana pemberitaan media. Media, dalam paradigma konstruksionisme, bukan saluran yang bebas, obyektif, dan memberitakan peristiwa apa adanya. Media bukan cermin realitas karena fakta atau peristiwa adalah hasil konstruksi realitas. Berita, dengan demikian, bersifat subyektif. Media dan wartawan bukan pelapor, melainkan agen realitas. Tak heran bila dalam konflik di Aceh dan Papua, misalnya, sisi kekejaman yang lebih banyak diliput dan ditekankan. Kerinduan rakyat Aceh dan Papua akan keadilan sering luput dari eksposur media. Ketimpangan struktural antara pusat dan daerah disederhanakan media sebagai masalah separatisme. Konflik politik akut dengan klimaks penggulingan Soeharto juga disimplifikasi melulu sebagai kerusuhan etnis. Khalayak tentu mempunyai penafsiran sendiri yang bisa jadi berbeda dari persepsi atau agenda pembuat berita tentang konflik dan disintegrasi itu. Bertolak belakang dengan pandangan positivisme yang beranggapan berita yang diterima khalayak sama dengan yang dimaksud pembuat berita. Model-model pembedah pesan media disistematisasi Eriyanto berdasarkan konsep framing yang dikembangkan Murray Edelman, Robert N. Entman, William A. Gamson, dan Zhongdang Pan-Gerald M. Kosicki. Masing-masing model diterapkan Eriyanto dalam studi kasus analisis framing "Isu Caleg PDIP Non-Muslim" di tabloid Abadi dan Demokrat, "Isu Aryantigate" di majalah Forum Keadilan dan Panji Masyarakat, "Isu Debat Calon Presiden" di tablod Amanat dan Demokrat, dan "Isu Pengalihan Kekuasaan dari Soeharto ke Habibie" di harian Kompas dan Republika. Buku ini merupakan seri kedua dari "Trilogi Metode Penelitian Media" yang dikerjakan Eryanto. Seri pertama Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media (2001). Seri ketiganya Analisis Semiotika dalam Studi Media sedang dalam proses penulisan. Analisis wacana, framing, dan semiotika lebih meyakinkan buat menelanjangi politik pemberitaan "maling teriak maling" media Barat. Pun alternatif buat menyingkap berbagai kedok ideologis model pemberitaan "belah bambu" media Indonesia. J. Sumardianta, pustakawan tinggal di Yogyakarta
Artikel di Rubrik TEROKA KOMPAS, 2006
Bahagia dalam Sengsara: Senjata Orang yang Kalah
J Sumardianta
Chuang Tzu, Bapak Taoisme, gemar menyamakan dirinya dengan kupu-kupu. Menjelang wafat, para murid sepakat hendak membaringkan Chuang Tzu dalam peti indah agar jasadnya tidak dimangsa burung gagak.Chuang Tzu menghardik, "Kalian takut aku dimangsa burung gagak. Toh dalam peti indah sekalipun aku tetap dimakan cacing dan rayap. Jadi sama saja." Chuang Tzu tidak mau terikat dengan apa pun di dunia yang fana. Sebagaimana kupu-kupu, Chuang Tzu ingin terbang lepas bebas.Kupu-kupu memang identik dengan cinta, kerendahan hati, kebahagiaan, kebebasan, dan pengorbanan. Di penghujung musim kemarau, kupu-kupu kuning biasanya terbang dari arah barat menuju utara. Mereka bermigrasi mengikuti semilir angin bertiup. Kupu-kupu kuning berbondong-bondong dalam jumlah besar hanya untuk mati di utara. Kupu-kupu itu menjadi pertanda sebentar lagi musim hujan akan datang. Serangga ini memberikan perasaan sunyi yang indah. Kupu-kupu merupakan simbol pengorbanan hidup supaya hujan jatuh membasahi dan menyuburkan bumi.Kupu-kupu kuning merupakan ilustrasi bagus buat menggambarkan ketangguhan dan keteladanan spiritual Ram Chander dan Hasari Pal—dua tokoh keserakat dalam buku klasik Dominique Lappiere, The City of Joy (1985). Hasari Pal bersama istri dan ketiga anaknya adalah petani yang terdampar di Calcutta, India, akibat bencana kekeringan berkepanjangan. Hasari bekerja sebagai penarik angkong (ricksaw). Pekerjaan kasar jenis ini sering diledek sebagai manusia kuda.Senjata orang kalahKehidupan penarik ricksaw miskin, keras, dan menderita. Bekerja nyaris tanpa jaminan kesehatan dan keselamatan. Mereka penghirup polusi udara terburuk di dunia. Obyek pemerasan polisi kota praja. Biasa terbunuh di jalanan karena kejeblos lubang drainase yang menganga tutupnya karena dicuri orang di saat banjir. Menjelang pemilu sering dieksploitasi pengurus partai yang berdalih membela orang miskin.Kendati ia kecingkrangan (tidak berdaya), kehidupan Hasari sesungguhnya diliputi kebahagiaan dan dipenuhi perasaan syukur. Sebelum mati, dipagut tuberkulosis, Hasari menjual kerangka tubuhnya ke perusahaan alat peraga kedokteran agar bisa mendapat biaya pesta pernikahan Amrita, anak perempuannya. Penganut Hindu yang saleh ini menerima nasib menjalankan tugas suci yang harus ditunaikan agar memperoleh kehidupan lebih baik sesudah reinkarnasi.Bagaimana penarik angkong menyalakan harapan hidup supaya bisa bertahan dalam kesulitan, tegar dalam pergulatan, dan tabah menghadapi kekerasan? Ram Chander, bekas petani yang tidak kunjung bisa menghapus utang keluarganya di Provinsi Bihar, bertutur, "Masih terbayang di mata bagaimana istri saya menggandeng tangan anak saya, berdiri di ambang pintu gubuk kami seraya mengusap air mata. Kami sering bicara tentang rencana kepergian dan sekarang saatnya tiba. Ia menyiapkan sebuah ransel berisi satu longhi, kemeja, dan handuk. Ia bahkan membuat chapati (martabak India) dan potongan sayur-sayuran sebagai bekal perjalanan. Sampai mati akan tetap terkenang. Ingatan mesra tentang keluarga yang berdiri di depan gubuk lempung itulah yang membuat saya tetap bertahan di kota bengis ini."Ram Chander bermimpi suatu hari ia akan kembali ke desanya dan membuka kedai pracangan di sana, dan duduk di kios itu sepanjang hari, tanpa berlarian. Ia ingin bertakhta di warungnya, dikelilingi karung- karung penuh segala macam kacang dan beras. Dan, wadah-wadah yang mengeluarkan aroma rempah, bumbu dapur, dan onggokan sayur. Di rak tersedia sabun, dupa batangan, biskuit, rokok, dan makanan kecil. Ram tidak pernah bisa pulang ke desanya sebagaimana para penarik angkong lain. Ram mati dipagut radang paru-paru.Hasari Pal dan Ram Chander wujud kearifan India "segala yang tidak kita berikan akan lenyap sia-sia". Mereka alegori perihal penderitaan, kematian, dan kehancuran yang bergandengan tangan dengan belas kasih, harapan, dan cinta. Kisah bagaimana manusia belajar dalam situasi paling kelam, tetapi bisa menyalakan semangat hidup. Persis yang dikatakan Rabindranath Tagore, pujangga India peraih Nobel, "Penderitaan itu agung, tetapi manusia tetap lebih mulia dari penderitaan."Kaum paria menjadi manusia luar biasa berkat kemampuan mereka melampaui kekejaman hidup yang tidak ramah. Antropolog James Scott menyebut kemampuan ini sebagai Weapon of the Weak (senjata kearifan kaum rudin). Ironi melegakan karena memberdayakan kaum rudin untuk bisa menertawai kenistaan. Kaum paria, mengutip almarhum Karl Rahner, teolog masyhur Jerman abad ke-20, berkat ironi sukses menggapai transendensi—pengalaman dikuatkan sang adikodrati dalam mistisisme konkret sehari-hari.Menaklukkan hipokrisiNasib tukang becak di Yogyakarta setali tiga uang dengan penarik ricksaw di Calcutta. Mereka tak ubahnya pelanduk yang menerjunkan diri ke air guna membebaskan diri dari kejaran binatang buas, tetapi tukang becak mendapati diri dikepung gerombolan buaya.Kendati memelas, bila didekati secara mendalam, dari warung-warung tempat mereka melepas penat seraya mengudap makanan, keseharian tukang becak memancarkan kegembiraan, semangat, dan harapan. Inilah sisi-sisi terang tukang becak bergelimang ketegaran, kebersahajaan, cinta, berkah, kepuasan, ketenteraman, perasaan syukur, ikhlas mengalir, keberuntungan, dan keselarasan. Ada tentu, tukang becak licik dan pemeras.Becak merupakan pantulan hidup bernilai, bermakna, dan tujuan hidup mendasar dari wong kabur kanginan: orang tidak berumah, tidur di jalanan. Transendensi terbaca dari slebor-slebor becak pribadi mereka. Waton Urip, artinya, bukan hidup ngawur dan seenaknya sendiri, melainkan berani hidup tanpa memberontak terhadap kehidupan. Banyu Mili atau Lumintu, memuat keyakinan, kendati sedikit toh rezeki bakal mengalir terus tiada henti. Sri Rahayu, membuktikan kesungguhan tukang becak dalam membesarkan dan melindungi anak perempuan.Kendati berornamen sederhana slebor becak bertuliskan Ningsih (dicintai setiap orang), Barokah (terberkati), Prasojo (bersahaja), Marem (kepuasan), Bejo (beruntung), Sami-Sami (penerimaan dan pemberian diri tanpa syarat), Gemah Ripah (subur makmur), Prihatin (bermati raga), dan Raharja (maju) sesungguhnya memuat harapan dan motivasi hidup para tukang becak. Slebor-slebor becak itu refleksi pandangan hidup Jawa manggihaken kabegjan ing sak lebeting kecingkrangan (menemukan kebahagiaan dalam ketidakberdayaan) dan kabegjen iku tansah ana kekurangane (kebahagiaan itu senantiasa mengandung ketidaksempurnaan).Becak, di zaman serba motor, seolah merendahkan martabat manusia. Penghela mengeksploitasi diri layaknya kuda beban. Namun, dalam diri Pak Kliwon, Pak Zaenal, Pak Sukiman, bahkan mBok Ponirah, tukang becak perempuan, tidak ada fatalisme dan sikap menyerah. Mereka simbol konsolasi (filsafat kegembiraan) bukan desolasi (filsafat kemuraman). "Apabila kehidupan sehari-hari terasa miskin, jangan kau keluhkan, tetapi sesalilah dirimu karena tidak cukup tabah untuk menggali kekayaannya." Alegori penyair masyhur dari Jerman, Rainer Maria Rilke (1872-1926), ini amat sesuai buat menggambarkan semangat dan integritas penarik becak.Pak Kliwon (60 tahun), yang sehari-hari mangkal di dekat Stasiun Lempuyangan, gampang bersyukur karena badan tidak cacat untuk memenuhi nafkah keluarganya. Pak Sukiman tak pernah menumpang bus saat pulang ke desanya. Ia mengayuh becaknya sampai Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Perjalanan ditempuh lima jam karena harus berhemat supaya anak-anak tetap bisa sekolah. Ponirah (55), lebih heroik lagi. Sudah 15 tahun ibu lima anak ini mbecak. Sepeninggal suaminya karena kanker, Ponirah harus menanggalkan urat malu. Ponirah pernah ditempeleng sesama tukang becak dan ditendang polisi demi mencicil utang. "Tertawa adalah persepsi terhadap situasi yang kontradiktif," kata filsuf Emmanuel Kant.Strategi hidup dengan memaksimalkan kekuatan unik, seperti solidaritas sosial, keberanian, keuletan, integritas, kebaikan hati, pengendalian diri, dan rendah hati, rupanya membuat tukang becak mampu mentransendensi kesulitan dan meloloskan diri dari tirani kekejaman dunia.Transendensi merupakan sinergi kekuatan dari dalam yang menjangkau keluar sebagai penghubung tukang becak dengan sesuatu yang permanen dan lebih akbar—spontanitas, kesadaran diri, terbimbing visi dan nilai, mental holistik, kepedulian, independen pada lingkungan, mengambil manfaat dari kemalangan, dan keterpanggilan.Wahai para politisi ambisius dan para saudagar gelojoh yang berlumuran kekayaan material namun busung lapar di gurun spiritual, hentikanlah intrik maupun pat-gulipat dengan meneladani ketangguhan spiritual tukang becak. Agar bangsa Indonesia tidak terjun bebas terus di lembah ketiadaan karena pemimpinnya bermental budak-berjiwa kerdil.
J Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese de Britto Yogyakarta

Opini tentang Gus Dur, KOMPAS, 19 Agustus 2000

OPINI
KOMPAS, Sabtu, 19 Agustus 2000
Demokrasi Dicita, Anarki Tiba
Oleh J Sumardianta
MENGANJURKAN demokrasi pada rakyat Indonesia bagai memasang korset terlampau ketat di perut seorang perempuan. Demokrasi enak dibicarakan saat tidak berkuasa. Ketika berkuasa, demokrasi sebenarnya merupakan isu politik yang menjengkelkan. Pameo ini berlaku buat penguasa mana pun, tanpa kecuali Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Meski berbekal modal sosial-politik kuat, karena terpilih lewat pemilu demokrasi, posisi Gus Dur terbilang tidak aman. Gus Dur menghadapi riak-riak ketidakpuasan yang bisa berubah jadi gelombang besar. Terutama sejak Gus Dur menyorongkan gagasan pencabutan Ketetapan (Tap) MPRS Nomor XXV/MPRS/1966. Ketidakpuasan mengeras akibat akumulasi kasus per kasus seperti pencopotan Hamzah Haz, Jenderal Wiranto, Laksamana Sukardi, dan Jusuf Kalla sebagai menteri, serta Buloggate, Bolkiahgate, PLN-gate, dan Sabiringate. Ada gejala, orang Indonesia putus asa memikirkan kinerja pemerintahan Gus Dur. Kekaguman orang kepadanya merosot. Ia masih bertahan karena orang trauma dan phobi akan alternatif penggantinya. Gus Dur memang "tidak prigel memerintah" dan suka jalan sendiri. Krisis ekonomi dan politik makin tak terkelola. Pemerintahan makin tak tertata. Gejalanya semi anarki merajalela, nilai rupiah melemah, bara Aceh, Maluku, Poso, dan Irian Jaya, menjalar ke Jawa. Ini yang makin memotivasi rival-rival politik untuk memakzulkan (meng-impeachment) Gus Dur. ***
MEMAKZULKAN Gus Dur, sebenarnya, tak semudah membuka peti lalu mengeluarkan isinya. Megawati, personifikasi partai "Banteng Tambun", tidak cukup punya nyali untuk mengintrodusir inisiatif. Akbar Tandjung, personifikasi "Beringin Rimbun", sangat kalkulatif. Amien Rais, personifikasi "Poros Tengah", yang biasanya nekat nyalib di tikungan terakhir, kini mesti cermat berhitung-keputusannya bisa memicu kekerasan massal warga Nahdlatul Ulama versus Muhammadiyah. Terlebih warga nahdliyin, berbasis massa mega besar di Jawa Timur, sebagaimana dielaborasi Hermawan Sulistyo, dalam Palu Arit di Ladang Tebu (2000), punya pengalaman sejarah dalam konfrontasi mematikan melawan PKI menjelang maupun pasca-Gestapu. Singkat kata, bila pemerintahan Gus Dur sampai dimakzulkan, Indonesia bisa terjerumus kembali di pusaran air yang menghisap ke bawah (vortical) persis di tahun 1965-1966. Jelas, tidak masuk akal jika gonjang-ganjing Indonesia melulu dibebankan di pundak Gus Dur. Kabinet Persatuan Pembangunan, disadari sejak awal, tidak ideal karena merupakan hasil rekonsiliasi ala dagang sapi di antara juragan partai politik. Memakai rekonsiliasi untuk kepentingan kekuasaan sebenarnya salah kaprah. Rekonsiliasi adalah pengertian agama dan teologi. Maknanya pertobatan dan pengampunan agar hubungan antarmanusia yang telah dirobek-robek oleh kesalahan masa lalu dapat dipulihkan kembali. Gus Dur, yang besar di lingkungan LSM, sebenarnya konsisten menabur benih-benih demokrasi pluralistik. Ia kiai inklusif berpikiran maju. Sayang, pemerintahannya tidak solid sehingga rakyat mudah diprovokasi kaum oportunis memanen anarki. Proses kelahiran demokrasi di Indonesia, menyitir Romo G Sindhunata SJ, dalam Sakitnya Melahirkan Demokrasi (2000), setali tiga uang dengan derita perempuan yang tengah menjalani persalinan lewat operasi, penuh kesakitan, ketegangan, dan kecemasan luar biasa. Ketidaknormalan proses persalinan itu klimaks 32 tahun kejumawaan Orde Baru. Ada seorang yang mirip diktator ingin berkuasa terus-menerus. Bersamaan dengan dilucutinya topeng-topeng sang diktator, kerusuhan, kekerasan, disintegrasi vertikal maupun horisontal, dan demoralisasi datang silih berganti. Para pihak yang bertikai kehilangan kreativitas kemanusiaan buat meresolusi konflik secara damai. Mereka menghabiskan energi hanya untuk mengekspresikan kebodohan natural manusia-saling menyalahkan dan membunuh. *** ELITE politik Indonesia sedang terperangkap veloziverisch, persilangan antara velocitas (ketergopoh-gopohan) dan Lucifer, si penghulu setan. Para elite politik saling menyabot kekuasaan. Karena elite politik kehilangan ketenangan, peradaban pun berubah menjadi kebiadaban. Ujung-ujungnya, rakyat dirundung kegelisahan. Kehidupan mereka bagaikan beras sedang ditampi. Bingung, cemas, dan makin sengsara, jadi bulan-bulanan kekuatan anonim. Kodok, mengingat faal tubuh nya, tidak punya sensitivitas atas perubahan suhu di sekitarnya. Suhu tubuh kodok turun-naiknya mengikuti suhu habitat. Jika ditaruh dalam panci berair lalu dipanasi pelan-pelan, kodok itu akan mati. Metafora kodok rebus ini pas buat menggambarkan ketidakpekaan elite politik atas sindrom kapal Titanic yang menyergap bangsa Indonesia. Elite politik Indonesia tidak punya sense of urgency-terus berebut sesuatu yang tidak jelas juntrungan dan faedahnya. Mereka gagal merancang visi, misi, dan aksi, untuk menyelamatkan Indonesia yang sudah berada dalam tubir kemelelehan (on the brink of melting down). Egoisme elite politik telah mengantar Indonesia ke ambang krisis ekonomi gelombang kedua. Sense of urgency inilah yang mesti dinyalakan buat mengatasi masalah-masalah krusial yang telah lama menelikung bangsa Indonesia. Masalah-masalah yang dikhawatirkan bisa menenggelamkan Indonesia itu antara lain breakdown of law and order (runtuhnya supremasi hukum dan tertib sosial), erosi nasionalisme yang mengarah disintegrasi, dan dislokasi konflik horisontal ditandai agresivitas massa. Keterjerumusan bangsa Indonesia, dalam sumur tanpa dasar, bukan proses tiba-tiba. Awalnya, meminjam istilah Prof Teuku Jacob (2000), kelalaian dalam pemeriksaan kondisi kesehatan Indonesia menyeluruh secara rutin. "Dokter-dokter ahli patologi sosial" tidak menjalankan tugas dengan baik-gemar membuat surat keterangan sehat karena suap. Mereka hanya mengobati gejala penyakit, bukan mengatasi penyebabnya. Sikap, disiplin, etika, dan moralitas elite politik Indonesia, setali tiga uang dengan air, cenderung mengalir ke tempat yang paling rendah. Tak heran bila berbagai bentuk kriminalisasi konflik politik, kezaliman radikal, politik "belah bambu" antar-agama maupun etnisitas, dan terorisme manifes atau terselubung melembaga di seluruh pelosok negeri. Indonesia telah lama ditelikung krisis kelembagaan birokrasi. Birokrasi Indonesia menderita obesitas. Pegawai tumbuh terus diiringi meningkatnya kebocoran anggaran. Kegemukan membuat birokrasi sukar bergerak dan mengubah haluan. Itu sebabnya mudah terkena serangan jantung mendadak. Birokrasi pemerintahan, sampai hari ini, bisa dibilang bizarre government (tidak lazim) dan feeble government (tidak mumpuni). *** BIROKRASI identik maladministrasi dan korupsi. Korupsi berarti lenyapnya kemampuan untuk setia pada prinsip dan aturan main. Dalam sistem korup, kata Nietzche, mereka yang tidak ikut korupsi dianggap pandir (die nichtkorrupte sind die dumme). Birokrat hidup dari suap, pelicin, dan nepotisme. Masyarakat, bahkan untuk mengakses layanan fasilitas yang paling elementer, misalnya, antre beli tiket di stasiun kereta api, mesti menyuap. Korupsi yang nyaris merata jelas menandakan keruntuhan moral bangsa. Inilah sumber ketidakpastian politik berkesinambungan. Kondisi parah ini memang warisan rezim Orde Baru. Berbagai aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat tidak satu pun luput dari jerat sistem Orde Baru yang kleptokratik (berwatak pencuri), mobokratik (berperangai bandit), sentralistik, sarat KKN, dan bergelimang kekerasan. Hubungan penguasa dengan rakyat jangankan bersupremasi kawulo, egaliter pun tidak. Tak heran bila penegakan hukum majal. Orang yang jelas-jelas menzalimi rakyat tetap bebas melenggang menginjak keadilan. Mereka, berkedok reformasi, dan bersekongkol dengan anggota parlemen hasil Pemilu 1999, cuci tangan dari segala keruwetan Orde Baru dengan cara memelintir produk-produk hukum demi keselamatan mereka. Indonesia tengah menjalani transisi besar dari otokrasi menjadi demokrasi partisipatif. Transisi ini tidak dibimbing partai yang menang mutlak dalam pemilu. Piranti buat mengefektifkan kekuasaan seperti partai, parlemen, militer, polisi, kejaksaan, lembaga audit keuangan dan peradilan semuanya masih rapuh untuk tidak mengatakan berantakan. Lembaga-lembaga itu mengalami atrofi, melulu diperlakukan sebagai dekor demokrasi. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tidak ada seorang presiden pun yang bisa menjalankan pemerintahan dalam kondisi compang-camping begini. Siapa pun pemimpin Indonesia yang hendak menunaikan amanat reformasi, dalam situasi kacau yang sudah demikian bangkrut dan sistemik, ibarat hendak menjaring matahari. Ini cermin Indonesia masih berada dalam tahap demokrasi yang belum terkonsolidasi (unconsoldated democracy). Belum ada jaminan transisi demokrasi secara otomatis bergerak ke arah instalasi demokrasi. Apalagi memasuki fase konsolidasi demokrasi. Indonesia, lazimnya berbagai negara yang mengalami kegagalan sistem otoritarianisme, tengah memasuki episode negosiasi demokrasi di antara berbagai entitas politik-militer, mosleem politics, mahasiswa, dan grassroot politics. Episode ini bisa berakhir dengan berjayanya kembali otoritarianisme. Bisa pula berproses menuju konsolidasi demokrasi. Nah, sampeyan Gus (Dur) tetap jadi tumpuan harapan Indonesia untuk menghela transisi menuju demokrasi secara aman dan damai. J Sumardianta, guru sejarah SMU Kolese de Britto Yogyakarta, alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Resensi Buku Al Ghazali, Suara pembaruan, 20 Februari 2003

SUARA PEMBARUAN, 20 Februari 2003
Sahabat dalam Ketaatan kepada Allah
Judul buku:
Metode Menaklukkan Jiwa-Perspektif Sufistik
(Disciplining the Soul-Breaking the Two Desire)
Penulis:
Al-Ghazali
Penerjemah:
Rahmani Astuti
Penerbit:
Mizan-Bandung, 2002
Tebal:
344 halaman
Para pemikir Islam politik (fiqh siyasah) tidak pernah jera mengingatkan umat Islam, khususnya para ulama dan penguasa muslim, akan bahaya kekuasaan dan politik. Imam Al-Ghazali pernah menyatakan bahwa politik adalah lahw dan la'b, permainan memabukkan yang bisa membuat orang lupa daratan. Kekuasaan dalam nalar fiqh siyasah bersumber pada hawa nafsu yang sulit dikendalikan.
Al-Ghazali (1058-1111 M) dengan ketajaman analisis seorang filsuf dan kedalaman penghayatan seorang sufi mengetengahkan keluhuran akhlak secara panjang lebar dalam karya monumental paling prestisius Ihya' Ulum Al-Din. Pemikir terbesar etika politik Islam itu, saat membahas sistem dan kelembagaan politik, sangat menekankan akhlak, moral, dan etika. Soalnya, keluhuran akhlak merupakan tolok ukur pencapaian kemanusiaan dalam Islam.
Buku ini hasil terjemahan edisi Inggris dari dua bab Ihya' Ulum Al-Din yang menjadi ciri khas ajaran etika Al-Ghazali. Bagian pertama membahas diagnosis dan terapi katarak spiritual (akhlak buruk seperti licik, batil, zalim, dan dusta) yang menghalangi mata batin manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Bagian kedua secara khusus mencermati dua penyakit mental manusia paling berbahaya: sifat rakus dan hawa nafsu yang tidak terkendali.
Tasawuf acap dimaknai sebagai aspek ajaran Islam yang paling memberi aksentuasi pada kesucian rohani manusia. Al-Ghazali, dalam pandangan Fazlur Rahman, berpengaruh besar bagi dunia Islam karena mampu membangun kembali ortodoksi Islam dengan menjadikan sufisme sebagai bagian integral kehidupan kaum Muslim.
Kontribusi Al-Ghazali paling istimewa bagi Islam terletak pada teknologi spiritual buat pendisiplinan jiwa terutama melalui ibadah puasa.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda, "Allah tidak pernah membuat baik paras dan akhlak seseorang hanya untuk membiarkannya dimangsa api neraka" dan "Sebaik-baiknya mukmin adalah yang paling baik akhlaknya" (halaman 77).
Sabda Kanjeng Nabi yang dielaborasi Al-Ghazali di bagian pertama buku ini sangat kontekstual dan relevan dengan praksis keberagamaan umat di Indonesia dewasa ini.
Kebangkitan Islam di Tanah Air agaknya belum mampu membendung arus besar "atheisme" berwajah hedonisme, pragmatisme, sekularisme, dan materialisme.
Hedonisme adalah kecenderungan orang untuk hidup mewah tanpa mau kerja keras. Pragmatisme adalah perilaku ingin sukses dengan mengandalkan jalan pintas atau mental nerabas. Sekularisme adalah kecenderungan hidup yang semakin larut dan diperdaya kepentingan-kepentingan duniawi, sehingga mengabaikan dimensi spiritual keagamaan. Materialisme adalah gaya hidup egolatri (memuja martabat secara berlebihan) yang melulu diarahkan untuk mendewakan (memberhalakan) harta benda, uang, dan kekuasaan.
Di Indonesia, korupsi berketiak ular sulit diberantas karena hedonisme, pragmatisme, sekularisme, dan materialisme merajalela di lingkungan birokrasi pemerintahan dari akar rumput hingga lembaga-lembaga tinggi kenegaraan. Mengapa? Pemahaman dan penghayatan keagamaan berhenti pada simbol normatif dan praktik ritualisme.
Agama telah disapih dari dimensi spiritual. Praksis keberagamaan telah mengabaikan etika. Jiwa-jiwa manusia jadi tidak disiplin sehingga gampang ditelikung berbagai "atheisme" pragmatis di atas.
Metode pendisiplinan diri melalui ibadah puasa belum berhasil mengikis akhlak buruk yang daya rusaknya sangat masif dan berskala luas. Negeri ini terjerumus zaman laknat penuh kutukan (jahiliyah) karena, meminjam perspektif sufisme Al-Ghazali, mewarisi mental kepemimpinan zalim, munafik, culas, batil, serakah, rakus, dan gelojoh. Elite politik belum mengindahkan petuah Rasulullah SAW, "pemerintah bisa tetap hidup kendati tidak beriman tetapi akan hancur bila tidak adil."
Para koruptor berwajah ulama memang menelikung agama sebagai sarana pemuas nafsu kepentingan mereka. Agama yang dijadikan penjaga tatanan pendukung status quo lebih berbahaya ketimbang kebrutalan tentara paling fasis.
Benar, kata Al-Ghazali, keutamaan Islam terhalang katarak spiritual pemeluknya sendiri. Penghayatan keagamaan artifisial karena digerus hedonisme, pragmatisme, sekularisme, dan materialisme terus berpeluang besar memperdaya umat.
Teknologi pendisiplinan jiwa yang dikembangkan Imam Al-Ghazali, dalam buku ini, tidak ditujukan buat mengebiri hasrat-hasrat alamiah manusia akan kuasa, harta, maupun kehormatan keduniawian lainnya melainkan membawa pada keseimbangan yang memungkinkan orang beriman meraih masa depan lebih baik dengan mengubah perilaku buruk tidak terpuji melalui gerakan asketik.
Imam Al-Ghazali adalah preseden bagus keberagamaan secara radikal. Ia ikhlas meninggalkan segala jabatan dan gemerlapnya pesona duniawi untuk hidup melulu seturut kehendak Ilahi dengan membaktikan diri sepenuhnya sebagai seorang sufi.
Keteladanan yang bisa ditimba dari masterpiece sang Hujjatul-Islam ini: Hanya jika elite politik, menyantuni kejujuran, ketulusan, ugahari, kesederhanaan, kerendahan hati, dan kebajikan serta berani hidup susah ala Imam Al-Ghazali maka bangsa Indonesia akan terbebas dari lembah kebinasaan.
J SUMARDIANTA
Last modified: 20/2/2003

Resensi Buku Onghokham di Suara Pembaruan, 29 Agustus 2003

Resensi Buku di Suara Pembaruan, 29 Agustus 2003
Belajar dari Kearifan Sejarah
Judul Buku:
Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang
Penulis:
Onghokham
Penerbit:
TEMPO, Freedom Institute, dan LSSI-Jakarta, Mei 2003
Tebal:
xv+380 halaman
Kain gordin di ruangan Residen Madiun JJ Donner biasa makan pagi hilang dicuri orang pada 6 Oktober 1899. Pencurian itu dianggap melecehkan martabat pejabat kolonial tertinggi di wilayah Madiun. Residen memanggil Brotodiningrat, Bupati Madiun, dan menyatakan pencurian itu bermotif politik, bahkan mengandung tendensi subversif.
Bupati dituduh berkomplot hendak menyusun persekutuan jahat dengan mengobarkan Perang Diponegoro jilid ke-2. Sebulan setelah penyelidikan, pencuri tertangkap namun tuan Residen tetap tidak percaya. Brotodiningrat lalu dibuang ke Padang, Sumatera Barat. Nah, yang menarik, dalam membela diri, Bupati Madiun menggunakan jasa pengacara, wartawan, serta mengirim nota protes ke Ratu dan parlemen di Den Haag Belanda.
JJ Donner sendiri dipensiunkan karena dianggap telah mencapai titik terendah nervous breakdown. Kendati sudah pensiun, Donner tetap gemar membuat pamflet tentang Brotodiningrat yang dituduhnya penggerak teror pembakaran ladang tebu dan tembakau sepanjang 1901-1905 di Besuki. Mental paranoid Donner mengingatkan orang pada aparat rezim Orde Baru Soeharto yang gemar membuat ontrang-ontrang (geger) bermotif agama atau etnis lalu dipadamkan sendiri untuk pengawetan kekuasaan.
The Brotodiningrat Affairs merupakan salah satu artikel menarik Onghokham dalam buku Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang. Buku kumpulan kolom Onghokham di majalah TEMPO 1976-2002 ini diterbitkan untuk memeriahkan ulang tahun ke-70 sang sejarawan, 1 Mei 2003. Suatu kebetulan yang manis, selama 26 tahun, tulisan Ong di TEMPO berjumlah 70.
Buku ini diluncurkan bersama buku lain bertajuk The Thugs, The Curtain Thief and The Sugar Lord: Power, Politics and Culture in Colonial Java.
Pemerintah Hindia Belanda ketika memulai Sistem Tanam Paksa pada 1830 menawarkan kepada para bupati di Jawa mengenai pergantian kepemilikan tanah (pelungguh) dengan subsidi keuangan yang diperbesar dari 300 hingga 500 gulden. Kendati dijanjikan jabatan turun-temurun para bupati dalam praktik bisa dipecat dan dibuang setiap saat. Sejak 1870 ketika perkebunan besar diambil alih swasta, pangreh praja (binenland bestuur) praktis kehilangan otoritas sebagai mandor perkebunan.
Hindia Belanda semakin ketat mendisiplinkan aparaturnya. Perkawinan bupati dengan istri kedua, ketiga, dan seterusnya tidak diusik, kecuali bila sang istri berasal dari kalangan bangsawan kraton. Di mata Belanda, putri kraton karena terbiasa hidup hedonis, membuat kobol-kobol anggaran belanja bupati.
Para bupati gemar mengambil istri kalangan bangsawan karena mendongkrak status mereka di depan rakyat sekaligus Belanda.
Tidak cukup hanya dengan mengontrol perilaku kawin-mawin, para pejabat binenland bestuur juga dituntut tidak fanatik beragama karena fanitisme dipandang bisa memotivasi perlawanan terhadap kolonialisme. Priyayi sekuler yang suka mendem ciu (minuman beralkohol) dan memelihara anjing lebih mudah naik pangkat ketimbang priyayi fanatik. Ketatnya kontrol Belanda atas pegawai pangreh praja itulah sebenarnya yang melatarbelakangi konflik antara Brotodiningrat dan Residen JJ Donner. Brotodiningrat korban kebijakan pengetatan ikat pinggang.
Kolonialisme Belanda bisa bergentayangan di Jawa diakibatkan lemahnya struktur ekonomi dan finansial penguasa pribumi. Kolonialisme beroperasi terutama bukan melalui operasi militer melainkan lewat perjanjian dengan penguasa tradisional. Jumlah aparat VOC dan tenta ra Hindia Belanda tidak banyak. Namun, struktur permodalan VOC dan Hindia Belanda lebih kuat.
Ketika Mataram jatuh dikudeta Trunojoyo pada 1678 pemadaman pemberontakan dan perebutan kembali keraton dibiayai VOC. Organisasi dagang - oleh bangsa Belanda dijuluki marked the start of the world-wide orientation of the Netherlands and a periode of great economic and cultural growth - cukong terbesar kerajaan-kerajaan Jawa. Nyaris seluruh konsesi dan wilayah kekuasaan VOC diperoleh lewat kontrak bukan operasi militer. Dengan demikian, kekuatan ekonomi yang digunakan VOC untuk mendominasi dan menghegemoni Jawa. Hanya Sultan Agung yang berani melawan VOC sampai ke Batavia.
Kendati VOC sukses melakukan monopoli dan mematikan pedagang pribumi, bukanlah perseroan yang sehat. Gaji pegawainya sangat rendah. Korupsi melanda di semua tingkat pegawai. Suap-menyuap dilakukan untuk mendapatkan jabatan sampai strategis di perseroan itu.
Pegawai VOC melakukan pungli untuk pengangkatan lurah hingga bupati. VOC dinyatakan pailit sejak 31 Desember 1799 karena birokratnya bermental bejat sulit diperbaiki. Seluruh aset dan utang-utangnya diambil alih Hindia Belanda.
Hindia Belanda bisa bertahan lebih dari seabad sebelum digulung fasisme Jepang karena administrasinya lebih bersih. Menurut Onghokham korupsi yang merajalela pada era VOC bisa diminimalkan pada masa Hindia Belanda (1804-1942). Hindia Belanda merupakan negara modern pertama di Asia yang didirikan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal van den Bosch. Birokrasi, aset ekonomi, tata hukum, dan wilayahnya pada 17 Agustus 1945 diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pengajaran sejarah yang menyebut bangsa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun jelas keblinger. Penjajahan Belanda efektif hanya berlangsung sepanjang 108 tahun. Masa penjajahan yang dilebih-lebihkan sejak saudagar rempah Charles de Houtman terdampar di Banten pada 1596 dalam pelayaran menuju Maluku justru membenarkan ungkapan bangsa Indonesia "berjiwa budak dan bermental kerdil".
Meskipun Hindia Belanda tidak korup bukan berarti kesejahteraan rakyat Bumi Putera diprioritaskan. Kasus perkebunan gula menjadi preseden buruknya. Perkebunan gula di Jawa oleh Hindia Belanda diibaratkan sebagai "gabus tempat pulau jawa mengapung di atas laut" (de kurk waarop Java dreef).
Ekspor gula dari Jawa merupakan seperempat dari total penghasilan Hindia Belanda. Perkebunan dan industri gula yang menjadi tulang punggung ekonomi kolonial, baik bagi Hindia Belanda maupun pengusaha swasta, sebenarnya merupakan beban berat bagi petani.
Gula menjadi sebab utama pemiskinan (ploretarisasi) petani sawah di Jawa. Pajak tanah dalam bentuk uang diganti dengan wajib kerja petani di perkebunan. Onghokham berseloroh, "Tidak ada pajak, tetapi keuangan negara justru membengkak lebih besar" (halaman 141-145).
Minat utama Onghokham memang sejarah petani, priyayi, dan kolonialisme abad ke-19. Priyayi dan petani (aktor dan korban) dalam sejarah kolonial. Dalam buku ini Ong juga membahas masalah premanisme (blater, weri, bromocorah), nasionalisme, politik militer, mitos kekuasaan, gelandangan, dan manipulasi sejarah.
Jasa Ong terbesar, menurut Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI, menampilkan masa lampau bangsa Indonesia di media massa. Korupsi yang merajalela pada era VOC bisa diminimalkan pada masa Hindia Belanda karena ada kemauan politik yang kuat.
Korupsi yang berketiak ular justru di zaman reformasi membuktikan bahwa peme-rintahan Megawati memang bersimpuh dan diperbudak korupsi (tidak berkemauan buat memberantasnya).
Setali tiga uang dengan keresahan petani yang mewabah menjadi pemberontakan di Jawa abad ke-19, misalnya, gerakan separatisme di Aceh dan Papua berakar pada ketimpangan struktural. Tuntutan akan rasa keadilan dijawab dengan menggelar operasi militer (pemadaman pemberontakan).
Premanisme politik yang dikerjakan aparat resmi maupun partai politik dulu juga dilakukan penguasa kolonial untuk meneror para petani, agar mau bekerja di perkebunan. Onghokham melihat masa sekarang dengan bercermin pada masa lalu dan meneliti masa lampau untuk kebaikan masa depan. Tulisan Ong memperlihatkan proses-proses sejarah yang senantiasa berulang (histoire se repete).
J SUMARDIANTA
Last modified: 29/8/03

Selasa, 08 Januari 2008

Resensi Jawa Pos Minggu, 18 Februari 2007

Resensi Jawa Pos Minggu, 18 Februari 2007
Tesaurus, Membuat Bahasa Jadi Segar
Oleh : J. Sumardianta
Judul Buku : Tesaurus Bahasa Indonesia Penulis : Eko Endarmoko Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan : I, Desember 2006 Tebal : xxi + 715 Halaman
SALAH satu fungsi kamus pepatah untuk menyegarkan arah simpul gagasan tanpa membuang waktu. Pun dapat dipakai untuk membangkitkan kembali ingatan, mencari acuan perluasan bacaan, dan membantu mengurai kerumitan pikiran atau pandangan. Ambil contoh, misalnya, pepatah ’’bagai menghalau kambing ke air’’ yang mengandung arti memaksa seseorang melakukan suatu pekerjaan yang tidak disukainya. Atau pepatah ’’ular kobra biasanya tidak menggigit sekali’’ untuk menggambarkan betapa penderitaan itu biasanya datang secara beruntun. Misalnya, hujan deras yang mendatangkan banjir bandang, tanah longsor, eksodus pengungsian, dan lumpuhnya kegiatan ekonomi di Jabodetabek. Lain lagi fungsi kamus sinonim (padanan kata) yang dikerjakan Eko Endarmoko dalam buku Tesaurus Bahasa Indonesia. Tesaurus menghindarkan sastrawan, penulis pidato, penulis teks iklan, wartawan, penyair, esais, prosais, kritikus, novelis, dan lain-lain profesi para perumpaka kata dan peracik bahasa dari pemakaian satu kata yang sama berulang kali dalam satu kalimat atau dalam satu paragraf. Karya tulis dan karangan yang bersungguh-sungguh setali tiga uang ukiran. Prosesnya menuntut kreativitas, ketekunan, inovasi tiada henti, dan kemauan menelisik pelbagai anasir untuk menyantuni kesegaran dan kebaruan. Tukang ngracik ukara dan ngrumpaka basa sekarang terbantu dengan dipublikasikannya kamus Tesaurus Bahasa Indonesia ini. Kekayaan sinonim dalam kamus ini didata dengan rapi jali tertib dari seronok. Tesaurus membuat diksi bahasa dan langgam bertutur menjadi indah menari-nari. Perhatikanlah penggunaan lema (entri) luluh-lantak, pertikaian, dan boyak dalam paragraf pembuka yang memikat (eye catching) dari sebuah karangan berikut ini: ’’Serentak begitu percikan kekerasan menyala di sebuah republik, pamong praja pun jatuh dalam kebingungan, rakyat terjerumus dalam ketakutan, dan pemerintah boyak tanpa arah. Hukum tidak lagi dipatuhi, ekonomi mandek, ikatan keluarga luluh lantak, dan kehidupan mencari tempat dan atmosfernya di jalanan. Segala sesuatu kacau dan berantakan disapu malapetaka dahsyat. Masyarakat, terlempar ke dalam situasi moral muram, tidak lagi peduli derajat sosial dan kekayaan. Mereka yang menguburkan sesamanya kemarin adalah mereka yang dikuburkan hari ini. Anak-anak terpisah dari orang tua. Orang putus asa dan kehilangan keberanian. Mereka hanya menjumpai pertikaian dalam setiap langkahnya. Setiap tanda belas kasih jadi membahayakan.’’ Luasnya perbendaharaan kata berkat penguasaan tesaurus tampak juga dalam paragraf sebuah tubuh tulisan menggemaskan berikut. Tulisan ini enak dibaca karena mengganti kosa kata orang miskin dengan kaum paria, keserakat, kecingkrangan, jelata, rudin, rombeng, dan dekil.** *) J. Sumardianta, guru SMA Kolese de Britto Jogjakarta